CEO Ku Adalah Suamiku

CEO Ku Adalah Suamiku
109. Bab 109


__ADS_3

Satu jam mobil Daniel sampai di kediaman rumah almarhum Kakek William. Saat dalam perjalan tadi Zahra ketiduran didalam mobil sembari menyadari bahu Bagas. Sebenarnya Bagas tidak tega membangunkan istrinya, tapi mau gimana lagi Bagas menggendong Gavin yang masih terlelap. Kalau tidak Bagas sudah mengangkat Zahra masuk kedalam rumah. Mau menyuruh Daniel membawa anaknya, Daniel sudah masuk kedalam membawa koper-koper mereka.


"Sayang bangun kita sudah sampai.." Ucap Bagas sembari mengelus kepala istrinya agar terbangun.


"Emmh, Uda sampai ya mas, maaf Zahra ketiduran mas." Zahra bangun sembari mengucek-ngucek matanya.


"Gak apa-apa sayang, kamu pasti lelah."


Bagas dan Zahra pun turun dari mobil, dengan Bagas yang masih menggendong Gavin yang belum bangun dari tadi.


"MasyaAllah mas rumahnya bagus, halamannya pun luas banyak tanaman bunganya lagi." Ucap Zahra senang setelah mereka sudah keluar dari mobil.


"Kamu suka sayang?" Tanya Bagas.


"Suka mas.." Jawabnya.


"Mudah-mudahan kamu dan Gavin betah ya tinggal di rumah Kakek." ujarnya.


"Iya mas.."


"Kalau disini tidak ada yang menempati, siapa yang merawat bunga-bunga ini mas?" tanyanya.


"Kan ada tukang kebun Kakek sayang.. yang khusus merawat tanamannya. Karena kakek tidak mau bunga-bunga yang disukai istrinya mati gitu aja dan tidak ada yang merawatnya." Jawabnya


"Ya uda masuk yuk, kasian Gavin."


Seperti ini kira-kira rumah dan tanaman rumah Kakek William.


__ADS_1






Mereka pun masuk kedalam rumah, sampainya di dalam lagi-lagi Zahra di buat kagum dengan desain interior rumahnya. Kalau sudah begini pasti dirinya akan betah tinggal dirumah ini.


Bagas mengajak istrinya untuk masuk ke dalam kamar. Kemudian Bagas jalan menuju sebuah pintu yang ada di dalam kamar mereka, dan pintu itu terhubung dengan kamar anaknya Gavin. Sebelumnya Bagas sudah memberitahukan ke Daniel untuk merenovasi kamarnya dan juga kamar untuk anaknya dengan sesuai selera anak dan istrinya. Alhamdulillah dalam tempo setengah bulan saja kamar nya selesai di renovasi.


"Mas kamu mau kemana?" tanya Zahra penasaran melihat suaminya jalan ke arah pintu yang lain, sembari membawa Gavin.


"Ayo ikut, mas mau meletakkan Gavin ke kamarnya. Mas sengaja membuat pintu penghubung ini ke kamar Gavin, jadi jika terjadi sesuatu dengan Gavin kita gak perlu ke luar kamar untuk menuju kamarnya." jawab Bagas menjelaskan.


"Karena buat mas,yang paling penting adalah ke inginan kalian yang harus mas penuhi terlebih dahulu." Balasnya.


"Makasih mas.." sembari mengecup pipi Bagas.


"Sama-sama sayang."


Keesokan harinya.


Selesai sarapan Bagas bergegas pergi ke kantornya, karena hari ini ada rapat penting. Dan tak lupa Bagas membawa Zahra dan Gavin ikut ke kantornya, karena Bagas ingin memperkenalkan kepada seluruh karyawan bahwa ia sudah memiliki istri dan juga anaknya.


Selama Bagas pulang ke Indonesia beberapa tahun yang lalu, karyawan di Perusahaan Kakek William tidak mengetahui kalau Bagas sudah menikah. Mereka tahunya kalau Bos mereka pindah karena ingin menjadi CEO di Perusahan WILLIAMS di Indonesia.


Kini mereka lagi dijalan menuju kantor Bagas. Bagas membawa mobil mewahnya sendiri yang ada di rumah kakeknya tanpa menggunakan supir.

__ADS_1


"Papa disini Lumahnya tinggi-tinggi semua. Tapi Gavin suka lihatnya." Ucap polos anaknya.


"Sayang itu bukan rumah, tapi Gedung perkantoran, Mall, dan toko-toko." Ucap Bagas menjelaskan ke anaknya, agar anaknya bisa membedakan mana rumah dan gedung-gedung tinggi yang mereka lewati, semabari mengelus kepala anaknya yang berada di pangkuan Zahra.


"Benelan Bunda..?" Tanyanya untuk meyakinkan.


"Iya sayang, apa yang di bilang Papa itu benar.." Jawab Zahra.


"Apa Gavin suka di disini?"


"Gavin suka Papa.." Jawab polos anaknya.


"Kalau Gavin suka di London, gimana kalau kita tinggal di sini terus..apa kamu mau Boy..?"


"Mau Papa.. Benelan kita mau disini telus..?" Gavin


"Iya Boy.."


"Ye.. hole.. hole.. Gavin mau tinggal di sini.." sorak Gavin kegirangan.


"Bunda kita tinggal disini aja ya sama Papa? Bunda halus mau."


"Iya sayang, anak Bunda yang tampan.." Jawab Zahra lalu menciumi pipi anaknya gemas.


"Hole... Papa Bunda mau juga tinggal di sini..' ucap nya girang.


Bagas dan juga Zahra tertawa bahagia melihat tingkah anaknya yang girang karena mau diajak untuk tinggal di London terus.


"MasyaAllah, London ternyata bagus juga ya mas.. Zahra gak nyangka Lo mas bisa sampai London juga. Padahal dulu cuman berangan-angan aja. Apalagi waktu baru-baru selesai SMA pengen banget Zahra kuliah disini, tapi Ayah gak izinin karena terlalu jauh. Eh tapi sekarang Zahra malah tinggal disini sama suami." cerita Zahra ke Bagas. Sedangkan Bagas hanya tersenyum saja mendengar cerita sang istri.

__ADS_1


__ADS_2