CEO Ku Adalah Suamiku

CEO Ku Adalah Suamiku
66. Bab 66


__ADS_3

Pagi harinya. Bagas dan Zahra kembali melakukan aktivitas seperti biasa bekerja. Bagas dan Zahra kini sudah berada di dalam mobil menuju kantor. Di dalam mobil Bagas tak melepaskan genggaman tangan nya dari istrinya, sembari tersenyum-senyum sendiri dari tadi.


Hari ini Bagas benar-benar sangat bahagia, karena hubungan nya dengan istrinya Zahra sudah di publikasikan ke seluruh karyawan WILLIAMS GRUP. Jadi mereka berdua tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi kalau akan masuk kedalam kantornya. Zahra samapi bingung yang melihat tingkah aneh suaminya yang senyum-senyum sendiri dari tadi tak tahan untuk tidak bertanya kepada Bagas suaminya.


"Mas kamu kenapa sih hari ini? Zahra perhatikan dari tadi kamu tuh senyum-senyum sendiri. Sepertinya hari ini kamu terlihat bahagia banget. Apa yang membuat senyum di wajahmu gak hilang-hilang?" Tanya Zahra yang penasaran melihat tingkah suaminya.


"Kamu tahu aja sayang kalau mas hari ini sangat bahagia.. Mas bahagia karena hubungan kita sudah dipublikasikan dan tidak lagi sembunyi-sembunyi, para karyawan sudah tau semua kalau kita sepasang suami istri." Jawab Bagas. "Gimana perasaan kamu sayang setelah kita sudah mengumumkan hubungan kita kepada seluruh karyawan WILLIAMS GRUP?"


"Perasaan nya lebih lega sih mas.. pasti mereka pada segan lihat Zahra mas, setelah tahu kalau Zahra istrinya mas."


"Emangnya kenapa sayang? Ya Bagus dong.. biar aja mereka jadi segan dan menghormati kamu, itu wajar saayang.. karena kamu istri CEO."


"Sebenarnya itu yang gak Zahra suka mas.. Zahra ingin mereka bersikap seperti biasanya aja mas?"


"Uda deh sayang jangan kamu pusingkan soal itu, biarin aja mereka bersikap semestinya. Entar lama-lama kamu bakalan terbiasa kok." Ucap Bagas sembari menghela nafasnya pelan. Kenapa sih istrinya selalu saja mempermasalahkan sikap karyawan padanya, itu sah-sah saja karena dia istri seorang CEO. Apa sebenarnya Zahra tidak senang kalau suaminya itu CEO?


Bagas yang tadinya tersenyum senang karena hubungannya dengan Zahra sudah di umumkan, kini senyuman itu menghilang karena melihat sikap istrinya selalu mempermasalahkan sikap para karyawan padanya karena istrinya seorang CEO.


Mobil Bagas pun sampai di Perusahaan. Setelah sudah berada di parkiran Bagas langsung keluar dari mobilnya tanpa memperdulikan istrinya. Bagas kesal dengan istrinya saat ini. Selesai membicarakan huhungannya dengan istrinya tadi, Bagas diam saja.


Zahra yang masih didalam mobil bingung melihat perubahan sikap suaminya yang pergi gitu saja tanpa mau berbicara padanya, padahal Zahra belum mencium tangan suaminya. Zahra hanya bisa menghela nafasnya. Apa dia ada salah? kenapa sikap suaminya jadi seperti itu, sesaat membuat hatinya sakit dan sesak.


Kemudian Zahra keluar dari mobil suaminya, lalu ia jalan masuk kedalam gedung dengan merasakan hatinya yang sesak karena sikap suaminya.


Saat sampai di lift, Zahra melihat karyawan pada menunduk menberi hormat padanya.


"Pagi Bu Zahra..." ucap kayawan yang lagi menunggu lift bersamanya.


"Pagi.." Jawab Zahra sembari tersenyum. "Jangan panggil gue Ibu, panggil gue seperti biasa aja." Ucap Zahra.


"Gak enak dong kalau kami panggil nama aja. Lagian Bu Zahra kan istrinya Pak Bagas.."ucap salah satu karyawan.

__ADS_1


"Gak apa-apa, panggil gue Zahra aja. Mau gue istrinya Pak Bagas gak akan ngaruh, gue tetap lah Zahra yang kalian kenal. Jadi please tetap panggil gue Zahra aja ya... jangan panggil gue Ibu, kalian tenang aja gak perlu takut dengan Pak Bagas, beliau gak akan marah kok." Ucapnya meyakinkan para karyawan untuk tidak memanggil nya Ibu.


"Oke Zahra, Lo baik banget sih. Kami minta maaf ya karena sempat berpikiran buruk tentang kamu."


"Iya Zahra aku juga minta maaf ya..


Akhirnya karyawan yang bersama Zahra di lift meminta maaf kepada Zahra semua.



Bagas sampai di lantai 20. Ia lalu jalan menuju ruangannya. Mila yang melihat Bagas ingin masuk ke ruangannya pun menyapanya, tapi hanya di jawab dengan anggukan oleh Bagas tanpa mau melihat Sekretaris nya. Karena masalah yang di mobi tadi, membuat Bagas jadi tidak mood saat ini.


