CEO Ku Adalah Suamiku

CEO Ku Adalah Suamiku
131. Bab 131


__ADS_3

Saat akan masuk kedalam mobil, tangan Bagas di pegang oleh Daniel.


"Biar gue yang nganter Lo ke rumah sakit. Lo sekarang lagi panik entar terjadi sesuatu sama Lo." Ucap Daniel yang menarik Bagas ke mobilnya.


"Thanks bro."


Daniel langsung melajukan mobilnya setelah mereka berdua sudah masuk kedalam mobil. Setengah jam mereka baru sampai di rumah sakit, sampai nya di parkiran Bagas langsung saja keluar dari mobil Daniel tanpa memperdulikan Daniel yang sudah mengantarnya. Bagas berlari menuju ruangan bersalin istrinya, yang sebelumnya Mery sudah mengirimkan pesan dimana letak ruangan istrinya.


"Mery gimana istri saya?" Tanya Bagas yang sudah berada di depan ruangan istrinya dengan nafas tersengal-sengal kerena Bagas berlari menuju ruangan Zahra.


"Tu..tuan sudah datang.." jawab Mery yang yang sedikit gugup. "Lebih baik tuan langsung masuk kedalam, Dokter pesan kalau tuan datang di suruh langsung masuk kedalam tuan." Ucap Mery memberitahu kan pada Bagas.


"Hmm.." Saat akan masuk ke dalam, Bagas menghentikan langkahnya lalu melihat Mery dan bertanya kepada nya.


"Mery dimana Gavin? kok Gavin tidak ikut kerumah sakit?!" Tanyanya yang ingat akan anak laki-laki nya.


"Kak Gavin ada di rumah tuan, ada Neni yang menjaganya. Nyonya Zahra sengaja tidak membawa kak Gavin karena tidak mau melihatnya kuatir."Jawab Mery.


Melihat Daniel yang baru sampai di ruangan bersalin Bagas akan meminta tolong Daniel untuk melihat Gavin di rumah.

__ADS_1


"Daniel gue_"


"Iya Lo tenang aja, gue akan jemput Gavin di rumah Lo ."Potong Daniel langsung. "Lo fokus aja dengan kelahiran Zahra, Gavin biar gue bawa pulang kerumah gue dulu." ucap Daniel.


"Thanks bro." Daniel menjawab dengan tersenyuman dan kemudian Bagas masuk kedalam menemui istrinya.


Saat sudah berada di dalam, Bagas sempat terpaku dan matanya mulai berkaca-kaca melihat istrinya kesakitan dengan wajah pucat di atas brangkar.


"Mas kamu sudah datang?" Tanya Zahra yang melihat suaminya sudah berada di ruangan. "mas.."panggil Zahra lagi dengan suara lemahnya suaminya malah diam mematung didepan pintu.


"Tuan.." panggil Dokter kandungan.


Bagas langsung menghampiri Zahra dan menggenggam tangan istrinya.


"Sayang mas minta maaf, Uda ninggalin kamu. Seharusnya selesai meeting tadi mas langsung aja pulang ke rumah, ini malah membahas hasil meeting bersama Daniel." Ucap Bagas merasa bersalah pada istrinya. Kemudian Bagas mencium keningnya istrinya berkali-kali, ia benar-benar merasa bersalah.


"Gak apa-apa mas.." Zahra meremas kencang tangan Bagas, ia merasakan perutnya kontraksi kembali dan lama-kelamaan rasanya semakin sakit saja. Membuat Bagas sampai meringis, tapi bukan karena tangannya yang di remas kencang oleh istrinya melainkan melihat istrinya merasakan kesakitan yang teramat sangat. Bagas jadi tidak tega melihat istrinya mengalami semua ini.


"Sakit banget ya sayang, hmm?" tanya Bagas dan hanya di balas dengan senyuman oleh Zahra. Bagas mengusap kening istrinya yang berkeringat kemudian mencium kening dan bibir istrinya dengan lembut dan sayang. Bagas juga mengelus perut istrinya, lalu pindah memijat pinggang Zahra untuk mengurangi rasa sakitnya.

__ADS_1


"Dokter ini gimana istri saya?!" ucapnya dengan nada sedikit meninggi. "Cepat Dok lakukan sesuatu!" tambah nya lagi yang Uda mulai emosi.


"Mas, orang melahirkan emang seperti ini mas sakitnya. Mas tenang ya, cukup temani Zahra disini dan doain Zahra." Ucap Zahra sembari mengelus lengan Bagas dengan lembut.


"Gimana mas bisa tenang sayang! kamunya sampai kesakitan seperti ini! kalau bisa digantikan biar mas aja yang merasakan sakitnya."


Sedangkan Dokter yang menangani Zahra hanya tersenyum melihat Bagas mulai emosi.


"Ayo nyonya, kita mulai ya.. ini pembukaannya Uda sempurna." Ucap Dokter memberikan instruksi.


Zahra mulai mengejan, "Ayo nyonya kepalanya sudah terlihat." ujar Dokter tersebut.


"Ayo sayang pasti kamu bisa." Bagas berusaha memberikan semangat pada istrinya. Padahal yang sebenarnya Bagas merasakan sesak melihat istrinya merintih kesakitan.


Zahra mengatur nafasnya yang terengah-engah, Zahra kembali mengejan dan tangannya mulai mencakar lengan Bagas.


"Sayang, cakar saja tidak apa-apa bila perlu gigit tangan mas, kalau itu bisa buat ngurangin rasa sakitnya." Ucap Bagas dengan mata sudah berkaca-kaca, Bagas benar-benar tidak sanggup lagi melihat istrinya.


"Ma..mas, aku minta maaf kalau ada salah sama kamu. Tolong jaga anak-anak kita ya mas." Zahra kembali mengejan.

__ADS_1


"Enggak sayang, kamu pasti bisa, kamu akan baik-baik saja dan kita akan merawat serta menjaga anak kita bersama-sama." Bagas mencoba meyakinkan istrinya dan dirinya.


__ADS_2