
Tibanya di rumah sakit Papa Bimo langsung menuju ruangan Bagas. Di lihat Rio tengah duduk di kursi tunggu tepat di depan ruangan Bagas.
"Rio gimana keadaan Bagas?" Tanya Papa Bimo.
Rio yang sedang melamun pun terkejut yang tiba-tiba ada suara Papanya.
"Bagas masih belum sadar Pa. Lebih baik Papa lihat keadaannya. Tadi Dokter bilang pasien koma harus sering-sering di ajak berbicara, siapa tahu aja kalau mendengar suara Papa Bagas mau sadar." Ucapnya sedih.
"Apa Zahra Uda tahu soal ini?" Tanya Papa.
"Zahra belum tahu Pa. Kami semua belum ada yang berani menceritakannya. Zahra lagi BedRest Pa, takutnya makin mengganggu kehamilannya. Tadi Om Bram bilang Zahra sampai nangis-nangis pengen nyamperin suaminya. Untung Dokternya tidak memperbolehkan Zahra untuk turun dari ranjang karena kandungannya masih terlalu lemah." Jawab Rio menceritakan kepada Papanya.
"Lalu Mama sama Sheina kemana?" Tanya Papa Bimo lagi.
__ADS_1
"Mama sama Sheina Rio suruh pulang kerumah Pa. Kasian kalau harus nunggu disini, besok baru mereka kesini lagi." Jawab Rio. " Apa Papa mau masuk lihat Bagas?"
"Iya, tapi sebelum itu Papa mau menemui Dokter Haris dulu yang menangani Bagas. Siapa tahu ada jalan lain untuk kesembuhan Bagas. Walaupun sampai kita harus membawa nya berobat keluar negeri, yang penting Bagas cepat sadar dan demi kesembuhan Bagas. Papa tidak tega melihat Zahra harus menjalani kehamilannya sendiri tanpa ada Bagas di sampingnya. Seandainya Bagas tidak mengalami ini, pasti di sangat bahagia kalau tahu istrinya hamil." Ucap Papanya yang berharap masih ada cara lain untuk Bagas sadar dari komanya dan Bagas bisa berkumpul lagi dengan Zahra istrinya yang sedang hamil.
"Maafin Rio Pa. Ini semua salah Rio, andai Rio mendengar apa yang di ucapkan Bagas semua ini tidak akan terjadi. Awalnya Bagas memang kurang setujuh dengan kerjasama ini, karena ia merasa Reisa akan membuat masalah untuk rumah tanggnya. Tapi Rio maksa agar Bagas menyetujui nya, karena menurut Rio kerjasama ini sangat menguntungkan. Dan ternyata Bagas benar Pa... Rio menyesal tidak mendengarkan Bagas. Maafin Rio Pa.." Ucap Rio sembari menitihkan air matanya. Ia menyesal karena tidak mau mendengarkan Bagas waktu itu, untuk tidak menerima kerjasama dengan ADITAMA GEMILANG. Ia sangat-sangat menyesal dengan hal itu.
"Hei lihat Papa, ini bukan salah kamu tapi ini memang Uda jalannya seperti ini. Janagan salah kan diri kamu sendiri, sekarang yang terpenting adalah kita berdoa agar Bagas cepat sadar dari komanya.
Selesai Papa Bimo berbicara dengan Rio, kini Papa sudah berada di ruangan Dokter Haris meminta penjelasan keadaan Bagas dan apakah ada cara lain untuk kesembuhan Bagas anaknya.
"Dok gimana keadaan Bagas anak saya? Kira-kira sampai berapa lama Bagas akan sadar dari komanya Dok? Apakah ada cara lain untuk ia cepat sadar?" Tanya Pak Bimo.
"Begini Pak Bimo, perkembangan pasien saat ini bagus, jantungnya juga normal. Hanya saja otaknya tidak mau merespon, itu yang mengakibatkan pasien koma. Kalau berapa lamanya pasien sadar dari koma, kami tidak bisa memastikan hal itu. Ada yang seminggu, sebulan, bahkan ada juga sampai bertahun-tahun pasien mengalami koma, jadi kami tidak bisa memastikan kapan pasien akan sadar." Ucap Dokter Haris menjelaskan keadaan Bagas. "Untuk cara lain... apa maksud Pak Bimo ingin membawa pasien berobat keluar negeri gitu?" Tanyanya.
__ADS_1
"Iya Dok, apa boleh saya membawa anak saya berobat ke Luar negeri?"
"Itu adalah hak Pak Bimo, jika menurut Pak Bimo membawa ke luar negri akan bisa pasien cepat sadar, tidak apa-apa itu akan lebih bagus. Lagian di luar negri peralatan medisnya sudah begitu sangat canggih." Jawab Dokter Haris. "Begini aja Pak Bimo kita tunggu dalam seminggu ini, apakah pasien sadar dari komanya atau tidak. Tapi kalau tidak, Pak Bimo bisa membawanya ke Luar negeri." Saran Dokter Haris.
"Baiklah Dok, apa saya boleh melihat anak saya?"
"Boleh Pak, itu akan sangat bagus untuk perkembangannya. Kalau bisa Pak Bimo mengajak paesien bicara, memberi semangat pasien untuk sadar. Walaupun pasien koma, di alam bawa sadarnya ia bisa mendengarkan apa yang kita bicarakan padanya. Ajak pasien bercerita, dengan lembut ceritakan masa kecilnya, agar bisa merangsang otaknya. Kalau bisa pertemukan Pak Bagas pada istrinya, bisa jadi dengan mendengar suara dan sentuhan wanita yang dia cintai pasien bisa lebih semangat untuk sadar dari komanya." Ucap Dokter Haris memberikan saran.
"Itulah masalah nya Dok, Istrinya harus BedRest. Sementara tidak bisa turun dari ranjangnya dulu, sampai benar-benar kandungannya kuat. Takutnya kalau istrinya mendengar atau tahu keadaan suaminya koma, ia akan syok lalu kepikiran dan itu akan membuatnya stres. Dan pasti itu tidak akan baik untuk kandungannya." Ucap Papa Bimo.
"Baiklah Pak saya mengerti. O iya Pak Bimo kalau bisa sebelum masuk keruangan ICU Pak Bimo harus steril dulu, takutnya kuman yang ada pada tubuh kita bisa menular ke pasien dan itu bisa menggangu kesehatan pasien."
"Baik Dok. Kalau begitu saya permisi.."
__ADS_1
Papa Bimo pun keluar dari ruangan Dokter Haris, menuju ruang ICU.