
Semua keluarga yang berada di luar ruangan pun panik dengan kondisi Zahra yang memburuk. Sembari menunggu, mereka tak henti-hentinya memanjatkan doa untuk kesadaran Zahra dari koma. Bagas sendiri jalan mondar-mandir di depan pintu ruangan istrinya dengan perasaan yang tak menentu. Ibu Indah, ibu dari Zahra Samapi menangis di pelukan sang suami.
Tak berapa lama pintu pun terbuka, semua yang ada disitu menoleh ke arah pintu. Dokter Gwen pun keluar dari ruangan, dengan wajah serius.
"Dokter, bagaimana keadaan istri saya? dia baik-baik saja kan Dok?!" tanya Bagas pada Dokter Gwen.
Dokter Gwen menghela nafasnya panjang, dengan sangat berat ia harus menyampaikan keadaan pasien.
"Tu-tuan, maaf kami tidak bisa menyelamatkan nyonya Zahra." Ucap Dokter Gwen.
Bagas langsungg tertegun dengan jawaban dari Dokter Gwen, sembari menggelengkan kepalanya berharap apa yang di dengarnya itu salah.
"Maksud Dokter anak saya meninggal..?" tanya Ayah Bram, ayah dari Zahra.
"Maafkan kami tuan, nyawa nyonya Zahra tidak bisa di selamat kan lagi." jawab Doker Gwen lagi dengan rasa penyesalan karena gak bisa menyelamatkan pasiennya.
__ADS_1
"i-ini gak benarkan Dok?! Dokter, anda pasti bercanda kan..! Dokter pasti bohong kan..!"
"Tuan, maaf." hanya itu yang bisa di ucapkan oleh Dokter Gwen sembari menggelengkan kepalanya.
Bagas langsungg teriak dan meraung keras, dadanya terasa sesak dan jantung nya berdetak dengan kencang.
"Ini gak mungkin!! enggak mungkin!!" teriak Bagas lagi. "Jangan tinggalkan mas dan anak-anak sayang.." Bagas bergegas masuk kedalam untuk melihat istrinya.
Sedangkan yang lain pun ikut menangis karena Zahra tidak bisa di selamatkan. Sampainya didalam, Bagas kembali berteriak melihat istrinya, wanita yang dia cintai sudah tiada, alat-alat yang terpasang di tubuh istrinya sudah di lepas.
"Zahra..!!"
Bagas langsung terbangun dengan nafas yang tersengal-sengal, keringat di seluruh tubuh Bagas bercucuran.
"Bagas kamu kenapa?" tanya mama Susi menghampiri Bagas yang tidur di sofa. Tadinya Mama Susi ingin membangunkan Bagas karena ingin memberitahukan sesuatu yang akan membuat anaknya itu senang.
__ADS_1
"Astaghfirullah... ya Allah ternyata hanya mimpi!" ucap Bagas dengan nafas yang masih naik-turun, kemudian Bagas mengusap wajah nya.
Bagas menatap wajah mamanya, lalu melihat kearah ranjang istrinya. Bagas menautkan kedua alisnya bingung, kenapa semua keluarga nya berada di dalam? mereka pun berdiri tak jauh dari ranjang istrinya.
Deg
Jantung Bagas berdetak kencang, dan tiba-tiba saja perasaan tidak enak. Apa kejadian yang ada didalam mimpinya itu menjadi kenyataan? Apalagi melihat keluarga nya ada di ruangan istrinya, membuat Bagas di Landa ketakutan, takut istrinya benar-benar meninggalkannya.
"hei sayang, ada apa?" Tanya Mamanya lagi.
"Ma, Za-zahra ma..." jawab Bagas dengan suara bergetar.
"Iya, nih mama mau ngasih tau kamu, kalau Zah_-" ucapan Mamanya terhenti, karena Bagas langsung beranjak dari sofa lalu jalan menghampiri ranjang istrinya. Please sayang jangan tinggalin mas dan anak-anak.. gumam Bagas dalam hati.
Kini orang yang berada di dalam melihat ke arah Bagas semua. Bagas tertegun setelah melihat ranjang istrinya, ya istrinya tengah duduk bersandar di ranjang sembari tersenyum menggendong anaknya, Zoya. Jantung Bagas kembali berdetak kencang, benarkah yang di lihatnya? kemudian Bagas mengucek kedua matanya, ia takut apa yang di lihatnya itu hanyalah ilusinya saja. Bagas kembali membuka matanya, lalu melihat kearah istrinya dan istrinya menatap nya sembari tersenyum manis.
__ADS_1
"mas.."