CEO Ku Adalah Suamiku

CEO Ku Adalah Suamiku
128. Bab 128


__ADS_3

Seminggu telah berlalu. Bagas saat ini sudah jarang pergi kekantor semua pekerjaan di lakukannya di rumah, Bagas akan menyuruh Daniel mengantarkan pekerjaan ke rumah, itu dilakukan untuk bisa menjaga istrinya yang tidak lama lagi akan melahirkan. Hanya kalau ada meeting penting saja Bagas baru ke Kantor dan jika memang tidak bisa di wakilkan.


"Mas.."


"Iya sayang.." Jawab Bagas sembari menatap istrinya. Saat ini mereka lagi duduk santai di taman belakang rumah mereka. Sedangkan Gavin lagi asik bermain bola yang tidak jauh dari tempat mereka duduk.


"ada apa, hmm?" tanya Bagas sembari mengelus pipi chubby istrinya, Bagas paling gemas melihat pipi Zahra yang semakin hari semakin cubby saja.


"Mas andaikan saat lahiran terjadi sesuatu dengan Zahra, mas harus jaga anak-anak kita ya.., sayangi mereka dan jangan sampai mereka kekurangan suatu apapun." lirihnya tiba-tiba. Seketika tubuh Bagas menegang setelah mendengar ucapan istrinya.


"Mas.." panggil Zahra lembut karena suaminya tidak kunjung menjawab ucapannya. "Mas maukan mengurus mereka..." ucap Zahra sembari mengelus lengan Bagas. Membuat Bagas tersadar dari lamunannya.


"Kamu ngomong apa sih sayang.. tentu saja mas akan jaga mereka, gak akan mas biarin mereka kekurangan suatu apapun dan mas akan selalu membahagiakan kamu dan juga kedua anak kita." balasnya sembari berusaha tersenyum di depan istrinya. Sebenarnya tanpa Zahra ketahui Uda seminggu ini perasaan Bagas gak tahu kenapa tidak tenang. Semakin mendekati hari lahiran istrinya perasaan Bagas selalu takut dan terkadang tiba-tiba saja muncul rasa kuatir di hati Bagas. Kemudian Bagas langsung memeluk Zahra erat.


"Kamu akan baik-baik aja sayang..dan tidak terjadi apa-apa dengan kamu." Bagas mencoba menenangkan istrinya dan dirinya sendiri.


"Kita kan gak tahu mas, kapan ajal menjemput kit_-"

__ADS_1


"Mas mohon sama kamu sayang jangan bicara yang aneh-aneh." potong Bagas langsung. "Kamu tahu, mas selalu berdoa semoga kita selalu bersama sampai rambut kita memutih, sampai kita bisa melihat anak-anak tumbuh dewasa, melihat mereka menikah dan sampai kita memiliki cucu." ucap Bagas sedikit bergetar yang masih meluk istrinya.


" Maaf mas," Zahra jadi merasa bersalah pada sang suami karena ucapannya tadi. Pastinya ucapannya sudah membuat suaminya takut.


"Mas sangat mencintai kamu sayang." Bagas melepaskan pelukannya, lalu menatap istrinya dalam. "Please sayang jangan ngomong seperti itu lagi," Bagas langsung mencium kening Zahra lama.


"Iya mas.." balas nya. "Zahra juga mencintai mas." tambahnya lagi.


"Papa.. Bunda.." teriak Gavin yang berlari nyamperin Papa dan Bundanya, membuat mereka berdua terkejut dan Bagas pun langsung menjauh dari istrinya yang hampir mencium bibir istrinya.


"Uda bunda.." jawabnya. "Bunda kapan Adek keluar dari perut bunda?" Tanya Gavin pada Zahra sembari meletakan tangannya di perut Bundanya, sudah entah yang ke berapa kali Gavin menanyakan kapan adiknya keluar dari perut Zahra, Gavin sama seperti Papanya yang sudah tidak sabar ingin melihat atau bertemu adiknya.


"Sabar ya kak, gak lama lagi kita pasti bisa melihat Adek." Jawab Zahra dengan lembut.


"Hore..Jadi nanti kakak punya adik dua dong Bun?"


"Adik dua?" tanya Zahra bingung. "Iya bunda.. di pelut aunty Lisa kan ada dedek juga.. jadi,kata aunty Lisa adek yang di pelut aunty Adek kakak juga Bun, telus kata aunty Gavin halus jaga Adek aunty kalau Uda besal nanti sama seperti kak jaga Adek yang di pelut Bunda." ucapnya penuh semangat.

__ADS_1


Bagas dan Zahra yang mendengar cerita dari Gavin pun tersenyum lembut.


"Iya dong.. kakak Gavin kan sekarang Uda menjadi kakak nih, terus kak Gavin kalau sudah besar nanti harus bisa menjaga dan melindungi adik-adik kak Gavin.. dari orang-orang yang ingin mengganggu dan niat buruk pada mereka." Ucap Bagas menjelaskan pada anaknya.


"Gitu ya Pa."


"Iya sayang.."


Pagi ini dengan sangat terpaksa Bagas harus meninggalkan Zahra, tidak bisa menemaninya di rumah. Di karenakan pagi hari ini tepat jam 9 pagi Bagas ada meeting penting yang tidak bisa di tinggalkan, dan tidak bisa di wakilkan oleh Daniel. Mau tidak mau Bagas menyuruh pelayannya untuk menjaga Zahra istrinya dan menyuruh pelayan untuk tidak jauh-jauh dari istrinya, karena sampai sekarang perasaan Bagas masih belum tenang.


"Sayang tidak apa-apa kan mas tinggal meeting hari ini? mas janji selesai meeting mas langsungg pulang kerumah." Ucap Bagas yang saat ini lagi menatap wajah cantik istrinya yang lagi memakaikan dasinya.


"Zahra gak apa-apa mas.." balas Zahra menenangkan suaminya, Zahra bisa melihat raut wajah gelisah suaminya itu. "Mas hari ini cukup meeting dengan tenang dan jangan pikirkan yang membuat mas nantinya tidak fokus, lagian disini kan banyak pelayang yang bisa menjaga Zahra mas.. kan Zahra perkiraan lahirannya beberapa hari lagi mas.." tambah Zahra lagi.


"Ya uda mas berangkat ya sayang.. kalau ada apa-apa langsungg hubungi mas." Ucap Bagas. Kemudian Bagas beralih ke perut istrinya sembari mengelus perut Zahra.


"Anak Papa baik-baik didalam ya.. jangan nyusahin bunda, Papa pergi kerja dulu, lalu Bagas mencium perut Zahra kemudian menaikkan kapala nya dan mencium kening serta bibir istrinya. Setelahnya Bagas pun berangkat ke kantor.

__ADS_1


__ADS_2