
Sedangkan Zahra diruangannya masih terus memikirkan suaminya. Ayah nya bilang kalau suaminya Bagas baik-baik saja, hanya Bagas harus benar-benar istrahat demi kesembuhannya. Ia ingin sekali saja bisa melihat keadaan suaminya, Zahra rindu suaminya, ia ingin memeluk suaminya. Dalam hati Zahra, ia masih saja merasa bersalah pada suaminya. Kalau saja ia tidak meninggalkan kantor siang tadi, pasti tidak akan terjadi seperti ini. Pasti suaminya masih sehat dan bekerja di kantornya. Mungkin kandungannya juga tidak akan lemah dan baik-baik saja. Zahra kembali menangis, sungguh ia sudah sangat jahat pada suaminya dan calon anaknya. Ia hanya bisa berdoa akan kesembuhan suaminya.
Di ruang ICU, Papa Bimo duduk di samping ranjang anaknya sembari menggenggam tangan Bagas.
"Hei jagoan Papa.. Kamu betah banget tidur lama-lama, apa kamu gak kangen dengan menantu kesayangan Papa? kamu kan paling tidak bisa jauh dari Zahra. Ayo dong anak Papa bangun.. O iya Papa ada kabar gembira buat kamu, pasti anak Papa yang playboy ini bahagia mendengarnya." Ucap Papa Bimo sembari mengelus kepala anaknya dengan lembut dan sayang. Papa Bimo tidak tega lihat anaknya seperti ini tanpa terasa Papa Bimo menitihkan air matanya. "Sayang kamu tahu kalau Zahra istri kamu sekarang Uda hamil.. itu kan yang kamu tunggu-tunggu? Makanya kamu bangun ya.. kasian Zahra, dia hamil tapi kamu gak ada di sampingnya. Entar kalau dia lagi ngidam siapa yang akan menuruti ngidamnya kalau bukan kamu nak... Papa mohon kamu bangun ya.. Maaf ya nak, untuk sementara Zahra tidak bisa menjenguk kamu, karena dia harus BedRest akibat kecelakaan siang tadi. Zahra tidak boleh beranjak dari ranjang dulu, sampai janinnya benar-benar kuat. Please nak bangun ya kamu harus cepat sadar nak biar bisa selalu ada di sampingnya menjalani kehamilannya." Papa Bimo terus berbicara dengar harapan saat ngasih kabar kalau Zahra tengah hamil, Bagas bisa cepat sadar. Papa Bimo terus saja menatap wajah anaknya yang pucat, siapa tahu aja ada pergerakan dari anaknya. Sampai 5 menit, Papa Bagas terkejut apa yang baru saja dilihatnya. Mata Bagas mengeluarkan air mata, itu berarti Bagas mendengar apa yang baru saja di ucapkannya. "Sayang kamu dengar Papa kan? Papa mohon sayang bangun ya.. kasian istri kamu Zahra nak.. ayo sayang kamu semangat untuk cepat sadar." Ucap Papa Bimo yang terus meminta anaknya untuk cepat bangun dari komanya. Papa Bimo menitihkan air matanya saat melihat Bagas mengeluarkan air matanya kembali dengan mata yang masih terus terpejam. Kemudian Papa Bimo memencet tombol di dekat ranjang Bagas untuk memanggil Dokter. Selang beberapa menit Dokter Haris dan perawat masuk keruangan Bagas.
"Pak Bimo ada apa, apakah ada yang terjadi oleh Pasien?" Tanyanya sembari nyamperin ranjang Bagas untuk memeriksa.
"Itu Dok, tadi saat saya berbicara dengan anak saya dia sempat mengeluarkan air matanya Dok.." Jawab Papa Bagas. Kemudian Dokter Haris memeriksa Bagas keseluruhannya.
__ADS_1
"Tapi maaf Pak, pasien masih koma..Tapi dengan pasien mengeluarkan air matanya, berarti ia mendengar apa yang Pak Bimo ucapkan, dan pasien mulai meresponnya. Kalau bisa lakukan setiap kali keluarga atau pun temannya yang ingin menjenguknya, selalu mengajak pasien bercerita." Dokter Haris menjelaskan. "Maaf Pak Bimo jam besuk sudah habis, mari kita keluar Pak.."
