
Warning 21+
Zahra membuka matanya, ia ingin membuang sesuatu yang menurutnya harus di buang ke kamar mandi. Saat ingin beranjak dari ranjang ia merasakan perutnya terasa berat seperti ada yang menimpah perutnya. Zahra melihat ke arah perut, ada tangan kekar yang melingkar di perutnya lalu ia melihat ke samping ternyata ada pria tampan yang sedang tidur nyenyak sembari memeluk nya. Zahra pun tersenyum melihat pria tersebut. Zahra sangat merindukan sosok pria tampan di sebelahnya. Kemudian Zahra meletakkan tangannya ke wajah suaminya. Ya pria tampan yang memeluknya siapa lagi kalau bukan suaminya Bagas.
Zahra mengelus seluruh wajah suaminya yang sangat di rindukannya, karena sudah lima hari ia tidak bertemu, mereka hanya melakukan panggilan video saja, itu pun hanya beberapa kali saja. Karena suaminya sedang sibuk.
Bagas membuka matanya merasa ada yang menyentuh wajahnya. Ia pun tersenyum setelah membuka mata ternyata istri imutnya yang sudah mengusik tidur nyenyak nya.
Mata mereka bertemu. Bagas dan Zahra terus saling tatap, mata mereka mengisyaratkan rasa rindu yang begitu besar di antara mereka berdua. Tanpa aba-aba Bagas langsung mencium bibir istrinya yang sudah sangat ia rindukan. Bagas dengan lembut mencium bibir istrinya.
Ciumannya semakin menuntut, Zahra pun membalas ciuman dari suaminya ia juga begitu rindu pada Bagas suaminya. Bagas sampai tidak mau untuk melepaskan tautan bibirnya dengan istrinya.
"Mas.." panggil Zahra sembari berbisik.
"Iya sayang.." Jawab Bagas. "Mas kangen banget sama kamu sayang, please jangan minta mas untuk berhenti.."
"Tapi Zahra mau ke kamar mandi dulu mas.. Zahra mau buang air kecil, Uda gak tahan lagi mas.."
"Oke jangan lama-lama ya sayang..? uda lima hari mas gak ada nyentuh kamu.." Ucap Bagas yang terpaksa melepaskan istrinya untuk ke kamar mandi. Zahra jalan ke kamar mandi sembari tersenyum malu-malu karena mendengar ucapan dari suaminya Bagas.
Selesai dari kamar mandi Zahra kembali naik ke atas ranjang dan tidur di samping suaminya.
"Mas jam berapa sampai rumah? Mas kok gak ada kasih tau Zahra kalau pulang malam ini?" Tanyanya.
"Mas sampai rumah setengah dua belas malam. Mas sengaja gak kasih tau kamu sayang.. mas mau buat kamu terkejut, biar kamu lihat tau-tau mas sudah ada tidur disamping kamu sambil peluk kamu.." Jawab Bagas sembari ia beranjak dan kini Bagas sudah berada di atas tubuh istrinya.
"Kok gak ada bangunin aku mas?"
"Kan tadi Uda mas bilang, emang sengaja biar saat kamu bangun kamu terkejut lihat mas Uda ada di samping kamu. Lagian mas gak tega mau bangunkan kamu sayang, bidadari mas tidurnya nyenyak banget sampai mas geser tubuh kamu biar lebih dekat dengan mas, tapi kamunya gak bangun tuh." Jawabnya sembari mengelus pipi lembut istrinya yang sedikit membiru tersebut. "Sayang apa mas boleh tanya sesuatu sama kamu?"
"Emangnya mas mau tanya apa sama Zahra?"
"Pipi kamu biru sampai kaya gini kenapa? Ayo cerita sama mas. Mas ingin langsung dengar dari kamu dan mas mau kamu jawab dengan jujur."
