
Tepat pukul 5 pagi Zahra membuka matanya, karena seperti biasa ia mau melaksanakan sholat subuh. Saat akan beranjak dari ranjang Zahra merasakan perutnya seperti tertimpa sesuatu. Zahra pun melihat ada tangan kekar yang melingkar di perutnya, ia langsung menoleh ke samping. Alangkah terkejutnya Zahra saat menoleh kesamping, ternyata suaminya Bagas yang lagi tertidur nyenyak disampingnya. Zahra tersenyum bahagia melihat itu, kemudian ia pindah menghadap sang suami yang tengah tertidur pulas.
Zahra terus menatap wajah tampan suaminya, ia sangat-sangat merindukan sosok sang suami, sudah tiga tahun ia tidak melihat suaminya, tidak tahu kabar suaminya dan selama tiga tahun Zahra hanya bisa memendam rasa rindunya pada Bagas suaminya. Kemudian Zahra mengelus wajah Bagas, menelusuri seluruh wajah tampan suaminya, tanpa terasa air matanya mengalir gitu aja sembari mengelus kepala suaminya dengan lembut dan sayang.
Bagas yang masih tertidur nyenyak pun terbangun, ia merasakan ada yang menyentuh wajah dan rambutnya. Saat Bagas membuka matanya yang pertama di lihatnya wajah cantik istrinya tengah menatap wajahnya sembari meneteskan air matanya. Bagas langsung duduk bersandar di dinding ranjang nya. Zahra pun ikut terduduk di depan suaminya.
"Mas kamu kebangun ya? maaf bukan maksud ingin mem_" ucapannya terhenti karena Bagas sudah mencium bibir Zahra dengan lembut. Bibir yang sudah menjadi candu untuk nya, Bagas sangat merindukan semua yang ada pada istrinya. Bagas baru melepaskannya setelah sudah kehabisan nafas. Kemudian Bagas mencium kening istrinya sangat lama, lalu Bagas menciumi tangan lembut istrtinya
"Sayang maafin mas, uda ninggalin kamu dan Gavin tiga tahun ini. Maafin mas yang sempat menolak melihat Gavin saat ia baru lahir. Maafin mas yang sempat melupakan dirimu dalam hidup mas. Mas minta maaf sayang, mas minta maaf." ucapnya sembari menangis terisak meminta maaf pada istrinya.
"Zahra sudah maafin mas, lagian Zahra gak marah sama mas, Zahra mengerti keadaan mas yang lupa ingatan. Apakah benaran mas sudah ingat sepenuhnya?" Tanyanya sembari terus menatap wajah Bagas.
__ADS_1
"Mas sudah ingat semuanya sayang... mas juga tahu siapa yang akan menabrak kamu saat itu. Mas minta maaf karena mas bersama Reisa kamu sempat marah dan salah paham sama mas sayang dan kamu pergi dari kantor." Jawabnya yang memang Bagas sudah mengingat semua nya.
"Mas please jangan membahas itu lagi, kalau Zahra mengingat kejadian itu lagi membuat Zahra semakin merasa bersalah, karena Zahra mas sampai koma selama enam bulan mas sempat amnesia. Sampai sekarang Zahra masih merasa bersalah sama mas dan keluarga mas, karena Zahra mas hampir kehilangan nyawa mas." ungkapnya pada Bagas suaminya bahwa dirinya masih tidak enak pada suaminya dan keluarga nya karena dirinya Bagas sampai mengalami kecelakaan saat itu.
"Enggak sayang kamu gak salah, mas yang salah karena kejadian di kantor waktu itu buat kamu sakit hati dan kamu pergi dari kantor mas. Saat itu mas Uda takut banget kamu pergi ninggalin mas. Kamu tahu sayang mas bersyukur karena bukan kamu yang tertabrak, kalau sampai itu benaran terjadi dengan kamu dan mungkin saat itu Gavin sudah berada di perut kamu, mas bakalan gila sayang kehilangan kalian berdua. Dan mas juga minta maaf karena kejadian itu mas lupa semua tentang kamu, padahal kamu tengah mengandung Gavin." Ujarnya menjelaskan bahwa bukan kesalahan istrinya. Bagas langsung menarik Zahra kedalam pelukannya, mencium dalam-dalam harum tubuh istrinya yang sangat ia rindukan yang sudah menjadi candu untuknya. Bagas baru menyadari sekarang kenapa selama tiga tahun berada di London hidupnya terasa hampa, seperti ada yang hilang dari dirinya ternyata tidak ada keberadaan Zahra di sisinya.
Bagas semakin mempererat pelukannya ia menyesal dan merasa bodoh yang sudah pergi meninggalkan Zahra dan anaknya Gavin. Ia tidak akan pernah lagi mau jauh dari istrinya ia tidak akan pernah sanggup dan tak akan pernah bisa, apalagi sekarang mereka sudah memiliki Gavin. Mereka berdua adalah hidupnya, dan juga dunianya sekarang yang harus ia bahagiakan dan harus ia jaga seumur hidupnya.
"Eh maaf sayang, abisnya mas kangen kamu, kangen aroma tubuh kamu." ujarnya. Kemudian Bagas mencium seluruh wajah istrinya dengan gemas, sampai membuat Zahra kegelian. Bagas bersyukur Zahra istrinya mau memaafkannya bahkan istrinya tidak marah padanya, justru istrinya yang meminta maaf padanya, karena merasa bersalah akibat kecelakaan saat itu. Sungguh ia bersyukur mendapat istri sebaik Zahra, sabar, penyayang, pinter masak lagi. Pokoknya Zahra adalah istri paket lengkap.
"Mas Uda ah geli tau...! gak baik kalau sampai Gavin lihat mas.." Zahra memberitahukan kalau ada Gavin bersama mereka di atas ranjang. Bagas hanya bisa cengengesan, lalu Bagas pun tersenyum bahagia melihat Gavin di samping istrinya yang masih tertidur pulas dan tidak terganggu sama sekali.
__ADS_1
"Dia sangat tampan sayang." Ucap Bagas yang merangkul bahu istrinya sembari bersama-sama menatap Gavin anak mereka. "Kamu tahu, saat mas pertama melihat Gavin mas sudah jatuh cinta pandangan pertama. Jantung mas pun berdetak kencang saat melihatnya. Kalian berdua sama-sama membuat jantung mas berdetak kencang saat pertama kali bertemu." ungkapnya.
"Iya dong mas, Gavin kan anak kandung kamu."
"Dan kamu jodoh yang memang dikirim oleh Allah buat mas atau bisa di bilang kamu itu cinta sejati mas." ujarnya sembari menarik hidung Zahra pelan. Lalu Bagas kembali memeluk Zahra dengan erat, Zahra pun membalas pelukan suaminya tak kala erat. "Mas sayang banget sama kamu,."
"Zahra juga sayang sama mas."
"Mas sangat-sangat mencintaimu." ucapnya sembari mengecup kening istrinya. "Zahra juga mencintai mas.." Balas Zahra. "Tapi mas, kamu kok bisa masuk kedalam rumah Papa? apalagi mas bisa masuk kedalam kamar dan tidur disini.." Tanyanya penasaran.
"Emmh... kasih tau gak ya..." Jawab Bagas menggoda Zahra.
__ADS_1
"Mas..."