CEO Ku Adalah Suamiku

CEO Ku Adalah Suamiku
76. Bab 76


__ADS_3

Satu bulan telah berlalu. Hari ini Bagas menyuruh istrinya untuk datang kekantor dan Bagas juga meminta pada istrinya untuk membawakan makan siang. Sebagai seorang istri Zahra dengan senang hati datang dan membawakan makan siang untuk suaminya. Tapi seminggu ini menurut Zahra ada yang aneh pada dirinya, ia sering cepat ngatuk, cepat lelah, ia juga sering pusing dan juga terkadang mual. Dan apa yang ia rasakan saat ini, Zahra sama sekali belum ada cerita ke suaminya. Soalnya dalam beberapa hari ini suaminya sering lembur, pasti kalau sudah pulang dari kantor Bagas sudah sangat kelelahan. Zahra tidak ingin menambah beban suaminya.


Bagas sudah cerita ke Zahra bahwa Suaminya dan Rio kemungkinan beberapa bulan akan sangat sibuk dengan proyek barunya bersama rekan bisnisnya yang ia tahu bernama Reisa, dan Bagas juga menceritakan kalau Reisa itu mantan kekasih suaminya saat masih SMA dulu. Suaminya sempat cerita juga kalau dirinya sangat risih dengan kedatangan Reisa setiap hari kekantor dengan alasan membahas proyek yang sedang berjalan saat ini.


Yang katanya Rio akan membantu dirinya untuk Rio saja yang menemui Reisa saat Reisa datang kekantor nyatanya tidak ada. Masalahnya Sheina selalu cemburu kalau Rio dekat dengan wanita lain, ia akan menangis sepanjang hari. Sheina setiap hari selalu ikut Rio kekantor dan tidak mau di tinggal sama sekali oleh Rio. Jadi itu semakin membuat Bagas pusing dengan tingkah adiknya yang lagi hamil. Mau tidak mau Bagas juga yang harus meladeni Reisa. Padahal Reisa sudah tahu kalau Bagas sudah miliki istri, tapi seakan Reisa tidak perduli. Bagas bukan tidak tahu kalau Reisa berusaaha terus mendekati dirinya. Zahra pun sebenarnya ada sedikit rasa cemburu kalau Reisa datang ke kantor bertemu suaminya, tapi ia tidak begitu menunjukannya. Zahra juga sudah beberapa kali bertemu dengan Reisa di ruangan suaminya. Seperti Reisa sengaja ingin memanas-manasi dirinya dengan memberikan perhatian kepada suaminya didepannya. Tapi Zahra bersyukur ternyata suaminya tidak pernah merespon apa yang di lakukan oleh Reisa, jadi ia lebih memilih percaya pada suaminya jika mereka bertemu kembali membahas pekerjaan.


Sampainya di depan gedung setelah supirnya mengantar dirinya ke WILLIAMS GRUP, Zahra langsung masuk kedalam. Di Lobby ada beberapa karyawan yang menyapanya. Sekarang Zahra Uda terbiasa kalau karyawan menyapanya dan tidak membuat Zahra canggung lagi pada mereka. Para karyawan juga senang kerena Zahra tetap menjadi Zahra yang dulu, ia tidak sombong karena sudah menjadi istri CEO, bahkan malah semakin baik pada karyawan.


Ting


Lift pun berhenti di lantai 20. Kemudian Zahra keluar dari lift dan jalan menuju ruangan suaminya sembari membawa bekal makan siang untuk suaminya. Sampai di depan meja Mila, Zahra berhenti dan bertanya pada Mila.


"Mbak Mila mas Bagas ada diruang nya kan?" Tanya Zahra pada Mila sembari tersenyum.


"Eh ada Zahra, tapi..-" Ucapannya terhenti karena Zahra sudah langsung membuka pintu ruangan Bosnya. Padahal ia mau bilang kalau wanita genit yang bernama Reisa ada di ruangan Bagas.

__ADS_1


Entah kenapa Zahra ingin langsung membuka pintu ruangan suaminya tanpa harus mengetuk dulu. Zahra lalu membuka pintu dengan perlahan.


