
Flashback on
Setelah sadar, Bagas perlahan mulai mengingat Zahra istrinya. Saat itu juga Bagas meminta Daniel untuk memesan tiket untuk ke Jakarta.
"Enggak Bagas Lo harus istrahat dulu sampai kondisi Lo benar-benar fit." Ujar Daniel yang tak menyetujui untuk Bagas pulang ke Jakarta malam itu juga.
"Tapi Niel gue harus balik, gue harus meminta maaf ke istri gue. Uda begitu lama gue ninggalin dia dan anak gue. Anak! Astaghfirullah.. Daniel gue uda punya anak sekarang.. Ya Allah Niel sungguh jahat dan berengsek nya gue uda nyia-nyiain anak gue! please Lo pesan tiket pesawat sekarang juga." Mohon nya pada Daniel. Karena Bagas baru sadar ternyata dirinya sudah memiliki anak yang selama ini ia nantikan olehnya dan istrinya Zahra.
"Oke gini aja, kita tanya sama Dokter dulu Lo boleh keluar dari rumah sakit malam ini apa gak. Kalau kata Dokter iya, gue langsung pesankan tiket buat Lo pulang ke Jakarta." Ujarnya Daniel.
Daniel pun memangil Dokter yang menangani Bagas tadi, untuk mengecek lagi keadaan sahabatnya.
"Pak Bagas sudah sadar? Baik saya periksa lagi. Pak Bagas apa ada keluhan?" Tanya Dokter.
"Hanya pusing sedikit Dok."Jawab Bagas jujur karena memang kepalanya agak sedikit pusing. "Dok apa teman saya bisa pulang hari ini juga?" Tanya Daniel pada Dokter.
"Kalau bisa Pak Bagas malam ini istrahat dulu di sini, besok pagi baru boleh pulang." Jawabnya Dokter itu. "Saya akan kasih resep obat pereda nyeri dan vitamin untuk Pak Bagas. Tapi jika Kepala Pak Bagas setelah minum obat belum juga sembuh Pak Bagas harus datang kembali untuk mengecek kepalanya." Ujar sang Dokter.
"Baik Dok, terimakasi." Ucap Bagas dan Daniel bersamaan.
__ADS_1
Keesokan harinya, pukul 12 siang Bagas sudah berada di Bandara untuk terbang menuju Jakarta. Dengan harapan keluarganya memaafkannya, terutama istri dan anaknya.
Flashback off
"Untuk apa kamu datang lagi kerumah ini?!" Tanya Papa Bimo pada Bagas dengan nada datar. "Lebih baik kamu kembali lagi ke London dan jangan pernah injak kan kaki kerumah ini lagi! Bukanya kamu bilang kamu tidak nyaman di Indonesia, dan bukannya kamu bilang kamu lebih nyaman berada di London..?!" Ucap Papanya masih nada marah ke Bagas.
"Pa Bagas tau Bagas salah. Tapi Bagas mohon Pa kasih Bagas kesempatan, Bagas ingin memperbaiki semuanya. Bagas minta maaf untuk semuanya. Zahra sayang, mas mohon maafin mas yang uda ninggalin kamu dan Gavin selama tiga tahun ini. Sayang mas mohon beri mas kesempatan.." Ucap Bagas meminta maaf.
"Gampang banget kamu minta maaf setelah meninggalkan istri dan anak kamu ke London selama tiga tahun! Kamu tahu Bagas, setiap hari anak kamu menanyakan dimana Papanya, setiap hari anak kamu tanya kapan Papanya pulang kerumah, Gavin kangen Papa, Gavin mau di gedong Papa, Gavin mau di peluk Papa. Itu yang setiap harinya dia bilang ke kami semua! Kamu tahu kenapa dia langsung mengenali mu?! Karena dari bayi setiap harinya Zahra selalu memperkenalkan kamu sebagai Papanya, Zahra selalu menunjukan foto kamu dari Gavin masih bayi walaupun saat itu Gavin belum mengerti! dan mengapa Gavin tidak marah denganmu dan membencimu saat bertemu kamu?! padahal kamu sudah meninggalkan nya bertahun-tahun. Setiap harinya dengan sabar Zahra selalu menjelaskan ke Gavin Papanya dimana, menjelaskan kenapa Papanya belum bisa pulang kerumah! supaya dia tidak marah dan benci sama kamu. Kamu kira menjelaskan itu semua ke anak kecil itu mudah! Apalagi Gavin setiap hari menanyakan tentang Papanya. Begitu sabarnya dan kuatnya Zahra menjalani ini sendiri, membesarkan dan mengurus Gavin sendiri. Semudah itu kamu meminta maaf pada mereka! Apa selama tiga tahun ini gak ada sedikit saja hati nurani kamu untuk tanya kabar mereka! Gak ada Kan?! Asal kamu tahu Bagas, selama kamu koma, Zahra yang selalu merawat kamu, menunggu kamu di rumah sakit, membersihkan tubuh kamu, dengan begitu sabar. Walaupun saat itu Zahra lagi hamil tapi dia tidak pernah mengeluh merawat kamu saat kamu koma. Setelah kamu sadar dari koma, dengan seenaknya kamu pergi ninggalin Zahra gitu saja padahal dia lagi hamil besar. Dan sekarang kamu datang dengan gampangnya meminta maaf! Bahkan saat Gavin lahir, Papa memohon sama kamu pulang ke sini untuk melihat Gavin yang baru lahir! Tapi kamu tidak bisa dan kamu bilang kamu sibuk! Oke memang ini tidak sepenuh nya salah kamu, karena kamu amnesia saat itu. Tapi apa salahnya kamu tetap bertahan disini, Papa yakin saat itu kalau kamu tetap bertahan disini dan sering bersama dengan Zahra, rasa cinta kamu ke Zahra akan datang dengan sendirinya walaupun kamu lupa ingatan. Tapi kamu tetap kekeuh ingin pulang ke London walau kamu sudah melihat bukti kamu pernah menikah dengan istri kamu. Zahra saja mau bertahan menunggu kamu koma selama 6 bulan! Bagas, pada dasarnya yang lupa ingatan itu otak kamu bukan hati kamu! Dan sekarang apa yang Mama kamu ucapkan benar kan..?! kamu menyesal." Ucap Papa Bimo meluapkan emosinya ke Bagas anaknya.
