CEO Ku Adalah Suamiku

CEO Ku Adalah Suamiku
67. Bab 67


__ADS_3

Zahra tiba di ruangannya. Saat sudah sampai mejanya, Zahra di kejutkan dengan begitu banyak bunga dan kertas bertuliskan permintaan maaf para karyawan yang sudah menghinanya waktu itu. Zahra pun hanya bisa tersenyum melihat bunga-bunga yang ada di mejanya.


Zahra yang tadinya sakit hati dengan sikap suaminya, kini hilang saat melihat bunga dan kertas permintaan maaf dari karyawan.


"Wah ada apakah gerangan di meja Lo? kok banyak bunga gini?" Tanya Lisa yang baru saja datang. "Nih serius karyawan pada minta maaf sama Lo dan pada ngasih bunga?"


"Seperti yang Lo lihat.." Jawab Zahra.


"Saat tau Lo istri Pak Bagas aja langsung minta maaf, gue yakin pasti mereka karena takut di pecat dari kantor. Coba kalau enggak, pasti mereka masih terus menghina Lo."


"Hush gak boleh gitu Lis.. mereka kan Uda niat minta maaf, lagian ini termasuk salah gue juga yang gak kasih tahu hubungan gue dengan mas Bagas dari awal, makanya mereka jadi salah paham."


"Baik banget sih Lo Ra' jadi orang.."


"Emangnya mau jadi orang baik itu salah? enggak kan..."


"Iya deh, iya.." Ucap Lisa. "Uda ah gue mau ke meja gue." Tambahnya lagi.


Saat ini semua karyawan sudah melakukan pekerjaan nya masing-masing. Begitu juga di ruangan Zahra. Tengah asik mengerjakan sesuatu di komputer, diruangan marketing di kejutkan dengan kedatangan Mila sekretaris Bagas.


"Pagi semua..." Ucap Mila. "Disini siapa yang namanya Yuni?"


"Sa..sa..ya Bu Mila."Jawab Yuni yang sedikit gagap menjawabnya.


"Lo disuruh keruangan Pak Bagas sekarang juga."


"Ba..baik Bu."


Mila dan Yuni langsung pergi dari ruangan Marketting, menuju lantai 20 ke ruangan Bagas berada.


"Ra" Lo tahu kenapa Yuni di panggil ke ruangan Pak Bagas?" Tanya Lisa dan Rina.


"Gue gak tahu Lisa, Rina.. lagian biarin aja, namanya juga Bos berhak manggil karyawan keruangannya!" Jawab Zahra datar. Lisa dan Rina sama-sama menautkan kedua alisnya melihat ekspresi wajah Zahra yang datar. Mereka saling pandang, Lisa menaikkan kedua bahunya menandakan ia tidak tahu, sembari menatap Rina.

__ADS_1



Diruangan Bagas kini sudah ada Yuni yang lagi duduk di hadapan Bagas, hanya ada meja sebagai penghalang nya. Bagas masih menatap Yuni yang lagi menundukkan kepalanya karena takut oleh Bagas. Mood Bagas lagi tidak baik saat ini. Karena telponnya tidak di angkat oleh istrinya, pesan darinya juga tidak ada yang dibalas oleh Zahra. Saat Rio keluar dari ruangannya, Bagas langsung menelpon Zahra, tapi sudah sampai berapa kali tidak di angkat oleh Zahra. Pesannya juga tidak di balas. Membuat moodnya makin tidak baik hari ini.


"Kamu tahu kenapa saya memanggil kamu keruangan saya?!" Tanya Bagas dengan nada dingin dan datar.


"Ta..tahu Pak."Jawab Yuni yang menundukkan kepalanya karena takut.


"Kalau saya tanya tuh tatap wajah saya!"


"I..iya Pak." Yuni langsung mengangkat kepalanya memberanikan diri untuk menatap Bagas.


"Kamu sudah tahu kesalahan kamu apa ?!"


"Ta..tahu Pak. Saya minta maaf karena sudah menyebarkan foto Pak Bagas bersama Zahra."


"Bukan itu aja kesalahan kamu! Kamu sudah lancang mengambil foto saya dan istri saya di parkiran waktu itu. Jangan kamu kira saya tidak tahu kalau kamu yang mengambil foto itu. Asal kamu tahu, diseluruh gedung ini ada Cctv nya."


"Ma..maafkan saya Pak, yang sudah lancang mengambil Foto Pak Bagas bersama Zahra."


"Se.. sebenarnya sa.. sa..-"


"Sebanarnya APA?!" Bentak Bagas. Membuat Yuni semakin takut dan hampir mau menangis.


"Sa.. saya melakukan itu karena tidak menyukai Zahra Pak. Saya ingin melihat Zahra di benci sama seluruh karyawan disini."


"Apa maksud kamu?!" Tanya Bagas. Apa Zahra pernah nyakitin kamu?! Apa pernah Zahra kasar sama kamu?!Yang saya tau dari orang terdekatnya, Zahra selama kerja disini dia tidak pernah nyakitin orang. Bahkan sangat baik pada semua karyawan di Perusahaan ini! Kenapa kamu bisa tidak suka dengannya?!"


