
Flashback on
Selesai Bagas dan Rio berbincang-bincang di Cafe mereka memutuskan pulang kerumah Papa Bimo. Rio menyuruh Bagas untuk datang lagi kerumah Papa besok pagi, tetapi Bagas tidak mau ia tetap kekeh ikut Rio ke rumah Papanya. Ia akan lebih berusaha lagi untuk membujuk Papanya.
Sampainya di rumah Papa Bimo, saat akan masuk kedalam rumah Papa Bimo sudah berdiri tegak di depan pintu sembari melipat kedua tangannya di dada dengan menatap tajam Bagas.
"Buat apa lagi kamu kesini?!" Tanaya Papanya dengan nada datar dan serius.
"Pa Bagas mohon beri Bagas kesempatan."Jawabnya dengan wajah memelas.
"Kesempatan untuk apa?! Tanya Papanya kembali masih dengan nada datar.
"Kesempatan untuk bisa bersama dengan istri dan anak Bagas Pa. Beri Bagas kesempatan untuk menebus semua kesalahan Bagas dan berikan Bagas kesempatan untuk membahagiakan mereka. Bagas mohon maafin Bagas Pa.." Jawabnya.
"Kalau Papa tidak mau gimana?! Lagian kamu sudah tiga tahun meninggalkan mereka. Kamu tidak mempunyai hak lagi. Papa akan mencarikan laki-laki dan Papa yang terbaik untuk mereka, tapi setelah kalian pisah!" Ucap Papa Bimo sembari tersenyum miring melihat ekspresi wajah takut anaknya Bagas setelah ia mengatakan itu.
Bagas langsung berlutut di depan Papanya. Ia tidak mau pisah dari istri dan anaknya sampai kapan pun ia tidak akan mau bercerai dari istrinya. Tapi Bagas tahu Papanya bisa melakukan apapun.
"Pa Bagas mohon jangan pisahkan Bagas dengan mereka. Sampai kapanpun Bagas tidak akan mau menceraikan Zahra, Bagas tidak akan biarkan laki-laki manapun mendekati Zahra dan gak akan Bagas biarkan laki-laki lain menjadi Papa Gavin selain Bagas sendiri Papa kandungannya! Pa Bagas tahu Bagas salah, tapi Bagas mohon jangan pisahkan Bagas dari mereka. Bagas gak akan sanggup Pa..! Papa tega pisahkan Gavin dengan Papa kandungnya?! Pa Bagas mohon.." Ucap Bagas yang terus memohon pada Papanya.
Papa Bimo menghela napasnya, kemudian ia menarik lengan Bagas agar ia berdiri. Papa Bimo menatap lama Bagas, ia sebenarnya juga tidak tega dengan anaknya tapi Papa Bimo masih kecewa dengan anaknya. Apalagi dengan menantu dan cucunya, ia lebih-lebih tidak tega lagi, mungkin memang sudah saatnya mereka kembali bersama setelah tiga tahun mereka berpisah.
"Oke Papa kasih kamu kesempatan." Ucap Papa Bimo datar. "Ini demi Zahra dan juga Gavin, Papa tidak mau mereka sedih. Tapi Papa belum maafkan kamu!" Tambah Papanya lagi, kemudian Papa Bimo pergi gitu aja ninggalin Bagas yang berdiri di depan pintu.
Sedangkan Rio yang dari tadi mendengarkan mereka, hanya bisa tersenyum.
__ADS_1
"Lo tenang aja, Papa gak akan lama marah sama Lo. Ya uda gue masuk duluan yah, gue Uda ngantuk." Ucap Rio lalu ia berjalan masuk kedalam rumah. "Oh iya Zahra dan Gavin tidur di kamar lo." Ucap Rio lagi yang menghentikan langkahnya. Kemudian Rio kembali melangkah menuju kamarnya yang ia yakin saat ini istrinya Sheina dan putri cantiknya sudah tidur.
Setelah Rio masuk ke kamarnya, Bagas baru mulai melangkah menuju kamarnya. Saat ini Bagas Uda memegang gagang pintu kamarnya. Jantungnya berdetak kencang saat ingin masuk kedalam kamarnya, Bagas menghembuskan nafasnya kemudian perlahan ia membuka pintu kamarnya. Air mata Bagas seketika mengalir gitu aja saat melihat Zahra istrinya dan juga Gavin anaknya tengah tidur di atas ranjang. Bagas pun mendekati ranjang kemudian ia duduk di tepi ranjang tepat di samping anaknya ia menatap anak begitu dalam sembari tangannya mengelus rambut Gavin.
