
Rio dan juga Yuda melihat Bagas seperti itu, jadi ikut sedih dan menitihkan air matanya. Kemudian Rio masuk menghampiri Bagas, lalu Rio mengelus punggung rapuh Bagas, adiknya anak dari Papa angkatnya yang sedang menangis terisak dan bahkan bahunya sampai bergetar.
"Lo harus kuat Gas.. apa Lo pikir Zahra akan senang melihat suaminya seperti ini?! enggak Gas.. malah Zahra akan sedih melihat Lo kaya gini." ucap Rio berusaha untuk menenangkan Bagas.
"ini Uda lima hari Yo.. gue harus gimana?"
Rio menghela nafasnya pelan, ia Sebenarnya juga gak tahu harus gimana dan jika seandainya itu terjadi pada Sheina, istrinya mungkin saja dirinya akan sama seperti Bagas, tetapi yang bisa mereka lakukan sekarang hanya bisa berdoa semoga Zahra cepat sadar.
"Yang harus Lo lakuin adalah kuat Gas.. kalau Lo seperti ini gimana sama dengan anak-anak Lo, Lo adalah kekuatan mereka. Untung saja Gavin tidak mengetahui bundanya koma, kalau dirinya tahu gimana? mungkin bisa saja dia lebih rapuh dari pada Lo. Jika Lo ingin membahagiakan Zahra, Lo harus kuat. Seharusnya Lo bisa seperti Zahra yang kuat merawat lo saat lo koma dulu sampai 6 bulan lamanya. Bahkan dia kuat dan ikhlas saat Lo meninggalkannya dan memilih ke London selama 3 tahun, dan mengurus Gavin sendiri. Seharusnya Lo nyemangatin Zahra agar cepat sadar jangan malah membuat Zahra sedih dengan keadaan Lo yang kaya gini. Lo pikir Lo doang yang sedih, semua keluarga juga sedih lihat Zahra seperti ini, Bagas.. tapi kita bisa apa? hanya sabar, kuat dan berdoa yang bisa kita lakukan sekarang ini, agar Zahra cepat sadar. Gue yakin Zahra pasti sadar asalkan Lo beri semangat terus ke dia dan Lo harus kuat demi anak-anak Lo." ucap Rio lagi menasehati Bagas agar ia kuat dengan keadaan ini.
Bagas menundukkan kepalanya dengan air mata yang terus menetes di pipinya, ia membenarkan perkataan dari Rio, seharusnya ia kuat demi kedua anaknya dan harus nya ia memberi semangat ke istrinya bukan malah terpuruk seperti ini. Dan Rio benar istrinya akan sedih melihat dirinya seperti ini.
"Gue rindu banget dengan Zahra Yo.." Lirihnya.
"Iya gue tahu.. dan ini pasti sangat berat buat Lo, tapi Lo harus kuat Gas.." balasnya.
"Hmmm.."
__ADS_1
Papa dan Mamanya Bagas yang melihat dari luar ruangan, kasihan dan tak tega dengan anaknya yang hancur dan kacau seperti ini. Apalagi Bagas seperti orang yang tidak terurus, makan pun kalau tidak di paksa Bagas tidak akan mau makan. Mereka bisa melihat Bagas benar-benar sangat mencintai Zahra. Begitu juga dengan mertua Bagas yaitu orang tua dari Zahra, mereka juga tidak tega melihat menantu nya sangat frustasi karena Zahra yang koma.
Setelah Rio keluar dari ruangan Zahra, giliran Mama Susi masuk kedalam menghampiri anaknya, Bagas.
"Sayang.." panggil Mama Susi sembari mengelus pundak anaknya itu.
"Mam.."
"sayang, kamu harus istrahat dulu, biar Mama dan mertua kamu yang gantian menjaga Zahra disini." Ucap Mama Susi yang tak tega melihat anaknya kelihatan sangat lelah.
"Iya ma.., sebentar lagi Bagas istirahat."Balas Bagas yang masih saja menatap wajah istrinya.
"Mama.." ucapnya Lirih.
"makanya kamu pergi mandi sana, biar segeran.. habis itu kamu istirahat dulu. Zahra dengan Zoya biar Mama yang jaga mereka."
"Iya ma.." Bagas pun beranjak dari kursi, lalu pergi ke kamar mandi yang berada di ruangan istrinya.
__ADS_1
Sepuluh menit Bagas keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sudah nampak segar. Kemudian Bagas menghampiri ranjang istrinya.
"Sayang, mas tidur sebentar ya..kamu di jaga sama mama dulu." ucap Bagas sembari mencium kening istrinya. Bagas ingin kembali meneteskan air matanya, tetapi berusaha ia tahan di depan mamanya.
"Ma, Bagas titip Zahra dan Zoya dulu ya.. Bagas mau istrahat sebentar aja."
"Iya sayang, kamu istrahat aja dulu," balas mamanya yang lagi memberikan susu formula pada cucunya. pada saat Bagas masuk kamar mandi, Zoya sempat bangun dan menangis karena haus.
Bagas pun langsung berjalan menuju sofa yang ada di ruangan istrinya. Kemudian Bagas merebahkan tubuhnya di atas sofa, sesaat Bagas menghela nafasnya pelan ia benar-benar sangat lelah. Dengan perasaan yang masih tidak menentu, antara rindu akan istrinya, cemas dan kuatir bercampur menjadi satu di hati dan pikirannya, lalu Bagas memejamkan matanya.
Baru rasanya Bagas terlelap, tetapi Bagas sudah di kejutkan dengan suara teriakan mamanya yang memanggil Dokter. Sontak saja Bagas langsung terbangun, lalu Bagas melihat ke arah istrinya, Bagas pun langsung panik setelah melihat tubuh istrinya yang kejang-kejang, ia pun langsung menekan tombol yang tak jauh dari ranjang istrinya.
"Zahra kenapa ma..?!" tanya Bagas yang lagi panik pada mamanya.
"Mama gak tahu Bagas.. mama lagi ngasih susu ke Zoya, terus tiba-tiba saja tubuh Zahra seperti itu, membuat mama langsungg panik melihatnya." Jawab mamanya dengan perasaan tak menentu sama seperti Bagas.
"Sayang kamu kenapa? mas mohon sayang jangan buat mas takut." rengek Bagas pada istrinya.
__ADS_1
"Tuan dan nyonya tolong keluar sebentar ya.. kami akan periksa pasien dulu." ucap Dokter yang baru saja tiba di ruangan Zahra.
"Sayang mas mohon bertahanlah demi mas dan anak-anak, mas mohon jangan tinggalkan kami." lirihnya sembari keluar dari ruangan istrinya.