"Mas sebenarnya ini?" Ucapnya terhenti agak sedikit takut untuk jujur sama sang suami. Tanpa Zahra kasih tau pun sebenarnya Bagas sudah mengetahuinya. Hanya saja Bagas ingin mendengar nya langsung dari mulut istrinya.
"Iya sayang pipi kamu kenapa?"
__ADS_1
"Mas ini di..di tampar oleh Bu Sonya mas.."
Bagas menghela nafasnya panjang, mendengar jawaban dari istrinya.
"Sayang kali ini jangan cegah mas untuk memecat Sonya. Mas gak mau dengar kamu bilang kasian sama dia kalau dia mas pecat. Kali ini Sonya Uda keterlaluan sama kamu, dia Uda ngelakuin tindakan kekerasan sama kamu. Kamu pilih mana sayang? dia mas masukan kedalam penjara atau dia mas pecat dari Perusahaan?"
"Kalau bisa jangan keduanya mas.."
"Maafin mas kali ini permintaan kamu gak bisa mas kabulkan. Mas akan pecat dia dari kantor."
"Tapi ma..-" Ucapannya terhenti karena Bagas sudah mencium bibir istrinya dengan lembut. Bagas terus mengecup bibir istrinya yang sudah membuatnya kecanduan.
Bagas kemudian memghentikan tautan bibirnya, untuk mengambil nafas. Zahra sedikit terkejut saat merasakan milik suaminya yang sudah on dibawah sana.
"Sayang mas menginginkan kamu?" Bisik Bagas sembari mengecup leher jenjang istrinya dan tak lupa ia meninggalkan tanda merah di leher istrinya.
"Mas.." Zahra mulai mendesah saat kecupan Bagas semakin turun ke bawa. Dengan cepat Bagas membuka satu-persatu pakaian yang mereka kenakan, hingga tidak ada lagi kain yang ada di tubuh mereka.
Mereka kini sudah menyatu dengan begitu indahnya. Begitu lama mereka larut dalam indah nya percintaan mereka berdua. Hingga akhirnya keduanya sama-sama mendapatkan pelepasan yang entah sudah berapa kali.
Selang beberapa menit Bagas kembali mengulangi kegiatan panas mereka. Bagas benar-benar tidak memberikan istrinya untuk istrahat. Bagas benar-benar menggila saat ini, lima hari dirinya tidak bisa menyentuh istrinya karena berada di Bali. Membuat Bagas frustasi dibuatnya. Setengah jam Bagas baru selesai saat mendapatkan pelepasannya kembali. Setelah sampai beberapa ronde kegiatan yang mereka lakukan. Keduanya baru tertidur karena kelelahan.
Setengah jam Zahra selesai mandi, kemudian Zahra keluar dari kamar mandi lalu masuk ke walk in closet untuk mengambil pakaian. Selesai mengenakan pakaiannya Zahra keluar dari walk in closet, ia ingin keluar dari kamar untuk membuat sarapan untuk mereka berdua. Zahra melihat suaminya masih tidur begitu lelap, dengan rambut yang berantakan tapi tidak mengurangi ketampanannya, bahkan mala terlihat menggemaskan menurut Zahra.
Hari ini hari Sabtu dan kantor libur. Jadi Zahra tidak mau membangunkan suaminya. Iya yakin pasti hari ini Bagas suaminya sangat lelah. Karena habis pulang dari Bali di tambah malam tadi mereka melakukan kegiatan yang menguras tenaga yang entah berapa kali mereka melakukannya. Kalau di tanya Zahra lelah atau tidak? dan jawaban iya Zahra sangat lelah, tubuhnya serasa remuk akibat suaminya yang tidak memberikan kesempatan untuk istrahat sebentar saja.
Selesai melihat dan memperhatikan suaminya Zahra jalan menuju pintu kamar sembari membawa pakaian kotor untuk meletakkan nya di ruang cuci pakaian. Saat hampir sampai ke pintu kamar sekilas Zahra seperti melihat sesuatu yang indah menurutnya yang terletak di meja dekat sofa. Ia berjalan mendekati sesuatu yang indah itu.