"Maafin Papa sayang, Papa sempat tidak mau melihat kamu saat kamu lahir dulu." Ucap Bagus sedih kemudian ia mengecup kening anaknya lembut agar tidak membangun Gavin anaknya. Bagas lalu beranjak menuju sisi ranjang satunya dimana istrinya tidur, Bagas mendekat ke Zahra di pandang wajah istrinya, ia tersenyum melihat istrinya semakin cantik. Sampai kapan pun ia tidak akan melepaskan istrinya untuk orang lain. Bagas mencium kening istrinya dengan lembut ia juga mengelus wajah istrinya, kemudian ia merebahkan tubuhnya di samping istrinya dan memeluknya, ia tak perduli kalau Zahra terbangun nanti istrinya akan marah padanya. Ia hanya ingin tidur sembari memeluk istrinya yang sudah sangat ia rindukan. Tidak berapa lama Bagas pun tertidur karena menangis membuatnya leleh dan ngantuk.
Flashback off
Selesai sholat subuh berjamaah, Bagas kembali tidur di samping anaknya Gavin. Sedangkan Zahra memilih pergi ke dapur membantu para pelayan di rumah mertuanya. Hari ini Zahra sangat bahagia ia sudah kembali bersama sang suami. Senyum di bibirnya tak pernah pudar dari ia selesai sholat subuh tadi. Mulai sekarang Zahra akan bersikap lebih dewasa lagi, jika terjadi masalah lagi didalam rumah tangganya ia akan bertanya dan menunggu penjelasan dari sang suaminya terlebih dahulu, ia tidak ingin terulang kembali kejadian kecelakaan itu.
"Ehemm." Suara deheman yang mengejutkan Zahra lagi sibuk memasak di dapur.
"Sepertinya hari ini ada yang bahagia, dari tadi Shein perhatikan senyum manis mbak Zahra gak pudar dari tadi." Ujar Sheina tanpa Zahra sadari dari tadi memang Sheina memperhatikan Zahra yang lagi duduk di meja makan, yang menurutnya pasti Kakak iparnya itu tidak tahu atau tidak melihat kalau Sheina sedang duduk di meja makan.
"Sejak kapan kamu disini Shein?" Tanya Zahra yang tiba-tiba saja Shein Uda ada di dapur dan mengejutkannya.
"Uda dari tadi mbak.. Shein juga tahu kalau mbak masuk ke dapur sambil senyum-senyum sendiri." Jawab Sheina tersenyum melihat wajah merah merona Zahra karena malu.
"Kok aku gak lihat kamu Shein?" Tanyanya malu-malu karena Shien melihatnya jalan ke dapur senyum-senyum sendiri.
"Hahaha.. Gimana mau lihat, wong jalan gak lihat kanan kiri." Jawabnya. "Cie..yang hatinya lagi berbunga-bunga.." goda Shein sembari tersenyum gemas melihat wajah malu kakak iparnya.
"Uda dong Shein malu tau..!
__ADS_1
"Hahaha.. tadi gak malu tuh! Kok sekarang jadi malu.." Goda Shein lagi.
"Shein..." Panggil nya.
"Iya mbak.." jawab Shein yang masih tersenyum menggoda kakak iparnya. Kemudian Zahra menatap tajam Sheina yang masih terus menggodanya.
"Hahaha.. Iya.. iya mbak Sheina gak goda mbak lagi." Ucapnya setelah mendapat tatapan tajam dari Zahra. "O iya mbak, kak Bagas mana?" Tanya Sheina yang sudah berhenti menggoda Zahra.
"Ada di kamar lagi tidur sama Gavin, tadi sehabis sholat subuh dia balik tidur lagi." Jawab Zahra.
"Apa mbak sudah maafin Kak Bagas?" Tanyanya lagi.
"Uda Shein.. Lagian aku gak pernah marah dengan mas Bagas." Jawabnya jujur, yang memang dirinya tidak pernah marah pada suaminya.
"Walaupun mbak Uda di tinggal dengan kak Bagas selama tiga tahun?!
"Iya Shein..." Jawabnya tersenyum Sembari menatap Sheina.
"Ya Allah mbak baik banget. Tapi Shein bersyukur kalian Uda kembali bersama lagi setelah tiga tahun mbak di tinggal kak Bagas ke London. " Kak Bagas sangat-sangat beruntung bisa berjodoh dengan mbak Zahra. Sheina doakan setelah ini rumah tangga kalian baik-baik saja tidak ada lagi pengganggu di kehidupan kalian. Aamiin.." Tambahnya lagi mendoakan hubungan kakaknya.
"Aamiin.." Balasnya. " Ya uda, Shein Panggil Papa, Mama dan Kak Rio sama Keela juga untuk sarapan. Pelayan sudah nyiapin sarapan kita di meja makan. Aku mau bangunkan mas Bagas dan Gavin dulu." Ucapnya pada Sheina.
"Oke." Jawabnya sembari jalan menuju kamar untuk membangunkan Papa, Mamanya juga suami dan anaknya.
Zahra pun langsung menuju kamar untuk membangunkan dua laki-laki tampan kesayangannya.
__ADS_1