
Bagas sudah sampai di ruangan Marketting. Ia langsung menuju kemeja istrinya. Karyawan yang berada di ruangan tersebut terkejut dengan kedatangan CEO di ruangan mereka. Kemudian mereka menyapa Bagas sembari menunduk hormat. Bagas hanya menjawab menganggukkan kepalanya tanpa tersenyum. Tidak seperti biasa yang selalu mudah tersenyum ke pada karyawan nya.
Lisa yang melihat ekspresi wajah datar Bosnya itu pun yakin bahwa ada masalah antara Bosnya dan Zahra. Sampainya di meja Zahra, Bagas melihat istrinya tengah mengetik sesuatu di komputer. Zahra belum menyadari Bagas yang sudah berada di depannya mejanya.
Bagas kemudian jalan ke samping kursi yang Zahra duduki, lalu Bagas berjongkok di samping Zahra. Tiba-tiba Zahra terkejut melihat Bagas yang sudah ada disampingnya, bahkan Bagas tak lagi jongkok melainkan sudah duduk di lantai. Ia tidak malu dengan karyawan yang melihat dirinya duduk di bawa.
"Sayang mas minta maaf.. kenapa telpon dari mas gak di angkat, pesan dari mas juga gak di balas." Ucap Bagas sembari memegang kedua tangan Zahra. "Kamu marah sama mas, karena sikap mas tadi pagi sama kamu? sayang jawab mas, kok kamu diam aja.." Bagas menatap Zahra yang tak mau menatap kearahnya. Ada rasa sesak di dadanya melihat istrinya yang tak mau menatapnya.
Sebenarnya Zahra bukannya tidak mau menatap wajah suaminya, hanya saja saat ini ia rasanya mau menangis melihat suaminya yang mau datang keruangannya untuk minta maaf, apalagi suaminya tidak malu duduk di lantai sembari meminta maaf.
"Sayang mas benar-benar minta maaf sama kamu, please sayang jangan diamin mas, lebih baik kamu marahin mas, pukul mas tapi jangan mendiamkan mas seperti ini sayang.." Ucap Bagas sembari mencium kedua tangan Zahra. Tak terasa air mata Bagas lolos gitu saja, ia sedih istrinya tak mau bicara dengannya. Dia juga gak tahu pada dirinya sendiri, kok bisa seperti ini. Padahal ia gak pernah menangis soal wanita. Tapi sejak bersama Zahra Bagas menjadi pria yang melow.
Zahra terkejut, karena ia merasakan tangannya seperti terkena tetesan air. Zahra pun menoleh kearah suaminya, saat yang bersamaan Bagas juga menatap Zahra. Ia melihat suaminya mengeluarkan air mata dan terdengar isakan kecil dari Bagas.
"Mas mohon sayang maafin mas.." Ucapnya yang terus meminta maaf pada istrinya. Bagas belum mau beranjak dari lantai karena belum mendapatkan maaf dari istrinya.
"Apa Zahra ada salah sama mas, sehingga mas mengabaikan dan ninggalin Zahra saat di mobil tadi? Bahkan Zahra belum ada cium tangan mas.." Ujar Zahra pada Bagas sembari menatap mata suaminya yang masih ada sisa air matanya. Bagas semakin ngerasa bersalah mendengar ucapan istrinya. Saat marah saja Zahra masih mengingat kalau istrinya belum ada mencium tangannya.
"Gak sayang.. kamu gak ada salah. Mas yang salah uda ninggalin kamu di mobil gitu aja. Please sayang maafin mas ya.. Maaf tadi mas langsung pergi dari mobil ninggalin kamu, soalnya mas lagi kesal sama kamu yang terus mempermasalahkan sikap karyawan ke kamu, karena kamu istri dari CEO. Maaf, mas benar-benar minta maaf sayang.."
Zahra terus menatap suaminya yang terus minta maaf padanya. Kemudian Zahra menghapus sisa air mata suaminya dengan lembut dan sayang.
"Zahra maafin mas kok.." Ujar Zahra sembari tersenyum manis pada suaminya. Ia tidak tahan lama-lama mendiamkan suaminya.
__ADS_1
"Makasih, makasih banget sayang... maafin mas ya? Mas sayang kamu banget." Ucapnya sambil mencium tangan istrinya.
"Iya mas Zahra maafin. Zahra juga sayang banget sama mas."
Kemudian Bagas dan Zahra sama-sama tersenyum, saling menatap dengan penuh cinta. Semua itu tak luput dari pandangan wanita yang ingin keluar dari ruangannya. Siapa lagi kalau bukan Sonya, ia sangat iri dengan Zahra yang begitu di cintai oleh Bagas.
"Ya uda Yo kita makan siang, Uda waktunya istirahat." Ajak Bagas pada Zahra.
