CEO Ku Adalah Suamiku

CEO Ku Adalah Suamiku
121. Bab 121


__ADS_3

Keesokan harinya, tepat di sore hari Zahra tengah asik berjalan keliling di sekitar halaman rumahnya sembari menikmati indahnya taman bunga yang ada di halaman rumah milik kakek William.


"Sayang lagi apa?" Tanya Bagas yang tiba-tiba saja datang sembari memeluk istrinya dari belakang.


"Mas kamu sudah pulang?"


"Iya sayang.." Jawab Bagas. "Mas kangen kamu, habisnya hari ini kamu gak ikut mas ke kantor. Kamu tahu sendiri semenjak kamu hamil mas makin gak bisa jauh dari kamu dan baby kita." ujar Bagas yang masih memeluk Zahra sembari mengelus perut istrinya dari belakang.


"Gombal." ucap Zahra yang memang pada hari ini dirinya tidak ikut suaminya kekantor,, karena Zahra merasa bosan berada di sana, dan dengan sangat terpaksa Bagas mengijinkan istrinya tetap berada di rumah.


"Kok gombal sih! mas serius loh sayang. Apa ngidam yang mas rasakan belum hilang juga ya.."


"Emangnya mas ngidam apa?" Tanya Zahra sembari tangannya berada di pipi Bagas dan mengelusnya dengan lembut. Seketika Bagas memejamkan matanya karena tengah merasakan dan menikmati sentuhan lembut dari istrinya.


"Mas ngidamnya gak bisa jauh dari kamu dan baby sayang." Jawab Bagas apa adanya.


"Ha ha ha, ada-ada aja kamu mas.." menurut Zahra suaminya ini sangat menggemaskan, apalagi saat mengalami morning sickness kemarin suaminya sangat manja dengannya gak bisa jauh darinya.


"Beneran sayang mas gak bohong. Please besok ikut mas kekantor lagi ya.." rengek Bagas lalu memutar tubuh Zahra agar menghadap dirinya. Bagas menatap Zahra dengan dalam, jantungnya yang berdetak kencang kalau sudah menatap istrinya dan. itu masih selalu ia rasakan sampai sekarang, sama seperti saat pertama kali mereka bertemu. Kemudian Bagas mengecup bibir Zahra kilat, lalu membawa Zahra masuk kedalam dekapannya. Zahra pun membalas dekapan suaminya dengan erat, sembari menghirup dalam-dalam aroma maskulin tubuh suaminya, jujur Zahra juga sangat merindukan suaminya, apalagi kehamilan yang kedua ini Zahra maunya di peluk terus sama sang suami. Mungkin bawaan bayi kali ya..


"Sayang masuk kedalam yuk.." ajak Bagas pada Zahra. "Uda hampir gelap loh diluar gak bagus buat kamu yang lagi hamil."

__ADS_1


"Iya mas.." Bagas pun langsung memeluk bahu istrinya serta Zahra memeluk pinggang Bagas, mereka pun masuk kedalam rumah dengan saling pelukan.


Setelah selesai makan malam Bagas dan Zahra langsung masuk kedalam kamar mereka. Sedangkan Gavin, hari ini lagi menginap di apartemen Daniel. Sore tadi saat pulang kerja Daniel membawa Gavin untuk ikut dan mengajaknya menginap di apartemen nya, dan Gavin mau-mau saja di ajak Daniel tapi tentunya setelah mendapatkan ijin dari Papanya.


"Sayang kira-kira Gavin nangis gak ya tidur di apartemen Daniel?" Tanya Bagas yang kuatir pada anaknya, ia takut anaknya rewel dan membuat Daniel kerepotan.


" Kaya' nya gak deh mas, Gavin anaknya gak rewel dan dia juga Uda bisa melakukan apa pun sendiri. Mas tenang aja, lagian Gavin kan sudah dekat banget dengan Daniel, sama dekatnya dengan kak Rio." Ucap Zahra menenangkan suaminya. "Kalau pun Gavin nangis pasti Kak Daniel ngantar Gavin pulang mas.." tambah Zahra lagi


"Iya juga ya sayang.." ujar Bagas.


"O iya mas apa kak Daniel tidak memiliki kekasih gitu?" Tanya Zahra


"Setahu mas sih gak ada." jawab Bagas. "memang nya kenapa sayang? Apa kamu berniat mencarikan jodoh untuknya.."


"Lisa?" ucap Bagas yang langsung menatap Zahra semabri menaikkan salah satu alisnya.


"Iya mas.. Lisa yang kamu suruh mata-matain Zahra dikantor, Jangan sok pura-pura lupa deh." jawabnya kesal


"Ha ha ha, kamu kok tahu sih sayang kalau Lisa itu mata-mata mas."


"Lisa sendiri mas yang cerita sama aku, mas selalu memantau Zahra saat masih kerja di WILLIAMS GRUP melalui Lisa. Bahkan pernah Zahra lembur, mas nyuruh Lisa nemenin Zahra kan, karena mas takut kalau Sonya nyelakain Zahra." Bagas terkekeh saat istrinya menceritakan lagi dirinya yang menyuruh Lisa sahabat dari Zahra untuk terus memantau istrinya dari Sonya.

__ADS_1


"Apa sampai sekarang Lisa belum nikah atau memiliki kekasih juga yank..?" tanya Bagas.


"Kemaren itu ada mas, bahkan mereka hampir mau menikah. Tapi sayang harus batal, karena ternyata kekesihnya selingkuh dengan adik tirinya dan parahnya lagi adiknya itu hamil mas.." ucap Zahra menjawab pertanyaan Bagas.


"Ya ampun, kamu serius sayang?" tanyanya tak percaya


"Iya mas.. makanya sampai sekarang Lisa belum berani menjalain hubungan lagi dengan lelaki, ia takut disakiti lagi." jawabnya sembari memeluk Bagas dari samping. "Jadi mas, gimana kalau beneran kita jodohkan saja Lisa dengan kak Daniel, siapa tahu ajakan mas mereka beneran jodoh. Selama aku kenal kak Daniel beberapa bulan ini, dia orangnya baik kok." tuturnya.


"Ya uda, besok mas coba ngomong sama Daniel deh." ucap Bagas. "Uda jam 10 malam, kita tidur ya sayang.." Ajaknya.


"Iya mas.."


"Sayang.." panggil Bagas lembut


"Emm"


"Se-sebenarnya.."


"Kenapa mas.." potong Zahra langsung yang melihat suaminya seperti ragu atau takut mau berbicara padanya.


"Sebenarnya mas pengen kamu sayang, tapi mas takut nyakiti adek." ucap Bagas seraya mengelus perut Zahra.

__ADS_1


"Ya ampun mas kirain kamu mau ngomong apa, sampai mau ngomong aja kamu kaya ragu. Mas bisa kok melakukannya dengan pelan-pelan, agar tidak menyakiti baby nya." Zahra sebenarnya juga sangat menginginkan sentuhan dan penyatuan dengan suaminya, tapi ia malu untuk memintanya lebih dulu.


Bagas yang telah mendapat ijin dari istrinya, langsung mencium bibir istrinya dengan lembut sembari membaringkan istrinya di ranjang.


__ADS_2