Papa Bimo pun ikut keluar bersama Dokter Haris. Papa Bimo kemudian duduk disamping Rio. Sedangkan Dokter Haris kembali ke ruangannya.
Tak terasa sudah satu Minggu Bagas belum juga sadar dari komanya. Papa Bimo akhirnya memutuskan akan membawa Bagas anaknya ke Luar negeri untuk pengobatan Bagas agar cepat sadar. Dokter Haris juga sudah merekomendasikan rumah sakit yang Bagus dan memiliki alat yang canggih kepada Papa Bimo. Papa Bimo berniat membawa Bagas ke London karena disana mereka memiliki rumah, jadi Papanya bisa bergantian bersama istrinya saat akan menjaga Bagas di rumah sakit di London.
Terkadang ia suka sedih karena ingin di peluk oleh suaminya, ia kangen mencium harum tubuh suaminya. Ia juga rindu kepada apa yang sering dilakukan suaminya padanya. Tapi mau gimana lagi karena BedRest ia tidak bisa kemana-mana, melihat kondisi suaminya saja tidak diperbolehkan.
__ADS_1
Sebenarnya Zahra sedikit curiga kepada keluarga nya kenapa melihat suaminya saja ia tidak di ijinkan, kalaupun suaminya keadaan nya baik-baik saja dan tidak terlalu parah, setidaknya pasti suaminya bisa melihat ke ruangannya kalau tidak video Call juga bisa. Hari ini Zahra akan maksa orangtuanya maupun mertuanya untuk memperbolehkan dirinya melihat keadaan suaminya. Kalau belum juga boleh, ia akan melakukan cara lain.
"Sayang kamu sudah siap untuk pulang kerumah?" tanya Ibunya yang tiba-tiba sudah masuk kedalam ruangannya.
"Sudah Bu.. tapi sebelum pulang Zahra mohon untuk ijinkan Zahra melihat mas Bagas. Zahra Uda sangat merindukan nya Bu.." mohon Zahra pada Ibunya untuk bisa melihat suaminya.
"Sayang sabar dulu ya kalau mau melihat suami kamu.. kita pulang dulu kerumah." Ucap Ibu Indah beralasan. Sebenarnya ia juga tidak tega harus menyembunyikan keadaan Bagas pada anaknya, karena Zahra berhak tahu keadaan suaminya.
"Kenapa sih Bu.. Zahra masih aja tidak boleh melihat suami Zahra sendiri... atau jangan-jangan kalian semua menyembunyikan sesuatu dari Zahra.?" Malihat Ibu diam saja dan tidak menjawab, feeling nya pasti benar, ada yang di sembunyikan oleh keluarganya. *Apa sebenarnya mas Bagas tidak baik-baik saja atau jangan-jangan mas Bagas suaminya sudah meninggal. Makanya keluarga nya tidak mengizinkan ia bertemu suaminya*. *Ya Allah.. Tidak, tidak jangan sampai itu terjadi. Hamba mohon ya Allah jangan engkau ambil secepat itu suami hamba. Gumam Zahra dalam hati*. "Baiklah kalau Ibu gak mau bicara yang sebenarnya, Zahra akan cari tahu sendiri. Dan sebelum Zahra bertemu dengan mas Bagas, Zahra tidak mau pulang ke rumah, sampai Zahra tahu keadaan mas Bagas." Kemudian Zahra turun dari ranjang nya, berjalan menuju pintu untuk keluar mencari keberadaan suaminya di setiap ruangan rumah sakit. Saat sudah di depan pintu Ibu Indah menahannya.
__ADS_1
"Iya sayang Ibu akan beritahu kamu keadaan Bagas, sini kamu duduk dulu. IBu mohon setelah kamu tahu keadaan nya, kamu jangan sampai syok, jangan stres, jangan banyak pikiran dan kamu harus kuat. Ingat kandungan kamu, mengartikan?" Tanya Bu indah.
"Iya Bu.." Jawab Zahra.