CEO Ku Adalah Suamiku

CEO Ku Adalah Suamiku
55. Bab 55


__ADS_3

Derrt derrt


Terdengar bunyi suara ponsel dari Zahra. Membuatnya tersentak kaget, ia langsung terbangun setelah mendengar ponselnya bergetar tepat di samping bantalnya, Zahra lalu mengambil ponsel dan melihat ke layar ponselnya. Sebuah panggilan video dari suaminya, kemudian Zahra memencet tombol hijau di layar ponsel menandakan ia menerima panggilan video dari suaminya. Terlihat wajah tampan suaminya sembari memegang segelas kopi.



"Sayang kamu baru bangun?" Tanyanya. Sembari melihat wajah istrinya yang masih berantakan tapi malah terlihat gemesin di mata Bagas. Mungkin kalau ia berada disana sudah pasti seluruh wajah istrinya di cium olehnya.


"Emmm.. Iya mas..." Jawab Zahra dengan suara serak khas suara bangun tidur. "Mas uda bangun? Emangnya ini Uda jam berapa mas?" Tanya Zahra.


"Ini tuh Uda jam 6 pagi sayang.."


"Astaghfirullah Zahra telat bangunnya mas.


"Sekali-kali telat tidak apa-apa sayang.. kamu kelelahan ya semalam lembur? Duh kasian istrinya mas.."


"Iya mas sampai sekarang masih terasa capek banget."


"Ya uda kamu gak usah masuk kerja aja hari ini, izin sakit. Entar kalau di paksain yang ada kamu mala tambah sakit sayang.."


"Enggak bisa mas.. hari ini kerjaan Zahra banyak. Soalnya kemaren gak sempat di selesaikan semua." Ucapnya. "Zahra mandi dulu ya mas. Entar Zahra telat Lo mas kekantor, nanti kita sambung lagi ya..."


"Tapi mas masih kangen sama kamu sayang.." Ucapnya dengan nada manja sembari mengerucutkan bibirnya.


"Gemesin banget sih mas Bagas kalau manja gitu." Ujar Zahra sembari tersenyum melihat ekspresi wajah suaminya yang manja, apalagi melihat bibir suaminya yang sengaja di majukan ke depan. Ingin rasanya ia menarik bibirnya suaminya habisnya gemesin banget.


"Entar lagi deh sayang ya...?" Ucapnya menawar ke istrinya untuk tidak menyudahi panggilan video nya.


"Zahra mau mandi mas.. entar Zahra terlambat ke kantor. Sheina aja Uda rapi loh mas. Entar mas telpon Zahra lagi ya kalau Uda istrahat makan siang."


"Ya uda iya.. kalau Uda nyampe kantor kabari mas ya?"

__ADS_1


"Iya mas ku.." Jawabnya. Sembari tersenyum manis ke Bagas.


"I love you sayang..."


"I love you to mas.."


Kemudian panggilan video pun berakhir. Zahra langsung bergegas masuk ke dalam kamar mandi.


Sedangkan Sheina sudah berada di ruang meja makan meyiapkan sarapan untuk mereka. Hari ini sarapan mereka hanya roti selai strawberry dan teh hangat, karena mereka telat bangun jadi gak sempat masak untuk sarapan.



Penampilan Sheina saat akan ke kantor. Wajah Sheina yang bule mirip seperti kakeknya yang memang asli orang London.


Setelah setengah jam akhirnya Zahra sudah rapi dan siap untuk berangkat ke kantor dengan Sheina.



Ini penampilan Zahra saat akan pergi kekantor. Wajahnya yang cantik dan imut mirip seperti Ibunya. Padahal usia nya sudah 23 tahun, tapi wajahnya masih seperti anak SMA.


" Shein maaf ya aku bangunnya telat jadi gak sempat masak untuk sarapan." sembari duduk di kursi meja makan tepat duduk di depan Sheina.


"Enggak apa-apa mbak. Sarapan roti aja uda cukup." Jawab Sheina. "Ini mbak rotinya uda Sheina buatkan." Ucapannya sembari memberikan roti selai strawberry kepada Zahra yang sudah ia buat kan untuk kakak iparnya.


"Terima kasih Shein.."


