
"Kak gimana kalau kak Bagas sampai bertahun-tahun belum juga sadar dari komanya?" Tanya Sheina pada Rio. Mereka kini berada di kamar, tiduran di atas ranjang sembari berpelukan dengan tangan Rio yang mengelus perut buncit istrinya. Sekarang kandungan Sheina sudah jalan 8 bulan. Setiap kali akan tidur Sheina selalu meminta Rio untuk mengelus perutnya, kalau Rio tidak mengelusnya Sheina akan susah tidur.
"Mudah-mudahan Bagas tidak sampai bertahun-tahun baru sadar dari komanya. Kita jangan pernah berhenti untuk terus mendoakan Bagas agar cepat sadar. Mas sampai gak tega lihat Zahra setiap harinya harus tidur di rumah sakit. Untung Papa dan Mama setiap hari juga datang melihat keadaan Bagas dan Zahra." Ujar Rio.
"Tapi mbak Zahra kuat menjalani ini semua ya mas.."
"Iya sayang... mudah-mudahan Bagas cepat sadar dan Bagas bisa mendampingi Zahra saat lahiran nanti."
"Aamiin.." Jawabnya mengaminkan apa yang di ucapkan suaminya.
"Ayo kita tidur Uda malam, kamu gak boleh tidur sampai larut malam gak baik buat kamu dan dedek bayinya." Ucap Rio. Kemudian ia mencium kening, pipi dan juga bibir Sheina, lalu Rio turun ke perut istrinya dan mengajak anaknya bicara. "Anak Daddy yang pintar dan baik, baik-baik ya didalam sana.." Ucapnya sembari mengelus perut Sheina. Saat lagi mengelus Rio terkejut dengan tendangan dari anaknya, Rio langsung tersenyum lebar, ini yang selalu ia tunggu kalau sedang mengelus perut istrinya Sheina. "Anak Deddy pintar mengerti apa yang Deddy nya ucapkan." Ucap Rio dengan senyum yang masih terpancar di wajahnya. Sheina melihat Rio berinteraksi dengan anaknya yang terlihat begitu bahagia saat Rio mendapat tendangan dari anak mereka, membuat Sheina terharu dan tersenyum bahagia. "Uda malam bobok ya sayang anak Daddy.." Ucap Rio lagi sembari masih mengelus perut Sheina. Rio kembali merasakan tendangan dari anaknya. Ia benar-benar senang dan bahagia merasakannya. "MasyaAllah anak Daddy lincah ya didalam perut kamu sayang.. kakak jadi gak sabar lihat dia saat Uda lahir nanati.." ujarnya. Dan hanya di jawab dengan anggukan oleh Sheina. Kemudian Rio memeluk istrinya kembali, Sheina langsung membalas pelukan suaminya begitu erat.
Sheina gak nyangka bisa sampai ketitik ini, harapannya terkabul bisa menikah dengan laki-laki yang ia cintai dari SMA dulu secara diam-diam. Kakak angkatnya yang sudah mencuri hatinya sampai ia tidak bisa berpaling ke laki-laki lain. Sheina tidak pernah menyesal dulu untuk terus mempertahankan cintanya ke Kakak angkatnya, walaupun ia harus nunggu begitu lama untuk bisa bersama Rio. Dan sekarang mereka akan memiliki anak. Sheina selalu berdoa agar rumah tangganya baik-baik saja, tidak pernah ada masalah yang menggangu kehidupan rumahtangga mereka berdua.
"Kakak sayang banget sama kamu Shein.." Bisik Rio yang masih memeluk Sheina.
"Sheina juga sayang banget sama kakak. Jangan coba-coba kakak mempertanyakan soal cinta atau enggak nya Sheina ke kakak Rio. Kakak pasti Uda tahu jawabannya.."
"Hahaha.. iya kakak gak akan mempertanyakan soal cinta dan kesetiaan kamu ke kakak, sayang kakak tahu itu." Ucapnya yang masih tertawa sembari menatap wajah cantik istrinya yang malu-malu. "MasyaAllah cantik banget sih istri kakak apa lagi sejak hamil kamu makin cantik." Tambahnya menggoda istrinya Sheina.
__ADS_1
Sheina hanya tersenyum mendengar gombalan suaminya sembari menatap nya. Rio juga terus saja menatap wajah cantik Sheina, sampai Rio tidak tahan melihat bibir pink istrinya, ia kemudian mengecup bibir pink Sheina, tadinya hanya ingin mengecup tapi lama-lama Rio ********** dengan lembut. Dan terjadilah malam ini mereka berdua memadu kasih, niatnya ingin tidur ternyata itu hanya omongan saja. Sampai dini hari Rio dan Sheina baru tertidur.
