CEO Ku Adalah Suamiku

CEO Ku Adalah Suamiku
98. Bab 98


__ADS_3

Saat Zahra masuk kedalam kamar, ia tersenyum melihat dua laki-laki tampan kesayangannya sedang asik bermain dan bercanda sembari tertawa lepas di atas ranjang.


"Papa, Gavin ayo waktunya kita sarapan.." Ucap Zahra sembari jalan nyamperin Bagas dan anaknya ke ranjang. Bagas tersenyum dan hatinya juga menghangat setelah mendengar istrinya memanggil nya Papa.


"Oke Bunda.." Jawab mereka berdua.


"Papa gedong.." Minta Gavin pada Bagas sembari merentangkan tangannya. Dengan senang hati Bagas menggendong anaknya dengan penuh kasih sayang.


"Sayang Papa capek loh, Gavin kan Uda bisa jalan.." Ucap Zahra yang melihat wajahnya suaminya agak sedikit pucat, sepertinya suaminya benar-benar kelelahan. Memang sehabis Sholat subuh tadi Bagas merasakan kepala pusing, makanya ia tidur lagi di samping Gavin anaknya.


"Sayang gak apa-apa, mas malah senang kalau Gavin bisa langsung dekat dan nempelin mas terus." ujarnya.


"Mas kelihatan pucat, apa mas sakit?" Tanya Zahra sembari tangannya diletakkan di kening suaminya. "Astaghfirullah mas kepala kamu panas.. kamu kayanya demam loh." Ucap Zahra kuatir


"Kepala mas emang sedikit pusing sayang.. kita pulang kerumah kita aja yuk sayang.. mas gak enak sama Papa. Soalnya Papa belum maafin mas."


"Ya uda entar selesai sarapan kita pulang kerumah ya mas? Tapi sebelum pulang, kita rumah sakit dulu." Bagas menautkan alisnya, bingung. "Ke rumah sakit?"

__ADS_1


"Iya mas.. Zahra takut mas kenapa-kenapa, jadi lebih baik kita periksa langsung ke Dokter. Mas bilang tadi kepalanya pusing, dan sekarang tubuh kamu panas loh mas.." Jawabnya. "Apalagi mas juga pernah mengalami cidera di kepala, Zahra gak mau terjadi sesuatu kepada mas, kalau bisa pun sebulan sekali kita harus ngecek kepala mas ke Dokter. Jadi mas harus tetap sehat, karena kami selamanya ingin bersama Papa.." Tambahnya lagi sembari tersenyum menatap suaminya. Bagas pun ikut tersenyum menatap Zahra istrinya kemudian merangkul bahu istrinya dari samping sembari mengecup kening istrinya.


"Papa janji akan selalu menjaga kesehatan Papa, karena Papa juga ingin selamanya bersama Bunda dan Gavin anak Papa yang paling tampan." Ucapnya. Lalu Bagas mencium pipi anaknya karena gemas. Gavin yang di cium pun tertawa terbahak-bahak karena kegelian.


Tibanya di ruangan meja makan, keluarganya sudah pada duduk disana lagi menunggu mereka.


"Loh kok pada belum sarapan ?" Tanya Zahra pada keluarganya.


"Iya lagi nunggu mbak, biar kita sarapan bersama-sama." Jawab Sheina.


"Iya cucu Opa yang tampan.. sini sama Opa sarapan." Ucap Opa Bimo sembari mengangkat Gavin lalu memangku nya.


Selesai sarapan Zahra dan Bagas pamit akan pulang kerumah mereka. Begitu juga dengan Rio dan Sheina mereka pulang kerumah mereka yang tidak jauh dari rumah Bagas.


Bagas nyamperin Papanya dan Mamanya yang lagi duduk di sofa, ia ingin mencoba lagi meminta maaf kepada orang tuanya kembali.


"Pa sekali lagi Bagas minta maaf ke Papa karena sudah mengecewakan Papa. Bagas mohon Pa maafin Bagas." Ucapnya. Melihat Papanya yang masih diam saja ia menghela napas nya, Papanya masih belum mau memaafkannya. Kemudian Bagas beralih ke Mamanya, Bagas pun berlutut didepan Mamanya.

__ADS_1


"Mama maafin Bagas Ma.. Maafin Bagas yang tidak mendengar ucapan Mama untuk tetap tinggal disini, Ma apa yang Mama bilang benar, Bagas menyesalnya Ma.. sangat-sangat menyesal. Bagas mohon Ma tolong maafin Bagas, Bagas janji kedepannya Bagas akan nurut apa yang Mama bilang." Mohon Bagas pada Mamanya sembari mencium kedua tangan Mamanya. Kalau Uda seperti ini Mamanya tidak akan tega melihat Anaknya memohon padanya sembari berlutut di hadapan nya. Mama Susi pun menarik salah satu tangannya dari genggaman Bagas, kemudian meletakan tangannya di kepala Bagas anaknya lalu mengelus rambut anaknya dengan sayang.


"Mama uda maafin kamu nak.. tapi Mama mohon apa yang di ucapkan orang tua itu di dengar, terkadang apa yang bicarakan orang tua itu benar sayang.."Ucap Mamanya. "Astaghfirullah sayang kepala kamu panas, apa kamu sakit?" Tanya Mamanya terkejut saat menyentuh kepala Bagas, terasa panas.


"Gak apa-apa Ma," Jawab Bagas. "Bagas hanya kecape'an aja, soalnya saat sampai di Indonesia kemaren Bagas belum ada tidur, baru tadi malam bisa tertidur." Ucapnya lagi menjelaskan, ia tidak mau membuat Mamanya kuatir. "Mama jangan kuatir ya? Entar minum obat dan istrahat Bagas akan sembuh."Tambahnya lagi, yang masih melihat kekuatiran Mamanya.


"Beneran ya pulang dari sini kamu langsung istrahat. Ucap Mamanya.


"Iya Ma.."


Sebelum beranjak Bagas kembali melihat Papanya dengan tatapan memelas. Ia akan memohon sekali lagi ke Papanya.


"Bahagiakan menantu Papa dan cucu Papa, sempat sedikit saja kamu menyakiti dan membuat mereka menangis.. awas kamu! Papa sendiri yang akan mengurus perceraian kamu dan Zahra!" Ucap Papanya tegas saat mendapat tatapan memohon dari Bagas.


"Baik Pah, Bagas janji akan selalu membahagiakan istri dan anak Bagas dan gak akan menyakiti mereka." Ucap Bagas dengan penuh keyakinan.


Rio, Sheina, Zahra dan Mamanya tersenyum bahagia setelah mendengar ucapan Papa Bimo, begitu juga dengan Bagas tak kala bahagia. Ya walaupun ucapan Papanya masih datar tapi ia tahu Papanya Uda memaafkannya.

__ADS_1


__ADS_2