Zahra yang melihat bunga di atas meja langsung tersenyum manis. Bahagianya dia di kejutkan dengan kedua bunga yang berbeda itu. Inilah bunga pesanan Bagas, yang menyuruh supirnya untuk membelikannya bunga tersebut ke langganan toko bunga Mamanya. Dan tidak hanya ada bunga saja di meja. Ada beberapa kotak di dalam paper bag yang belum tahu apa isinya.
Sedang asik memandang cantiknya kedua bunga tersebut, Zahra di kaget dengan sebuah tangan yang melingkar di pinggangnya. Tapi Zahra tau tangan siapa yang berada di pinggangnya, siapa lagi kalau bukan suami tampangnya.
"Mas..." panggil Zahra
__ADS_1
" Iya sayang.. Apa kamu suka bunga nya hmm?" Tanya Bagas sembari mengecup leher jenjang istrinya dari belakang yang memang tidak mengenakan hijab nya.
"Suka banget mas.. bunganya indah dan cantik banget." Jawabnya sembari tersenyum terus melihat bunga tersebut.
"Alhamdulillah kalau kamu suka dengan bunganya." Ucapnya. Lalu ia melepaskan pelukannya dari istrinya dan bergeser untuk mengambil paper bag di atas meja. "Ini ada sesuatu mas belikan untuk kamu. Mas mau kamu memakainya di acara ulang tahun Perusahaan malam nanti." Tambahnya kemudian Bagas menunjukan hadiah yang ia beli untuk istrinya.
Sebuah jam tangan beserta gelang dan satu lagi cincin. Zahra yang melihat itu pun terkejut ia sampai tidak bisa berkata apa-apa. Suaminya sangat mengejutkan dan romantis menurutnya dengan memberikan ini semua kepadanya.
"Sayang gimana kamu suka?" Tanya Bagas. "Sayang kok mala bengong.." ucap Bagas sembari menarik hidung istrinya yang masih juga bengong.
"Eh iya sayang.." Ucapnya terkejut karena Bagas suaminya menarik hidungnya. "Mas ini beneran untuk aku?"
" Iya sayang ini untuk kamu, jadi mau untuk siapa lagi kalau bukan untuk bidadarinya mas."
Mendengar jawaban dari suaminya, membaut nya malau dan wajahnya udah merah merona.
"MasyaAllah mas ini cantik banget."
"Apa kamu suka sayang?"
"Suka banget mas. Makasih ya mas.." Ucapnya sembari meluk suaminya kemudian Zahra mengecup pipi dan bibir suaminya. "Tapi mas apa ini gak terlalu berlebihan?"
"Gak dong sayang.. ini masih belum seberapa sayang."Jawab Bagas. Kamu tenang aja dengan membeli ini semua, gak akan membuat Perusahaan bangkrut dan uang mas habis." Ucapnya lagi sembari kembali memeluk istrinya dengan sayang. Dan dibalas pelukannya dengan Zahra.
"Ck! Dasar sombong." Ucapnya yang kemudian mencubit perut suaminya.
"Aduh sakit sayang.."Jawab Bagas. " Kalau kita banyak uang bolehkan kita sedikit sombong..?" ucapnya tertawa saat mengucapkan itu kepada istrinya.
"Iya deh terserah mas aja."
"Sayang mas mandi dulu ya, abis itu kita langsung aja pergi ke hotel Ayah. Jangan lupa bawa semua keperluan kita. Soalnya kita langsung bersiap-siap dari sana mas Uda nyuruh Rio untuk sewa kamar satu untuk kita. Supaya kita tidak bolak-balik dari rumah ke hotel."
"Tapi mas Zahra siapin sarapan dulu ya?"
__ADS_1
"Enggak usah sayang, nanti kita makan langsung di Restauran hotel aja.." Teriak Bagas yang sudah berada di pintu kamar mandi.
"Oke mas."