CEO Ku Adalah Suamiku

CEO Ku Adalah Suamiku
117. Bab 117


__ADS_3

Zahra berjalan mendekati Bagas dengan memegang sebuah cake dan lilin yang sudah nyala di diatas cake tersebut.


"Mas apa kamu terlalu sibuk sehingga lupa kalau hari ini usiamu bertambah?" Gurau Zahra sembari tersenyum manis menatap Bagas.


"Iya sayang mas benar-benar tidak mengingat ulang tahun mas sendiri." jawab Bagas. "O iya sayang, sepertinya hari ini ada yang sengaja deh memberikan mas banyak pekerjaan." Ucap Bagas yang sudah menatap tajam Daniel.


"Hahaha.. jangan salahkan gue, kalau Lo gue kasih banyak kerjaan. Tuh istri tercinta Lo yang nyuruh gue ngelakuin ini semua." Daniel menjawab apa yang di ucapkan Bagas.


"Beneran sayang apa yang di ucapkan Daniel?"


"Maaf mas, kalau gak gitu kejutan yang Zahra siapkan untuk kamu bakalan gagal dong kalau kamu pulang kerjanya sore." Jawab Zahra yang tersenyum-senyum.


"Dasar." Bagas menarik ujung hidung Zahra dengan lembut.


"Selamat Ulang tahun ya mas.. tiup dulu lilinnya mas."Ucap Zahra dan Bagas pun menuruti perkataan istrinya untuk meniup lilin.


"Terimakasih sayang untuk kejutan nya..." Ucapnya sembari menatap Zahra penuh cinta. "Mas suka dengan ide kamu." Kemudian Bagas mengecup dahi Zahra, lalu Bagas memeluk sang istri sangat erat, Bagas bersyukur bisa berjodoh dengan Zahra, wanita yang sangat baik, sabar, penyayang, semua yang ia inginkan ada pada Zahra.


"Papa..." teriak Gavin sembari lari ke arah Bagas dengan merentangkan tangannya meminta untuk di gendong. Bagas pun langsung menggendong Gavin.


"Selamat Ulang tahun Papa.." ucap Gavin lalu mengecup pipi kanan dan kiri Bagas. "Gavin sayang Papa.."


"Terimakasih sayang.. Papa juga sayang sama Gavin dan juga Bunda, mereka pun berpelukan. Sedangkan orang tua mereka, pelayan dan juga Daniel yang melihat itu terharu, dan tersenyum bahagia.

__ADS_1


"Pa, Ma, Ayah sama Ibu Kapan nyampe London nya?" Tanya Bagas sembari berjalan menghampiri orang tuanya. Bagas pun menyalami mereka semua. "Kok gak kasih tahu Bagas kalau mau ke London..?" Tanyanya lagi.


"Emangnya kenapa kalau kami gak ngasih tahu kamu?!" Tanya Papanya ketus. "Apa kami ganggu kalian? apa kamu gak senang kalau kami datang kesini?!"


"Bukan gitu Pa.. Bagas malah senang kalau kalian bisa kesini. Maksud Bagas kalau Papa kasih kabar kan bisa Bagas jemput ke Bandara.." Jawab Bagas yang heran lihat Papanya sampe sekarang Papanya masih saja bersikap jutek padanya.


"Gak perlu! karena Daniel sudah jemput kami di Bandara." Ujar Papanya masih dengan nada ketus.


Bagas menghela nafasnya, sabar Bagas Papa hanya butuh waktu berbicara seperti bisanya padamu. Gumamnya dalam hati.


"Uda dong Pa, kok ngomong sama anak sendiri seperti itu." ujar Mama Susi. "Sabar ya nak, Papa itu sebenarnya Uda maafin kamu, hanya saja dia bingung mau mulainya bagaimana."


"Gak apa-apa Ma Bagas ngerti kok, ini kan emang salah Bagas yang terpenting Papa sudah mau maafin Bagas." ujarnya.


"Makasih ya Ma..," Bagas langsung memeluk Mamanya. "Apa Zahra yang menyuruh kalian datang ke London juga Ma?" Tanya Bagas yang masih penasaran .


"Gak Bagas, kami emang niat mau datang kesini karena kedua Opanya Gavin pada kangen sama dia. Tiga hari yang lalu kami Uda kasih kabar ke istrimu kalau kami akan datang kesini, Zahra senang benget pas dengar kami mau main ke London, terus Zahra bilang ke kami kalau kamu mau ulang tahun sekalian aja buat kejutan untuk kamu." Ucap Mama Susi menjelaskan ke Bagas.


"Ooh.. begitu toh."


Setelah Bagas selesai berbicara dengan Mamanya, kini mertuanya yang mengucapkan selamat pada Bagas, serta memberikan hadiah sebuah kotak kecil ke Bagas yang isinya adalah dua buah dasi.


Kemudian Daniel yang menghampiri Bagas sahabatnya sekaligus Bos nya itu.

__ADS_1


"Selamat ulangtahun Bro, doa terbaik untuk lo. Gue senang lihat Lo sekarang bahagia." Ucap Daniel pada Bagas.


"Terimakasih Bro. Eh tunggu dulu deh, jadi Lo tadi ijin pulang cepat ke gua karena mau jemput orang tua sama mertua gue?!"


"Yup, tebakan lo benar."


"Jangan bilang lagi istri gue yang nyuruh Lo jemput mereka.."


" Hahaha.. Nah Lo benar lagi, jadi jangan coba-coba Lo marah sama gue. Gue hanya nurutin perintah dari istri Bos gue sendiri.." Ujar Daniel yang langsung pergi ninggalin Bagas yang sepertinya ingin bertanya lagi kepadanya, dan Daniel bisa tebak Bagas ingin bertanya apa padanya.


"Hei gue belum siap ngomong sama lo..! main kabur aja lo!" Ucap Bagas kesal, padahal Bagas mau tanya istrinya kok bisa memiliki nomor ponsel Daniel sedangkan ia gak merasa ngasih nomor Daniel pada istrinya itu.


"Gue tahu Lo mau tanya apa ke gue, jadi mending Lo tanya langsung sama istri Lo.." teriak Daniel karena jaraknya sudah jauh dari Bagas.


Sekarang mereka semua sudah berada di dalam kamar masing-masing setelah selesai makan malam yang sudah di sediakan Zahra, Daniel juga sudah pulang kerumahnya.


"Gavin sudah tidur mas.." Tanya Zahra yang lagi duduk di ranjang. "Uda sayang.." Jawabnya. Bagas kemudian nyamperin istrinya dan ikut duduk di samping istrinya.


"Mas.." panggil Zahra lembut.


"Iya sayang.. ada apa hmm?" Bagas menatap Zahra sembari mengelus kepalanya.


"Mas, ini ada hadiah untuk kamu dari aku." Zahra memberikan sebuah kotak kecil pada Bagas yang di beri pita dan ada juga kertas yang ia selipkan di pita tersebut. "Maaf mas aku gak bisa kasih kamu barang-barang mahal karena aku tahu kamu sudah memiliki banyak barang-barang branded di lemari kamu." Ucap Zahra lagi.

__ADS_1


"Gak apa-apa sayang.. mas gak perlu hadiah apapun, kamu dan Gavin selalu ada di samping mas terus itu Uda lebih dari cukup." Bagas pun langsung mengambil kertas yang ada di kotak pemberian Zahra kemudian membacanya.


__ADS_2