CEO Ku Adalah Suamiku

CEO Ku Adalah Suamiku
120. Bab 120


__ADS_3

"Bunda.." teriak Gavin yang baru saja masuk kedalam ruangan Bagas, lalu nyamperin Bundanya yang sedang santai duduk di sofa sembari membaca majalah.


"Iya sayang.." jawab Zahra


"Hei adek,, lagi apa? Ade dengar kakak Gavin kan di dalam pelut Bunda.."Tanya Gavin yang sudah duduk di samping Zahra sembari mengelus perut Zahra yang sudah sedikit kelihatan membuncit.


Setelah Gavin tahu dirinya akan memiliki adik, Gavin langsung menyebut dirinya kakak, Gavin selalu protes kalau Papa dan Bundanya memanggil namanya langsung, Gavin pasti akan bilang, 'Papa sama bunda halus panggil kakak Gavin, gak boleh panggil Gavin aja, kan Gavin sekalang uda punya adek, jadi panggil nya halus kakak.'


"Dede' nya lagi bobok sayang.." ujar Zahra menjawab pertanyaan anaknya.

__ADS_1


"Bunda Adek kapan keluar dali pelut bunda?" tanya Gavin dengan polos. "Kakak Gavin Uda gak sabal pengen maen sama Adek.." ucapnya lagi.


"Sabar ya kak, beberapa bulan lagi Adek nya pasti keluar dari perut bunda." jawab Zahra dengan lembut pada anaknya. "Adek juga Uda gak sabar pengen ketemu sama kakak Gavin yang tampan." ucapnya lagi sembari mengelus rambut Gavin.


"Kakak Gavin sayang sama Adek.."


"Bunda kakak ke luangan uncle Daniel lagi ya.." ucap Gavin.


"Kakak kok selalu main di ruangan uncle Daniel sih.., apa kakak gak mau main sama Papa lagi?" Tanya Bagas dengan berpura-pura sedih di depan Gavin yang lagi duduk di meja kerjanya.

__ADS_1


"No Papa.. kakak masih mau kok main sama Papa, tapi kalau di lumah ya.." jawab Gavin yang tak mau Papanya sedih. "Tapi kalau di Kantol Papa, kakak balu main sama uncle Daniel.." tambah Gavin lagi sembari menunjukkan gigi putih nya.


Kemudian Gavin nyamperin Bagas di mejanya, lalu Bagas membawa Gavin duduk di pangkuan nya sembari menatap lekat anaknya.


"Papa jangan sedih kakak sayang sama Papa, uncle Daniel bilang, kakak halus temani Uncle tiap hali di kantol, kalena uncle Daniel gak ada temannya. Katanya, uncle Daniel gak punya siapa-siapa lagi Papa.. Kalau Papa kan Uda ada bunda sama kakak dan ada dede' juga. Papa halus temenin bunda sama adek ya.. adek kan masih kecil di pelut bunda, kalau kakak kan Uda besal.." ucap Gavin pada Papanya. "Kakak boleh kan temenin uncle Daniel? kasian ancle Daniel Papa.. boleh ya.." rengek Gavin. " Kakak janji di lumah nanti main sama Papa sama adek juga." Bagas langsung tersenyum mendengarnya sekaligus juga bangga dengan Gavin, setelah mendengar ucapan anak laki-laki nya, Bagas gak nyangka di usia Gavin yang masih hampir empat tahun Gavin sangat pintar dan cerdas, Gavin cepat sekali mengerti dan mudah tangkap, berbicaranya juga sangat lancar dan kata-kata nya yang di ucapkan juga sudah teratur, hanya saja menyebutkan huruf R yang belum jelas, Gavin juga sudah bisa merasakan simpati terhadap orang lain di sekitarnya, dan pemikirannya sudah dewasa. Bagas yakin ketika uda besar dan dewasa nanti Gavin bisa menjaga dan mengajar kan hal yang baik ke pada adik-adiknya.


"Boleh kok sayang, tapi jangan sampai mengganggu kerjaan uncle Daniel ya.." ucap Bagas yang memberikan ijin kepada Gavin untuk selalu menemani Daniel asisten nya sembari mengelus kepala anaknya.


Sebenarnya Daniel Uda pernah berbicara pada dirinya dan meminta ijin padanya agar Gavin bisa menemani Daniel jika di kantor, dengan alasan tidak ada teman dan ruangan nya terlalu sepi. Dan dengan adanya Gavin membuat Daniel sangat terhibur. Bagas pun mengijinkan nya, asal tidak menggangu Daniel mengerjakan pekerjaannya. Bahkan kalau libur kerja Daniel sering menjemput Gavin dan membawanya jalan-jalan. Terkadang orang-orang yang melihat kebersamaan Daniel dan Gavin mengira mereka adalah Ayah dan anak, Daniel juga selalu bilang kalau Gavin adalah anaknya jika ada yang bertanya padanya. Apalagi Daniel yang sampai sekarang tidak memiliki kekasih, membuat Daniel sangat senang dan terhibur dengan adanya Gavin anak dari sahabatnya yang bisa mengisi kekosongan di hatinya dan ia juga sudah menganggap Gavin seperti anaknya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2