CEO Ku Adalah Suamiku

CEO Ku Adalah Suamiku
85. Bab 85


__ADS_3

Zahra sedih melihat keadaan suaminya Bagas saat ini. Bagaimana tidak, suami tampangnya terbaring lemah dia atas ranjang rumah sakit. Selang masih terpasang ditubuhnya, wajah yang biasanya terlihat tampan tapi sekarang wajah tampan itu terlihat pucat. Kemudian Zahra menggenggam tangan suaminya, tak lupa iya mengucapkan Salam.


"Assalamu'alaikum mas.." Ucap Zahra memberi salam pada suaminya sembari menciumi tangan suaminya. Kemudian Zahra mendekat ke wajah Bagas, lalu mencium kening, pipi dan juga bibirnya dengan begitu sayang dan lembut. "Mas ini aku Zahra, maafin aku baru datang sekarang jenguk kamu. Mas bangun dong..kamu gak kangen sama Zahra mas? Uda seminggu Loh mas kamu gak bangun. Please bangun ya mas, aku kangen banget sama kamu, aku kangen di pelukan sama kamu." Ucap Zahra sembari menatap suaminya yang masih juga belum adanya pergerakan dari tubuhnya. "Mas katanya kamu sayang dan cinta sama Zahra, tapi mas tega biarin Zahra sendiri disini. Mas please bangun ya.. mas aku mau kasih tahu kamu sesuatu, tapi pasti mas sudah dengar dari yang lain. Enggak apa-apa, Zahra akan kasih tahu lagi ke mas." Zahra mengangkat tangan suaminya kemudian meletakkan di perut ratanya. "Kamu tahu mas, disini sudah ada anak yang sudah lama kita nantikan.. mas apa kamu gak mau nemani aku menjalani kehamilan ini. Kamu pernah bilang ke aku, suatu saat nanti kalau aku hamil, mas akan nurutin semua pemintaan ngidam aku. Tapi ini apa! mas aja tega sama Zahra. Mas tega membiarkan aku ngejalani ini semua sendiri..! mas bangun ya Zahra mohon mas.." Zahra yang tadinya berusaha untuk tidak menangis, akhirnya tidak tahan juga, air matanya mengalir gitu aja. Ia sedih suaminya tak merespon atau terbangun sama sekali, membuat Zahra semakin ngerasa bersalah pada suaminya, semua ini terjadi karena dirinya yang egois, pergi begitu saja tanpa mau minta penjelasan pada suaminya.

__ADS_1


"Maaf Bu Zahra, kami mau mengecek perkembangan pasien dulu ya..." Ucap Dokter Haris yang tiba-tiba saja sudah berada di dalam ruangan ICU. Zahra pun beranjak dari kursinya.


"Mas Zahra keluar dulu ya.. entar Zahra kembali lagi." Ucap Zahra. Kemudian Zahra mengecup kening Bagas, lalu mencium tangan suaminya. "I Love you mas.." Bisik Zahra tepat di telinga suaminya, setelah itu Zahra jalan perlahan keluar meninggalkan suaminya yang masih di periksa oleh Dokter.

__ADS_1



Tapi sudah 6 bulan Bagas tak kunjung sadar dari komanya. Setiap harinya Zahra selalu menemani suaminya di ruang ICU, mengajaknya bicara, sekali-kali Zahra mengajak suaminya becanda, meletakkan tangan suaminya menyentuh perutnya yang sudah membesar. Uda segala cara keluarga lakukan untuk membuat Bagas sadar, tapi sampai sekarang Bagas sama sekali tidak ada perubahan. Bagas masih tidur tenang di atas ranjang rumah sakit. Sebenarnya Zahra sangat-sangat sedih melihat suaminya tak kunjung sadar, tapi ia tidak mau menunjukan kesedihan itu di depan suaminya. Ia hanya terus memberikan semangat suaminya supaya sadar dari komanya. Semua keluarganya juga merasa sedih melihat Zahra yang setiap hari harus menjaga suaminya, apalagi Zahra tengah hamil 6 bulan saat ini. Mereka sedih melihat Zahra menjalani kehamilan tanpa ada Bagas yang menemaninya dan menjaganya, tapi malah Zahra yang menjaga dan merawat suaminya yang lagi koma. Untungnya kehamilan pertama ini tidak terlalu merepotkan nya. kalau pun ia ingin sesuatu atau ngidam makan sesuatu Zahra lebih memilih delevery saja dari pada ia harus merepotkan orang disekitarnya.

__ADS_1


Sementara Perusahaan WILLIAMS GRUP di serahkan kepada Rio, karena mereka tidak tahu kapan Bagas akan sadar dari komanya. Dokter juga bilang, orang koma bisa sampai bertahun-tahun baru sadar. Jadi Papa memutuskan Perusahan WILLIAMS GRUP di serahkan oleh Rio. Seluruh karyawan tidak ada yang mengetahui kalau Bagas CEO WILLIAMS GRUP telah koma di rumah sakit. Para karyawan hanya mendengar kabar kalau Bagas berada di London menjalankan Perusahaannya yang disana. Papa Bimo bisa menutupi keadaan Bagas dari semua karyawan maupun rekan bisnisnya. Papa Bimo sengaja menyembunyikan keadaan Bagas pada mereka semua, karena Papa Bimo tidak ingin ada yang memanfaatkan keadaan Bagas yang lagi koma.


Saat ini Zahra berada di ruangan perawatan suaminya sembari membersihkan tubuh suaminya. Zahra tidak mau di bantu oleh suster rumah sakit, melainkan ia melakukannya sendiri. Dengan sabar Zahra membersihkan tubuh Bagas, walaupun ia hamil Zahra tidak pernah mengeluh leleh melakukan hal itu. Zahra dengan sabar, dan ikhlas merawat serta menunggu suaminya di rumah sakit. Papa Bimo juga meletakkan satu ranjang di ruangan yang sama dengan Bagas, untuk Zahra tidur jika ia kelelahan. Mereka semua sudah menyuruh Zahra kalau malam untuk tetap tidur dirumah saja, biar Papa atau Rio saja yang menemani Bagas saat malam. Tapi Zahra tidak mau, ia tetap mau setiap harinya, setiap detik mau pun menit selalu ingin bersama suaminya. Ia mau saat suaminya sadar orang yang pertama di lihatnya adalah dirinya.

__ADS_1


__ADS_2