
Zahra tersadar dari pingsannya, ia memegang kepalanya yang sedikit terasa pusing. Saat ini Zahra di temani oleh Ayah Bram dan Ibunya.
"Mas Bagas...!" Teriak Zahra yang langsung mengingat suaminya. Membuat Ayah dan Ibunya terkejut.
"Kamu sudah sadar sayang.. " Ucap Ibunya yang langsung nyamperin anak nya ke kasur Zahra.
"Bu mas Bagas dimana? Zahra ingin bertemu mas Bagas, mas Bagas terluka parah Bu karena nyelamatin Zahra yang akan tertabrak mobil hiks.. hiks." Ucap Zahra pada Ibunya sembari menangis yang mengingat kejadian kecelakaan tadi. Sedangkan Ayahnya langsung keluar memanggil Dokter.
"Bu ayo kita keruangan mas Bagas, mas ada diruangan mana Bu..? Saat Zahra akan beranjak Ibu Indah langsung menahan Zahra untuk turun dari kasur.
"Sayang kamu tidak boleh beranjak dari kasur. Kamu tahu nak kalau kamu sedang hamil." Ucap Ibu memberitahukan. "Dan usia kandungan kamu Uda jalan 4 minggu." Ucap Ibu lagi.
"Apa! Zahra hamil Bu?" Tanya Zahra lagi pada Ibunya.
"Iya sayang.." Jawab Ibu sembari tersenyum dan mengelus kepala anaknya dengan sayang. Kemudian. Zahra mengelus perutnya yang masih rata, ia tidak menyangka ternyata ia hamil. Uda sekian lama dirinya dan suami menunggu kehadirannya. Zahra kembali menangis, ia bahagia dan juga sedih. Bahagia kerana ternyata dia hamil, dan sedih karena Bagas saat ini tengah berjuang untuk bertahan hidup.
"Sayang maafin Bunda, gara-gara Bunda Papa jadi terluka parah karena nyelamatin Bunda. Kalau saja Bunda gak pergi dari kantor Papa, pasti Papa masih sehat dan baik-baik saja. Pasti Papa akan sangat bahagia mendengar kabar kalau kamu sudah hadir di perut Bunda." Ucapnya terisak-isak sembari mengelus perutnya.
"Sayang kamu gak boleh ngomong gitu. Mungkin Uda kehendak Allah. Seandainya Bagas tidak menyelamatkan kamu, mungkin kamu yang sudah mengalami kecelakaan itu, dan janin yang sudah kalian inginkan tidak akan selamat. Kamu tahu Papanya telah menyelamatkan Bunda dan anaknya." Ucap Ibu indah menjelaskan agar anaknya tidak menyalahkan dirinya terus.
"Tapi Bu, Zahra ingin tahu keadaan mas Bagas Bu.. Zahra mau lihat mas Bagas, pasti dia akan sedih kalau Zahra gak ada berada di sampingnya Bu.."
"Baik Ibu akan kasih tahu, sebenarnya Bagas lagi di Op..-" Ucapan Ibu terhenti, karena pintu terbuka. Terlihat Dokter dan Ayah Bram masuk kedalam.
"Bu Zahra sudah sadar. Baik saya periksa lagi ya.." Ucap Dokter bernama Lusi.
__ADS_1
"Silahkan Dok." Ucap Ibu Indah. Dokter Lisa pun mengecek keadaan Zahra lagi.
"Oke semua baik. Hanya saja Bu Zahra harus Bad Rest, tidak boleh melakukan kegiatan apa pun kecuali ke kamar mandi." Ucap Dokter Lusi menjelaskan.
"Sampai kapan saya harus BadRest Dok?" Tanya Zahra.
"Sampai janin Bu Zahra benar-benar kuat. Nanti akan saya beri resep untuk penguat kandungan dan vitamin untuk Bu Zahra." Ucap Dokter Lusi.
"Dok apa saya bisa melihat keadaan suami saya di ruangannya Dok?" Tanya Zahra yang masih ingin bertemu suaminya.
"Maaf Bu Zahra, Ibu tidak boleh dulu turun dari kasur. Ibu harus banyak istirahat, kandungan Bu Zahra belum cukup kuat, janinnya masih lemah. Sabar dulu ya Bu untuk bertemu suaminya.."
"Baik Dok terima kasih."Ucap Zahra dengan nada sedih. Dengan terpaksa ia ngikuti saran Dokter, karena kandungan nya lemah daripada terjadi apa-apa pada janinnya. Lebih baik saat ini iya mengalah dan menahan untuk tidak menemui suaminya dulu. Ia sendiri saja belum tahu keadaan Bagas, keluarganya belum ada yang memberitahukannya gimana keadaan suaminya. Dia hanya bisa pasrah dan berdoa semoga suaminya baik-baik saja.
Diruangan Operasi.
Sudah hampir tiga jam mereka menunggu, tapi Dokter belum ada yang keluar dari ruangan Operasi, Rio yang tidak tega melihat istrinya akhirnya memutuskan menyewa satu kamar di rumah sakit untuk istrinya istirahat. Rio tidak ingin terjadi apa-apa kepada Sheina dan anak yang dikandung.
