CEO Ku Adalah Suamiku

CEO Ku Adalah Suamiku
110. Bab 110


__ADS_3

Akhirnya mobil Bagas sampai di sebuah gedung mewah Perusahan WILLIAMS PROPERTY yang menjulang tinggi. Bagas, Zahra dan juga Gavin keluar dari mobil setelah Bagas memarkirkan mobilnya.


"Uda siap Bunda?" Zahra tersenyum manis Bagas memanggil nya Bunda.


"Uda Papa.." balas Zahra.


Mereka pun langsung masuk kedalam Gedung dengan tangan kiri Bagas menggendong Gavin, dan sebelahnya lagi menggenggam tangan Zahra. Samapai di Loby, banyak karyawan yang memandang mereka dengan penuh tanya. Siapa wanita dan juga anak kecil yang sangat tampan yang datang bersama CEO mereka.


"Pagi semua.." Sapa Bagas pada karyawan yang lagi menunggu lift. Sedangkan Zahra hanya tersenyum melihat tatapan karyawan Bagas padanya.


"Pagi Pak.." jawab mereka semua.


Bagas melewati mereka menuju Lift khusus yang akan membawa mereka keruangan CEO di lantai 15, dimana ruangan Bagas berada.


"Daniel Lo Uda di sini?" Tanya Bagas yang baru saja sampai di ruangannya.


"Iya gue lagi nunggu Lo setengah jam lagi meeting akan di mulai." Jawab Daneil. "Hei Boy.." sapa Daneil ke Gavin sembari mendekati Gavin yang masih berada di gendongan Bagas.


"Hai Om.." balas Gavin.


"Sayang Salim dulu uncle Daniel nya.." Ucap Bagas. Gavin bingung dengan sebutan Uncle yang baru diucapkan Papanya.


"An..cel?" Ucapnya bingung. "Ancel itu apa Papa?" Tanya Gavin polos. Membuat mereka yang mendengarnya pun tertawa, sungguh Gavin sangat lucu dan menggemaskan.


"Bukan Ancel sayang.. tapi Uncle." jawab Bagas. "Coba Gavin kamu ulangi lagi, Uncle." Bagas

__ADS_1


"Un..cle. Gavin mengikuti.


"Ya itu baru benar sayang, pinter Banget sih anaknya Papa.." Ucap Bagas. "Uncle itu apa Papa?" Tanya Gavin lagi. "Uncle itu sama aja dengan Om. Kalau disini panggilan nya Uncle, tapi kalau di rumah Opa yang di Indonesia baru Om.." Ucap Bagas menjelaskan dengan lembut. Gavin seperti sedang berpikir, beberapa detik Gavin bicara kembali. "Jadi Uncle itu sama dipanggil Om ya Papa?" Tanyanya lagi. "Iya Boy benar.. MasyaAllah anak Papa cepat banget sih mengertinya.." Balas Bagas senang melihat kepintaran anaknya.


"Papa akan masukan kamu Kursus Bahasa Inggris Boy biar kamu bisa bahasa Inggris, bila perlu semua Bahasa harus kamu kuasai." Ucap Bagas pada Gavin ya walaupun Gavin belum ngerti apa yang Bagas bicarakan.


Tepat jam 9 pagi meeting akan di mulai.


"Gas gue duluan keluar ya." Ucap Daniel mengerti kalau Bagas ingin bicara dengan istrinya.


"Oke Bro, tunggu aja gue di depan ruangan gue."Balas Bagas. Kemudian ia nyamperin istrinya yang lagi duduk di Sofa, Bagas menurunkan Gavin duduk di sebelah Zahra.


"Bunda, Papa meeting dulu ya, gak lama kok. Gavin sama Bunda dulu ya sayang.. Papa mau kerja dulu, Oke Boy?"