Deg


Zahra terkejut dengan apa yang dia lihat saat ini, dadanya terasa sesak hati hancur, ingin rasanya ia menitihkan air matanya. Zahra mencoba untuk tahan, dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Sedangkan dua orang yang berada didalam masih belum sadar dengan ke datangn Zahra keruangan.


"Apa saya mengganggu kegiatan kalian berdua?" Tanya Zahra dengan berusaha untuk senyum.


Deg


Bagas langsung beranjak dari kursi dan juga terkejut saat mendengar suara yang ia kenal.


"Reisa kamu disini, tapi sayang bekal yang saya bawa hanya untuk SUAMI SAYA." Ucap Zara pada Reisa dengan menekan kata SUAMI SAYA pada Reisa. "Kalau saya tahu kamu disini saya akan juga membawakannya untukmu." Tambahnya lagi.


"Makasi Zahra, tidak apa-apa. Oke kalau begitu saya pamit, saya tidak akan menggangu makan siang kalian berdua." Ucapnya sembari beranjak nyamperin Bagas yang masih berdiri dekat mejanya, kemudian Reisa mencium pipi kiri dan kanan Bagas di depan Zahra. Reisa sengaja ingin membuat cemburu dan membuat Zahra dan Bagas bertengkar. "Makasih untuk yang tadi." Ucapnya sembari menatap Zahra dengan senyum licknya. Gue akan ngerebut Bagas dari lo Zahra. Apapun akan gue lakukan untuk bisa mendapatkan Bagas kembali sekalipun gue harus nyelakain lo. Gumamnya dalam hati. Kemudian Reisa degan santainya keluar dari ruangan Bagas.

__ADS_1


Sedangkan Bagas bingung dengan ucapan yang baru saja di bilang oleh Reisa.


"Ini makan siangnya mas.."Ucap Zahra yang nawarkan bekal makan siang yang iya bawa dari rumah tanpa mau menatap Bagas.


"Iya sayang mas mau ke toilet dulu cuci tangan."Jawab Bagas semabari menatap istrinya Zahra yang tak mau menatapnya saat bicara, Bagas pun menghela nafasnya. Ada rasa sesak di dadanya kalau istrinya marah dan gak mau menatapnya.


Saat Zahra melihat suaminya masuk ke toilet untuk cuci tangan. Zahra langsung beranjak dari sofa lalu pergi meninggalkan ruangan Bagas. Dengan hati yang benar-benar sakit, Zahra tidak tahan ingin sekali menitihkan air matanya. Saat keluar Zahra masih melihat Mila berada di mejanya.


"Mbak Zahra pulang ya.."Ucapnya langsung pergi ninggalin meja Mila.


"Iya Zah.-" Baru ingin menjawab, tapi Zahra sudah langsung jalan dengan terburu-buru. Kemudian Mila dikejutkan lagi oleh Bosnya yang tiba-tiba saja Uda muncul di hadapannya.


"Mil kamu lihat istri saya?"Tanya Bagas dengan wajah antara takut dan cemas. Soalnya saat ia keluar dari toilet setelah selesai cuci tangan, Bagas tidak melihat istrinya berada di ruangannya. Bagas yakin istrinya benar-benar marah banget sama dirinya.


"Oh Zahra Uda pergi Pak, kaya nya dia buru-buru." Jawab Mila santai yang memang tidak tahu apa-apa.

__ADS_1


Setelah mendengar jawaban dari sekretaris nya Bagas langsung lari menuju lift, berharap istrinya masih berada di gedung Perusahaan nya. Didalam lift Bagas dengan paniknya berusaha menelpon Zahra sampai entah yang keberapa kali, tapi tidak di angkat-angkat oleh istrinya.


"Sayang please angkat telpon dari mas.. dengarin dulu penjelasan dari mas sayang...kamu salah paham, apa yang kamu lihat tadi, tidak seperti apa yang kamu pikirkan sayang. Maafin mas.. maafin mas. Mas sayang banget sama kamu sayang. Mas gak kamu ninggalin mas. Please sayang angkat telponnya." Ucap Bagas bicara sendiri. "Aaahhh!!" teriak Bagas sembari memukuli dinding Lift karena telponnya tidak di angkat-angkat juga oleh istrinya.


__ADS_2