Untuk sekarang Keluarga belum ada yang menceritakan kondisi Bagas kepada Zahra. Mereka tidak ingin Zahra semakin syok, jika tahu kondisi sang suami, itu akan berdampak pada janin nya apalagi Zahra harus BedRest. Tak berapa lama lampu ruangan Operasi mati, menandakan operasi selesai di lakukan. Rio dan juga Mama Susi sudah was-was mendengar penjelasan Dokter Haris. Pintu ruangan Operasi pun terbuka, keluar Dokter Haris dari ruangan dengan wajah yang kelihatan lelah.
"Dok gimana dengan keadaan Bagas?" Tanya Rio langsung. Dokter Haris menatap wajah Rio dan Mama Susi, kemudian menghela nafasnya.
"Pak Rio, Operasi berhasil kami lakukan. Hanya saja.."
"Hanya apa Dok..?" Potong Mama Susi.
__ADS_1
"Hanya saja kini dia mengalami koma. Kami akan terus memantaunya Sampai kondisinya benar-benar stabil." Ucap Dokter Haris.
Mama Susi menutup mulutnya sembari menangis, ia tidak tega dengan kondisi putranya.
"Tapi sampai kapan Dok Bagas akan sadar dari komanya?" Tanya Rio. "Ma apa yang akan kita bilang ke Zahra kalau suaminya koma.." Tambahnya.
"Kalau masalah itu kami juga tidak bisa memastikan kapan pasien akan sadar. Karena pasien koma, bisa sadar selama semingu, ada yang sebulan bahkan ada juga sampai bertahun-tahun. Tapi akan terus memantau kondisinya sampai pasien sadar. Yang kita lakukan adalah berdoa agar pasien cepat sadar dari komanya." Jawab Dokter Haris. "Mudah-mudahan ada keajaiban." Tambahnya lagi.
"Apa kita boleh melihatnya Dok?"
"Boleh, tapi di dalam hanya boleh satu orang. Jangan lupa sebelum masuk ke ICU kita harus steril." Ucap Dokter.
"Makasih Dok."
Kini Bagas sudah di pindahkan ke ruang ICU. Selang sudah terpasang di tubuh Bagas. Rio pun masuk keruangan, ia sedih melihat keadaan Bagas yang seperti ini. Walaupun Rio sering jahil ke Bagas, tapi Rio begitu sayang pada Bagas melebihi dirinya sendiri. Sejak mereka di pertemukan oleh Papa Bimo dulu, Rio sudah menganggap Bagas seperti adik kandungnya sendiri. Apalagi Bagas begitu bahagia waktu bertemu dengannya dan mau menerima nya saat dirinya di menjadikan anak angkat oleh keluarganya, saat itu dia berjanji akan selalu melindungi Bagas.
Rio menitihkan air matanya, gak tega melihat adiknya seperti ini. Rio menggenggam tangan Bagas sembari menyapanya.
"Hei Bro, bangun dong.. betah banget Lo tidur lama-lama. Kasian Zahra Uda nunggu Lo. Bagun ya Gas.. Please... kalau Lo gak bangun juga gue gak mau ngurus Perusahan WILLIAMS GRUP sendiri. Kalau Lo gak bangun juga, gue akan keluar dari Perusahan. Gue gak mau ngurus Perusahan tanpa Lo Gas.. O iya gue ada kabar gembira untuk Lo. Pasti Lo akan sangat bahagia setelah mendengarnya, tapi biar Zahra aja yang kasih kabar gembira itu..Makanya Lo bangun ya.." Ucap Rio panjang lebar, sembari menghapus air matanya yang masih mengalir.
Dokter Haris pun masuk kedalam untuk mengecek perkembangan Bagas.
"Pak Rio, saya sarankan kalau bisa setiap keluarga yang berkunjung selalu mengajak pasien bicara. Terkadang kehadiran orang-orang yang ia sayangi bisa merangsang reflek pasien, tunjukkan rasa cinta dan dukungan kalian pada pasien, dengan sering mengajaknya bicara hal yang menyenangkan atau menceritakan masa kecilnya dulu bahkan hanya sekedar menggenggam tangannya. Walaupun pasien tidak bisa memberikan respon, tapi dengan dukungan kalian, pasien akan semakin besar pula semangat untuk tetap hidup dan bangun dari komanya. Sebenarnya walaupun pasien koma, sedikit banyaknya pasien bisa mendengar apa yang kita ucapkan." Ucap Dokter Haris menjelaskan apa yang harus dilakukan pada pasien yang sedang koma. "Kalau bisa istri atau wanita yang paling pasien cintai datang dan mengajak pasien berbicara. Siapa tahu setelah mendengar suara istrinya pasien bisa cepat sadar. Tapi semua itu tetap hanya Allah yang bisa menentukan. Jangan lupa doanya untuk pasien. Mari Pak Rio, waktu jam besuk sudah habis." Ajak Dokter Haris untuk keluar ruangan ICU.
"Iya Dok."
__ADS_1
Rio dan Dokter Haris keluar dari ruangan Bagas.