10 menit mereka sampai di Gedung Perusahaan. Zahra dan Sheina keluar dari mobilnya. Mereka berdua berjalan masuk kedalam gedung. Saat sampai di lobby Zahra bingung kenapa semua karyawan menatap ke arah dirinya, dengan tatapan yang menurutnya aneh. Seperti Zahra memiliki utang saja. Ada yang berbisik-bisik sembari menatap Zahra, ada juga yang berbicara yang tidak-tidak terhadapnya.


"Wah Zahra gimana rasanya di cium oleh Pak Bagas? Pasti enak dong ya?"


"Dasar cantik-cantik tapi kok kelakuan nya gak sesuai dengan penampilannya."

__ADS_1


"Di bayar berapa loh sama Bos Perusahaan? pastinya besar dong ya... gak malu Lo sama hijab yang Lo pakai."


"Gimana servis yang di berikan Pak Bagas.. memuaskan gak?"


Begitulah yang di ucapkan oleh para karyawan yang berpapasan dengan Zahra di lobby menuju lift. Sheina yang mendengar itu tidak terima istri dari kakaknya di hina seperti itu. Ingin rasanya ia membalas hinaan dari mereka semua, tapi kakak iparnya melarangnya. Sherina heran kenapa istri dari kakaknya diam saja.


"Mbak Zahra kenapa diam saja dihina sama mereka?" Tanyanya.


"Biarin aja Shein mereka ngomong apa yang Meraka anggap itu benar. Tapi kenyataan yang sebenarnya tidak seperti itu." Jawab Zahra.


"Tapi kenapa mereka berbicara seperti itu sama mbak Zahra?"


"Sebenarnya para karyawan di Perusahaan WILLIAMS GRUP, tidak ada yang tau kalau aku tuh istri dari kakak kamu Shein...makanya mereka bersikap seperti itu. Saat mereka memergoki aku bersama mas Bagas, mereka langsung gak suka dan mereka kira kalau aku tuh Uda menggoda CEO Perusahaan ini. Apalagi saat kamu pernah jalan di lobby sambil menggandeng mesra mas Bagas, mereka kira kamu tu pacar dari Bos mereka. Dan menganggap kalau aku perusak hubungan kalian.."


"Hahaha.. lucu banget ya. Tapi kenapa Kak Bagas sama Mbak Zahra kok gak mau kasih tau status kalian berdua sama mereka?"


"Bukannya gak mau Shein.. aku yang minta sama mas Bagas jangan dulu memberi tahu hubungan kami. Karena memang akunya yang belum siap akan perubahan setelah mereka tahu tentang kami."


"Maksud mbak Zahra perubahan apa?"


"Aku gak mau mereka jadi canggung, bakalan segan sama aku Dan hormat sama aku karena gue istri dari CEO. Dan aku gak mau itu, aku mau perlakuan mereka ke aku tetap sama seperti Akau pertama kali masuk ke Perusahaan ini."


"Mbak Zahra ada-ada aja deh. Tapi dengan mereka berbicara seperti itu sama mbak, apa mbak sakit hati?"


"Ya sakit dong Shein.. siapa yang gak sakit hati di hina oleh orang sampai seperti itu, tapi mau gimana lagi itu resiko yang aku terima karena sudah merahasiakan hubungan kami." Ucapnya. Tapi di acar Ulangtahun Perusahaan besok kami berdua akan mengumumkan hubungan kami." Tambahnya lagi.


"Bagus dong kalau gitu. Biar semua karyawan yang Uda menghina mbak pada malu setelah tahu siapa mbak sebenarnya."


"Aku duluan ya Shein..?" Ucapnya sembari jalan keluar dari lift. Di dalam lift hanya ada mereka berdua tadi, karyawan pada tidak mau satu lif oleh Zahra. Mungkin mereka ilfil kali makanya gak mau satu lift oleh Zahra.


"Oke mbak..." Jawab Sheina. "Mbak yang sabar ya.. jangan di perduli kan omongan mereka." Tambahnya lagi."

__ADS_1


"Iya Shein kamu tenang saja."


Kemudian lift pun tertutup membawa Sheina ke lantai 20.


__ADS_2