Keesokan harinya.
Di Perusahan WILLIAMS GRUP. Saat ini Rio tengah sibuk dengan berkas-berkas yang ada di meja kerjanya. Semenjak Bagas koma Rio menempati ruangan Bagas, tadinya Rio tidak mau, tapi Papanya maksa jadi mau tidak mau Rio menuruti perintah Papanya.
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan pintu dari luar. "Masuk.." Jawab Rio dari dalam. Pintu pun terbuka, terlihat Mila masuk kedalam ruangan CEO yang di tempati nya sekarang.
Mendengar apa yang di ucapkan Mila, Rio langsung mengangkat kepalanya menatap Mila. "Kenapa gak kamu suruh masuk saja Mil?"
"Maaf Pak, tadi kan Pak Rio pesan sama saya tidak ingin di ganggu, jadi saya mencoba bertanya dulu."Jawab Mila sembari menundukkan kepalanya tidak enak.
Rio pun menghela nafasnya, ia lupa kalau tadi setelah sampai ruangannya Rio berpesan ke Mila Sekretaris nya untuk jangan mengganggu nya, karena ia harus menyelesaikan semua pekerjaan yang menumpuk di meja kerjanya.
"Ya uda Mil kamu suruh masuk tamu saya dan jangan lupa buatkan kopi untuk tamu saya." Ucapnya pada Mila.
__ADS_1
"Baik Pak, kalau gitu saya permisi."
"Hai bro.." Sapa seseorang yang masuk keruangan Rio. Rio pun langsung menghentikan kegiatannya kemudian melihat laki-laki tampan masuk keruangan nya. Rio pun tersenyum melihat laki-laki itu. "Hai Gio, ayo duduk jangan berdiri disitu aja." Ucap Rio pada sahabat dan juga rekan bisnisnya itu. Gio
pun jalan menuju sofa lalu duduk, di ikuti Sekretaris nya duduk di sampingnya.
Rio menautkan kedua alisnya bingung, melihat wanita cantik yang bersama Gio sahabatnya. Rio pun beranjak dari kursinya, lalu nyamperin sahabatnya yang duduk di sofa. "Bro siapa? kok gue baru lihat, biasanya Lo sama Sekretaris Lo." Tanya Rio dengan ikut duduk di sofa.
"O iya gue lupa ini kenalin sekretaris gue yang baru. Soalnya yang kemaren itu sebenarnya bukan sekretaris gue, tapi dia asisten dan orang kepercayaan gue." Jawab Gio tersenyum melihat Rio yang bingung. Rio lalu bersalaman dengan sekretaris Gio.
"Rio." Rio menyebut kan namanya.
"Yasmin." Ucap Sekretaris Gio yang menyebut nama nya juga sembari tersenyum menatap Rio.
"Jangan senyum-senyum gitu di depan pria, kamu mau menggoda sahabat saya? Urungkan niat kamu itu! Dia sudah menikah dan sebentar lagi mau punya anak!" marah Gio pada sekertarisnya yang tidak suka kalau Yasmin memperlihatkan senyum manisnya ke laki-laki lain. Rio yang mendengar Gio marah pada Sekretaris nya yang cantik itu pun tersenyum, sepertinya Gio menyukai wanita itu.
"O iya ada apa nih tumben main ke kantor?" Tanya Rio.
"Ya ampun gue sampai lupa kedatangan gue kesini." Jawab Gio. "Sebenarnya gue datang kesini, ada yang mau gue tanyain sama Lo Bro. Lo pernah bilang kalau Bagas sekarang mengurus Perusahannya di London. Tapi Minggu lalu gue ke London untuk urusan bisnis, dan sempat singgah ke Perusahaan Bagas yang disana, karena gue juga rindu sama dia, Uda beberapa bulan ini gue juga belum bertemu sama dia. Dan yang gue bingung saat gue kesana, Resepsionis bilang kalau Bagas semenjak menikah belum pernah lagi datang ke Perusahaan nya yang di London.. Gue mau tanya sebenarnya Bagas ada dimana? Gue juga Uda coba nelpon dan mengirim pesan ke dia, tapi ponselnya gak aktif. Bro ini sebanarnya ada apa?!" Tanya Gio pada Rio yang bingung kemana Bagas sebenarnya. Rio yang lagi duduk di di sofa pun menunduk sembari mengusap wajahnya. Ia bingung harus jujur atau gak pada sahabatnya Gio tentang Bagas yang sebenarnya.
__ADS_1
Kemudian Rio menghela napasnya panjang lalu mengangkat kepalanya melihat Gio.