"Ayo.." Zahra pun langsung menyusun berkas-berkas yang ada di mejanya. Kemudian mereka beranjak dari meja Zahra ingin keluar dari ruangan Marketting. Bagas lalu menggenggam tangan istrinya begitu erat. Seakan takut istrinya akan pergi meninggalkan nya. Zahra tak lupa berpamitan dengan kedua sahabatnya.
Saat mereka berdua mau keluar ruangan, mereka bertemu Sonya sedang berdiri di depan pintu ruangan nya. Zahra hanya tersenyum menatap Sonya, sedangkan Bagas menunjukkan wajah dingin dan datar pada Sonya.
Giliran kamu entar Sonya. Siap-siap aja kamu akan saya pecat dari Perusahaan, Uda terlalu banyak kamu membuat masalah. Apalagi kamu Uda nampar Zahra sampai pipinya memar. Gumam Bagas dalam hati.
Di ruangan Rio, Sheina masih merapikan mejanya karena mereka berniat akan makan siang di luar. Sedangkan Rio yang masih duduk di kursinya, seperti orang gila yang senyum-senyum sendiri sembari terus menatap wajah cantik Sheina yang sedang merapikan mejanya.
Setelah selesai merapikan mejanya, Sheina kemudian menoleh ke arah Rio, sembari tersenyum menatap Rio. Senyum Sheina pun dibalas oleh Rio, dirinya menatap mata Sheina begitu dalam. Rio melihat dimatanya Sheina hanya ada tatapan cinta yang tulus untuk dirinya. Melihat itu, membuat Rio semakin sayang dan jatuh cinta pada Sheina. Kemudian Rio mengajak Sheina keluar ruangan untuk makan siang.
"Sayang kita mau makan siang dimana nih?" Tanya Rio ke Sheina.
"Kita makan siang di Cafe depan aja ya kak?"
__ADS_1
"Oke"
Rio dan Sheina sudah berada di lobby, mereka berdua keluar gedung menuju Cafe yang berada di seberang tepat depan gedung Perusahaan WILLIAMS GRUP. Rio dan Sheina lebih memilih jalan kaki dari pada naik mobil, karena tidak terlalu jauh. Tapi kalau naik mobil makin jauh karena harus putar balik dulu. Saat sudah di jalan Rio langsung menggenggam tangan Sheina, ia tidak mau terjadi apa-apa pada Sheina saat menyeberang jalan. Setelah sampai Cafe mereka pun langsung memesan makanan.
"Kak entar malam kamu jadi ke rumah Papa?" Tanya Sheina.
"Jadi dong sayang.." Jawab Rio. "Sayang, kakak gak mau keduluan sama yang lain. Entar malam kakak akan langsung melamar kamu di depan semua keluarga kita." Ucap Rio sembari mengelus rambut Sheina yang duduk tepat di sampingnya.
"Kakak yakin? Gimana kalau Papa gak setujuh dengan hubungan kita?" Tanya Sheina.
"Kamu tenang ya sayang, kakak akan terus berusaha meyakinkan Papa agar menyetujui dan merestui hubungan kita. Kamu hanya perlu berdoa semoga aja Papa setujuh. Kakak akan selalu berusaha supaya bisa hidup bersama dengan kamu." Ucapnya sembari mengelus tangan Sheina yang telah di letakkan di atas pahanya. Kemudian Rio mencium tangan Sheina dengan lembut.
"Makasih kak Uda mau berjuang demi Sheina."
"Hei kenapa kamu berterima kasih pada kakak? Seharusnya kakak yang ngucapin terima kasih sama kamu.. karena kamu Uda mau bertahan untuk kakak, dari kamu SMA sampai sekarang. Itu bukan waktu yang sebentar Shein, kamu tetap mempertahankan perasaan kamu ke kakak sampai bertahun-tahun. Dan sekarang saatnya kakak yang akan memperjuangkan kamu." Ucapnya sembari mengecup kening Sheina.
Tanpa Rio dan Sheina sadari, di tempat yang sama dari tadi ada dua orang yang terus melihat Rio dan Sheina. Kedua orang tersebut telah duduk tidak jauh dari Rio dan Sheina. Salah satu dari mereka, sudah sangat kesal, marah, dan juga emosi. Ingin rasanya ia nyamperin Rio dan Sheina dan memberi pelajaran ke Rio. Mungkin kalau saat ini tidak di tahan oleh orang yang di sebelahnya, sudah di pastikan ia akan menghajar nya. Ia sangat marah kenapa Rio tidak mau cerita dan jujur padanya tentang hubungan nya dengan Sheina.
Selesai menyantap makan siangnya di Cafe. Rio dan Sheina akhirnya kembali ke kantor karena jam istrahat sudah hampir selesai. Saat melihat Rio dan Sheina sudah jauh dari Cafe. Baru kedua orang tersebut keluar dari Cafe dan kembali ke kantor.
__ADS_1