"Kenapa tuh si Bos, tumben wajahnya datar gitu. Biasanya selalu tersenyum kalau mau masuk ruangannya. Gak biasa-biasanya Pak Bagas seperti itu. Apa jangan-jangan si Bos lagi marahan kali ya sama Zahra? Tau ah bukan urusan gue." Ucap Mila yang bingung melihat sikap datar Bosnya itu.



Nyampai di dalam ruangan Bagas langsung duduk di kursi kebesarannya, Bagas menyandarkan kepalanya di sandaran kursi nya sembari memijat kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing. Ada perasaan sesak di dadanya saat ia mengabaikan istrinya tadi. Saat lagi memikirkan istrinya, pintu ruangan Bagas di ketuk.



"Masuk.." Jawab Bagas yang masih terus memijat kepalanya.


Pintu pun terbuka, Bagas melihat orang yang masuk keruangan nya.


"Elo bro, gue kira siapa." Ucap Bagas.


"Iya ini gue, Lo kira siapa?" Tanya Rio. "Kenapa Lo pagi-pagi wajahnya kok di tekuk gitu?"


"Gue pusing lagi mikirin Zahra.."Jawab Bagas.


"Emangnya Zahra kenapa?"

__ADS_1


Bagas pun langsung menceritakan ke Rio masalah nya bersama Zahra dimobil tadi.


"Apa menurut Lo gue ini buruk sampai Zahra kaya gak senang kalau punya suami CEO."


"Gas, gue kasih tau ke lo. Zahra bukan tidak suka jadi istri CEO, dia hanya tidak ingin para karyawan jadi segan padanya, dia gak mau para karyawan jadi tidak mau dekat dengannya, mereka segan karena dia istri CEO Perusahaan.. Zahra tu maunya para karyawan tetap bersikap ya layaknya Zahra itu karyawan juga di kantor ini. Tetap berteman dan berbaur seperti biasanya. Pasti semua karyawan disini jadi segan dekat sama Zahra, setelah tau Lo itu suaminya. Mereka pasti takut sama lo, mereka takut kalau lo gak suka lihat Zahra dekat dengan mereka.." Ucap Rio. "Jadi gara-gara masalah ini Lo marah sama Zahra? Lo keterlaluan banget sih Gas.. Zahra tu bukan wanita-wanita yang akan gila harta, yang pamer akan kekayaan yang dia miliki, bukan wanita sombong. Zahra tu wanita sederhana, dan apa adanya. Padahal dia termasuk orang kaya loh. Tapi dia tidak pernah menunjukan kepada orang-orang. Dia tetap menjadi Zahra yang apa adanya dan sederhana. Zahra juga wanita yang suka berteman sama siapa saja, makanya dia gak mau para karyawan itu jadi jauh sama dia, setelah tau dia istri CEO. Zahra tuh beda sama mantan-mantan Lo yang matre.."


Bagas mencerna semua apa yang di ucapkan Rio padanya. Lalu ia membenarkan ucapan Rio, Bagas mengutuk kebodohannya sendiri karena Uda mengabaikan istrinya tadi karena marah. Bagas menyalahkan dirinya karena masih belum bisa memahami istrinya sendiri, ternyata dia belum mengenal istrinya Zahra seperti apa. Ada rasa cemburu Bagas pada Rio yang tahu sifat Zahra gimana. Sedangkan dirinya sebagai suaminya masih belum tahu sifat Zahra semuanya.


"Uda jangan banyak mikir mending Lo minta maaf sama istri Lo. Gue yakin pasti melihat sikap Lo yang kaya tadi kepadanya, membuat dia sakit hati.


"Lo benar Yo, gue bego banget sih.." Ucapnya sembari mengusap wajah nya kasar. Bagas menghela napas nya kenapa dia bodoh kali, pasti sekarang istrinya marah padanya.


"Emang. Baru nyadar Lo kalau Lo bego.." Ucap Rio pada Bagas sembari menertawakan Bagas.


"Ck. Dasar Lo! O iya Samapi lupa, ada apa Lo ke ruangan gue?"


"Gue mau kasih tau Lo, entar malam kerumah Papa ya? soalnya mau ada yang gue sampaikan ke kalain semua."


"Apa yang mau Lo sampaika ke kami?"


"Rahasia dong... entar Lo juga bakalan tau, makanya Lo harus datang ke rumah Papa."


"Dasar pelit Lo gitu aja maen rahasiaan sama gue."


" Gas Lo gak jadi pecat karyawan yang nyebar foto-foto Lo sama Zahra?"


"Ya ampun gue sampai lupa bro.. Oke kalau gitu tolong panggilkan karyawan yang namanya Yuni ya kalau gak salah?"


"Iya." Jawab Rio. "Oke gue suruh Mila untuk manggil dia, sekalian gue mau keruangan."


Rio kemudian meninggalkan ruangan Bagas dan menyampaikan yang di minta Bagas tadi.

__ADS_1


__ADS_2