
Maafin Zahra mas yang uda bohong sama kamu, aku gak mau buat kamu panik mas dan meninggalkan pekerjaan kamu gitu aja. Gumam Zahra dalam hati.
Zahra kembali memegang perutnya, ia merasakan perutnya kontraksi lagi. Kemudian Zahra turun dari ranjang ingin mengambil minum di atas meja yang tak jauh dari ranjangnya. Selesai minum Zahra berjalan-jalan kecil di dalam kamarnya, "Adek sabar ya kalau mau keluar, kita tunggu Papa sampai di rumah ya.." ucap Zahra berbicara pada anak yang di kandungnya sembari mengelus-elus perutnya.
"Aw.." Zahra merasakan perutnya kontraksi lagi, tapi ini terasa lebih sakit dari sebelumnya sampai Zahra meneteskan air matanya menahan sakit. Setelah rasa sakitnya sedikit menghilang, Zahra kembali berjalan kecil di dalam kamarnya.
Drrt drrt
terdengar suara ponsel Zahra kembali berbunyi, ia yakin pasti itu suaminya. Zahra berjalan untuk mengambil ponselnya di atas nakas, saking tidak sabarnya ingin mengambil ponsel Zahra tidak memperhatikan langkahnya, dan kakinya langsung tersandung karpet bulu yang berada di dalam kamarnya.
"Allahuakbar.." ucap Zahra spontan yang sudah terjatuh di karpet bulu tersebut sembari memegang perutnya takut terjadi apa-apa dengan anak yang ada di dalam perut nya, syukurnya posisi jatuhnya itu berlutut di atas karpet dan tidak membahayakan anaknya.
__ADS_1
Ponsel Zahra masih terus saja berbunyi, Zahra tidak tahu sang penelpon sudah sangat panik dan kawatir karena sang istri belum juga mengangkat telpon darinya. Saat berusaha untuk berdiri kembali Zahra merasakan perut kontraksi lagi.
"Ya Tuhan nyonya kenapa?" Tanya Mery panik melihat majikanya terduduk di atas karpet sembari memegang perutnya. Tadi saat menyiapkan makan siang di meja makan, Bagas menelponnya meminta untuk melihat keadaan istrinya didalam kamarnya karena telpon darinya tidak diangkat-angkat oleh istrinya. Bagas sempat marah-marah ke Mery yang meninggalkan istrinya di kamar sendiri, dengan sedikit berlari Mery langsung menuju kamar milik majikannya dan langsungg membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
"Nyonya sepertinya akan melahirkan!" dengan cepat Mery membantu Zahra berdiri, Mery memanggil pelayannya yang lain untuk memberitahukan supir untuk menyiapkan mobil.
Dengan berjalan perlahan Mery langsung membawa Zahra keluar kamar untuk membawanya kerumah sakit.
"Bunda kenapa?" tanya Gavin yang baru saja ingin masuk ke kamar Zahra, bundanya. "Bunda sakit?" tanyanya lagi dengan raut wajah takut dan kuatir pada Bundanya.
"Iya bunda."
__ADS_1
"Neny tolong bantu Gavin ya... selesai makan kamu bawa Gavin langsung ke kamarnya untuk tidur siang." pinta Zahra pada pelayan mereka yang satunya.
"Baik nyonya." Balas Neny yang langsung membawa Gavin ke ruang meja makan.
Sedangkan Zahra kembali berjalan menuju mobilnya dengan di temani oleh Mery. Sampai nya di luar rumah, Mery lalu membantu Zahra masuk kedalam mobil dan di ikuti olehnya. Kemudian supir langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
Di kantor, Bagas sudah panik di ruangannya. Sembari menyusun berkas-berkas di mejanya, Bagas ingin cepat pulang ke rumahnya menemui istrinya.
"Neil kita lanjut lagi besok, gue mau pulang ke rumah perasaan gue semakin tidak tenang." Ucapnya pada Daniel.
"Oke, Lo hati-hati bawa mobilnya jangan ngebut." Bagas pun berjalan menuju pintu, tapi saat akan membuka pintu ponselnya berbunyi, Bagas langsung mengambil ponselnya di saku jasnya dan dilihat nama Mery di layar ponselnya, Bagas pun langsung mengangkat telpon dari Mery.
__ADS_1
'Iya Mery ada apa?'
'Tuan sepertinya nyonya akan melahirkan! kami akan sampai dirumah sakit, kata nyonya tuan langsungg saja menyusul ke rumah sakit.' ucap Mery dari seberang telepon. Bagas langsung menutup telponnya setelah Mery memberitahu alamat rumah sakitnya. Tanpa pikir panjang Bagas langsungg melesat keluar dari ruangannya menuju parkiran. Melihat Bagas yang lari keluar dari ruangannya dengan panik sembari berlari, Daniel pun pergi menyusul Bagas, ia tidak mau terjadi apa-apa kepada sahabatnya saat membawa mobil dengan keadaan panik.