"Iya Papa.. semangat Papa." balas Zahra sembari tersenyum manis kepada Bagas. Bagas pun langsung mencium kening istrinya dan juga Gavin dengan sayang. Ingin sekali rasanya Bagas mencium bibir istrinya yang membuatnya candu itu, tapi karena ada anaknya Gavin, ia tidak mungkin melakukan itu di depan anaknya.


Dah Papa.. jangan lama-lama ya Papa.."


"Oke Boy."


Bagas pun keluar dari ruangannya menuju ruang meeting bersama Daniel. Sampainya Bagas dan juga Daniel di ruang meeting, mereka langsung memberi hormat ke Bagas, setelahnya meeting pun di mulai. Satu jam telah berlalu, tapi meeting belum juga selesai, mereka sedang membahas banyaknya Proyek yang akan mereka kerjakan, mulai membangun Apartemen, Mall dan sebagainya. Bagas benar-benar memilih orang-orang jujur dan bisa di percaya untuk memegang proyeknya tersebut, Bagas tidak mau apa yang di kerjakan mereka berhenti di tengah jalan karena adanya yang korupsi dan membuat rekan bisnisnya kecewa padanya dan juga Perusahan Kakeknya. Oleh karena itu dalam melakukan pekerjaan nya Bagas orangnya sangatlah teliti dan Bagas telah mengirim orang khusus untuk memantau.


Setelah hampir dua jam akhirnya mereka selesai meeting. Bagas langsung menuju ruangannya, ia jadi merasa bersalah telah meninggalkan Istri dan anaknya begitu lama.


"Daniel tolong Lo buat laporannya langsung dan kirim ke email gue." ucap Bagas sembari berjalan menuju ruangnnya.

__ADS_1


"Oke Bro, gue balik kerungan gue ya.."


"Hmm."


Bagas membuka pintu ruangannya. Dilihatnya Gavin lagi tidur di sofa, sedangkan Zahra tidak ada di ruangannya. Bagas menaikan kedua alisnya, bertanya pada dirinya sendiri, "Kemana Zahra? kok gak ada di ruangan." Bagas menghampiri Gavin yang lagi tidur di sofa, di kecup kening anaknya pelan agar tidak membangun kan Gavin.


Bagas kemudian beranjak dan mencari istrinya di toilet yang ada di ruangan pribadinya tapi tidak menemukan Zahra, lalu Bagas menuju ke Pantry yang ada di ruangannya juga, Alhamdulillah ternyata istrinya ada di pantry sedang membuat sesuatu. Dengan jalan perlahan Bagas mendekat ke Zahra lalu memeluk istrinya dari belakang.


"Ya Allah mas ngagetin aja." ucap Zahra yang sempat terkejut.


"Mas cariin ternyata kamu disini. Maaf mas lama meeting nya."


"Gak apa-apa mas, kan mas lagi kerja."


Bagas membalikan tubuh Zahra menghadap dirinya, di pandang wajah imut istrinya yang makin hari semakin cantik, membuat pipinya memerah karena mau di pandang lekat oleh Bagas.


Bagas menarik pinggang istrinya agar semakin dekat dengan dirinya, kemudian Bagas mencium bibir istrinya lembut, lalu mengecapnya. Zahra pun terbuai dan membalas ciuman dari suaminya, Bagas lepaskan nya setelah serasa istrinya kehabisan nafas. Bagas memeluk istrinya erat, dan di balas oleh Zahra.


"Mas sayang kamu benget."


"Zahra juga sayang mas."


"Sayang, mas mohon jangan pernah tinggalin mas jika suatu saat mas melakukan kesalahan lagi, tegur saja mas sayang." Mohon Bagas


"Iya mas.." Zahra menyentuh kedua pipi Bagas dan mencium bibir Bagas lembut.

__ADS_1


"Ya uda yuk kita makan siang Zahra Uda lapar mas..,"


"Hahaha iya mas sampai lupa kalau kita belum makan siang." Mereka berdua pun keluar dari Pantry.


__ADS_2