
Tak berapa lama terdengar suara tangisan bayi yang begitu kencang. Bagas langsung terharu dan menangis melihat bayi mungil yang berlumuran darah, anak keduanya telah lahir ke dunia. Bagas sangat senang dan bahagia, setelah ini Bagas akan memberitahukan kabar kalau Zahra sudah melahirkan kepada keluarganya. Pasti mereka sangat-sangat bahagia mendengarnya, dan siapa tahu aja orang tuanya langsung terbang ke London melihat cucunya.
"Selamat tuan, nyonya anak anda perempuan dan lahir dengan selamat serta tidak ada yang kurang suatu apapun. Putri anda sangat cantik tuan mirip seperti Ibunya." Ucap Dokter tersebut.
"Iya Dok, terima kasih." balas Bagas.
Bagas langsung menoleh ke istrinya ingin memberikan kecupan bertubi-tubi kepada sang istri serta mengucapkan terimakasih. Saat wajahnya mengarah ke Zahra, Bagas panik melihat mata Zahra terpejam.
"Dok istri saya kenapa?! kok tidak bergerak sama sekali! matanya juga terpejam! Sayang bangun kamu kenapa sayang.. jangan buat mas takut!" teriak Bagas sembari menepuk-nepuk pipi Zahra mencoba membangunkannya.
"Dok pasien pendarahan!!" Ucap perawat memberitahukan.
"Cepat bawa bayi dan bersihkan terlebih dahulu, saya akan memeriksa pasien."
__ADS_1
Bagas yang mendengar kalau istrinya pendarahan langsung diam membeku menatap sang istri. Baru saja ia merasakan kebahagian, dan seketika senyum yang baru saja terpancar kini hilang begitu saja.
"Maaf tuan anda harus keluar." Ucap Perawat tersebut, tapi tidak di dengar oleh Bagas, Bagas masih saja diam di tempatnya. Akhirnya Perawat itu menarik Bagas keluar dari ruang persalinan. Saat pintu tertutup Bagas baru tersadar, ia langsung menggedor-gedor pintu dan berusaha membuka pintu tersebut tapi sayang tidak bisa.
"Dok tolong buka pintunya saya mau melihat istri saya!!" teriak Bagas dari luar. "sayang please jangan tinggalin mas, mas mohon bertahanlah sayang demi mas dan anak-anak!" Ucapnya lirih, Bagas menangis di depan pintu ruangan istrinya. Ternyata ini yang terjadi, tentang perasaan yang iya rasakan dalam seminggu ini, yaitu perasaan selalu tidak tenang, selalu takut, was-was dan juga kuatir, ternyata karena Istrinya mengalami pendarahan.
"Tuan, nyonya kenapa? bukannya baby sudah lahir?" Tanya Mery yang masih setia menunggu majikannya di luar ruangan. Tadi saat anak Bagas dan Zahra lahir tangisannya sempat terdengar sampai keluar dan Mery mendengarnya.
"Iya tuan nyonya kenapa?" tanya Mery lagi penasaran dan juga panik melihat begitu sedih, hancur dan kacau tuannya.
"Mery istri saya pendarahan." Jawab Bagas yang masih menangisi kondisi sang istri.
"Ya Tuhan nyonya.." gumam Mery. "Sabar tuan, pasti nyonya baik-baik saja, nyonya Zahra orang baik pasti Tuhan menolongnya." Ucap Mery menenangkan Bagas serta mendoakan istri tuannya.
__ADS_1
"Terimakasih Mery." Bagas menatap pintu ruangan istrinya berharap saat Dokter keluar mengatakan istrinya baik-baik saja.
"Tuan apa anda sudah mengabari keluarga anda di Indonesia?"
"Ya Allah, saya belum ada memberitahu mereka sama sekali tentang Zahra yang sudah melahirkan." jawabnya dan Bagas juga lupa dengan anaknya yang baru lahir saking paniknya dengan keadaan Zahra istrinya. "Saya bingung Mery harus ngomong apa sama mereka, saya tidak sanggup memberitahukan keadaan istrinya saya." Bagas kembali menangis, mengingat istrinya yang saat ini masih di tangani oleh Dokter.
"Tapi tuan harus memberitahukan mereka tentang nyonya, agar banyak yang mendoakan nyonya tuan.." ucap Mery.
"kamu benar Mery, saya akan menghubungi keluarga saya sekarang. Mery tolong kamu tunggu istri saya ya, saya mau lihat anak saya dulu di ruangan bayi. Saya akan cepat kembali." Seketika Bagas teringat putrinya yang baru saja lahir, putri yang ia tunggu-tunggu kelahirannya.
"Baik tuan."
Bagas langsung bergegas menuju ruangan bayi, ingin melihat putrinya yang sempat ia lupakan setengah jam yang lalu.
__ADS_1