Bagas hanya bisa diam dan menundukkan kepalanya mendengar ucapan Papanya, sembari meneteskan air matanya, ia menyesal sangat-sangat menyesal. Seharusnya ia mendengar ucapan Mamanya saat itu, untuk tetap bertahan disini walaupun dia tidak mengingat istrinya.
"Lebih baik kamu pergi dari sini sekarang. Untuk Zahra Papa akan memperkenalkan dia dengan lelaki yang lebih baik dari kamu, tapi setelah kamu pisah darinya."
"Papa..." Panggil Zahra. Papa Bimo langsung memandang Zahra menantunya sembari tersenyum kecil.
"Papa Bagas mohon, Bagas tidak mau berpisah dari Zahra, sampai kapan pun Bagas gak akan pernah ceraikan Zahra. Sayang mas mohon maafin mas, mas tahu kesalahan mas begitu besar, tapi kasih mas kesempatan sekali aja." Rengek nya terus meminta maaf pada Papanya dan Zahra. "Ayah, Ibu tolong maafin Bagas yang uda nyakitin Zahra, tapi Bagas mohon Ayah, Ibu beri Bagas kesempatan." Ucap Bagas sembari berlutut depan mertuanya agar di berikan maaf.
Ayah Bram menghela napasnya panjang, kemudian menarik tangan Bagas untuk menyuruhnya berdiri. "Ayah maafin kamu nak.." Ujar Ayah Bram. "Ibu juga maafin kamu Bagas. Tapi ibu mohon kali ini jangan pernah buat Zahra dan Gavin menangis, dan buktikan sama kami kamu akan membahagiakan mereka." Ucap Mama mertuanya.
__ADS_1
"Makasih Ayah, Ibu Uda mau maafin Bagas dan ngasih Bagas kesempatan. Insyaallah Bagas akan selalu membahagiakan mereka Ayah, Bu."
Kini Bagas beralih ke Zahra istrinya, Bagas langsung berlutut di depan istrinya, kemudian Bagas meraih kedua tangan istrinya.
"Sayang mas benar-benar minta maaf sama kamu dan juga Gavin. Sayang..-" Ucapannya terhenti karena Papanya menyuruh Bagas untuk keluar dari rumah Papanya segera.
"Rio cepat bawa Bagas keluar! Ucap Papanya dengan nada tinggi.
"Pa please biarkan Bagas ngomong sama Zahra sebentar aja." mohon Bagas pada Papanya. "Pa..." Panggil Bagas lagi.
"Rio...!" Panggil Papanya lagi.
Rio langsung jalan menuju Bagas dan membawa Bagas keluar rumah Papanya.
"Pa kasian mas Bagas, kan mas Bagas sudah minta maaf.." Ucap Zahra pada Papanya.
"Biarkan aja Zahra.. Dan kamu jangan begitu mudah memaafkan Bagas. Kasih dia pelajaran biar tau rasa!" Papanya memberi saran untuk tidak langsung memberikan maaf pada anaknya.
"Tapi Pa kasian mas Bagas.. lagian kalau Papa ngusir mas Bagas, gimana dengan Gavin? Gavin uda begitu senang melihat Papanya uda pulang. Pasti nanti dia mencari Papanya, dia nanti berpikir kalau Papanya bohong padanya Pa? dan dia pasti akan marah sama Papanya." Ucap Zahra
__ADS_1
Papa Bimo menghela nafasnya. "Oke, nanti Papa pikirkan lagi." Ucap Papanya.