"Sa..saya membencinya karena pria yang sudah lama dekat sama saya, lebih suka dengan Zahra dan pria itu mengatakan perasaannya ke pada Zahra Pak.."


"Apakah laki-laki yang kamu maksud itu di terima oleh Zahra?!"


"Ti..tidak Pak Bagas."

__ADS_1


"Seharusnya kamu marah kepada laki-laki tersebut. Bukan Mala membenci Zahra yang tidak tahu apa-apa tentang masalah kamu. Bahkan dia tidak membalas perasaan laki-laki itu!"


"Iya Pak saya salah, saya minta maaf. Dan ada lagi Pak, sebenarnya ada satu lagi orang yang telah menyuruh saya menyebarkan foto itu Pak."


"Siapa?!" Tanya Bagas yang masih dengan wajah datarnya.


"Bu Sonya Pak, yang awalnya menyuruh saya menyebarkan foto Pak Bagas. Dan dia juga sudah memberikan saya sejumlah uang jika rencananya berhasil. Bu Sonya melakukan itu supaya Zahra di benci dan di hina oleh seluruh karyawan WILLIAMS GRUP, dengan Zahra di benci oleh mereka Bu Sonya beranggapan Zahra tidak akan betah berada di kantor dan ia akan mengundurkan diri dari Perusahaan, lalu Bu Sonya akan lebih mudah mendekati dan mengambil hati Pak Bagas." Ucap Yuni yang menceritakan semua rencana Sonya pada Zahra ke Bagas. Dia baru menyadari kalau dirinya hanya di manfaatkan oleh Sonya.


"Karena ulah kalian berdua, Zahra jadi di hina dan di bilang wanita yang tidak benar oleh karyawan disini. Padahal dia tidak wanita seperti itu. Apa kamu mau saya bilang kamu itu wanita murahan di depan semua orang?! Enggak kan ?! Saya sudah ambil keputusan, saya akan pecat kamu dari Perusahaan ini!


"Pak saya mohon jangan pecat saya, saya akan minta maaf ke Zahra Pak. Tapi tolong jangan pecat saya Pak.. Saya masih butuh pekerjaan, saya masih harus membiayai adik saya sekolah Pak. Tolong maafin saya." Ucap Yuni yang memohon pada Bagas agar tidak di pecat.


"Kalau kamu tahu, masih butuh pekerjaan untuk biaya hidup dan adik kamu kenapa kamu melakukan semua ini?! Oke saya tidak akan pecat kamu dari Perusahaan WILLIAMS GRUP. Karena istri Zahra juga tidak mau saya memecat kamu, tapi semua itu ada syaratnya."


"Apa Pak syarat nya, saya akan lakukan apa pun itu. Tapi tolong jangan pecat saya Pak."


"Oke. Syarat nya adalah kamu akan saya pindahkan ke Perusahaan cabang yang ada di Surabaya. Gimana kamu mau?!"


"Ta..tapi Pak.."


"Itu terserah kamu, kalau kamu tidak mau di pindahkan. Kamu harus keluar dari Perusahaan ini sekarang juga!"


"Ja..jangan Pak. Iya saya mau di pindahkan ke Surabaya." Jawabnya. *Ya Tuhan jauh kali ke Surabaya, tapi kalau gak di terima gue bakalan di pecat. Cari kerjaan sekarang susah, apalagi tidak ada gaji yang sebesar di WILLIAMS GRUP. Ya uda deh terima dan jalani aja, lagian ini salah gue kenapa mau nerima tawaran Bu Sonya nyebarin foto itu. Bodoh-bodoh lu Yuni..! Gumam Yuni dalam hati*.


"Oke. Besok kamu berangkat ke Surabaya, tenang aja ongkos untuk kesana akan di tanggung Perusahaan. Kamu bisa keluar sekarang. Satu lagi kamu harus minta maaf sama istri saya dengan apa yang Uda kamu lakukan kepadanya."


"Baik Pak. Terima kasih Pak Bagas karena tidak jadi pecat saya. Saya permisi Pak."


"Hmm."


Yuni pun keluar dari ruangan Bagas dengan tubuh yang lemas, karena dirinya harus pindah ke Surabaya. Tapi dia juga bersyukur tidak jadi di pecat.


__ADS_1


Saat Yuni sudah keluar dari ruangannya, Bagas kembali menghubungi istrinya. Sampai beberapa kali tidak juga di angkat oleh istrinya. Kemudian Bagas melihat jam di tangannya, sudah menunjukkan pukul 11.30. Setengah jam lagi istirahat. Berarti lama juga dirinya memarahi karyawan nya tadi. Tanpa pikir panjang Bagas mengambil ponsel, dan kunci mobil yang berada di meja kerjanya lalu keluar dari ruangannya menuju lantai 5 ke ruangan istrinya. Bagas ingin membujuk istrinya Zahra dan mengajaknya makan siang di luar.


__ADS_2