
Sekarang kandungan Zahra sudah menginjak sembilan bulan, perkiraan Dokter dua Minggu lagi Zahra akan lahiran membuat Bagas tidak sabar melihat anaknya lahir ke dunia. Dan Bagas sangat bersemangat dalam menghias kamar anaknya, Zahra sendiri sampai menggelengkan kepalanya melihat kelakuan suaminya.
Saat Bagas tahu jenis kelamin anaknya, yang ternyata filingnya tidak melesat bahwa anak kedua mereka adalah
perempuan, Bagas sangat bahagia sehingga kamar untuk anak nya dihias berwarna pink. Apalagi semua keperluan anaknya Bagas sendiri yang memilih, sampai-sampai Bagas hampir membeli seisi toko perlengkapan bayi untuk anaknya. Zahra sudah memperingatkan suaminya itu agar tidak membeli yang terlalu berlebihan, karena bakalan percuma, baju-baju bayi hanya memakai sebentar saja, tetapi Bagas seakan tidak perduli semua itu.
Dengan hati gembira dan senyum yang tak pernah pudar, Bagas berjalan masuk kedalam rumahnya sembari membawa beberapa paper bag dan Bouncer goyang atau kursi goyang bayi.
"Assalamu'alaikum sayang..."
"Waalaikumsalam.." Balas Zahra yang lagi duduk di ruang tengah, kemudian Zahra beranjak dan berjalan mendekat ke sang suami.
Setelah meletakkan barang yang dibawa nya, Bagas langsung mencium kening istrinya dengan lembut kemudian langsung memeluk istrinya.
__ADS_1
"Loh Mas bukannya kita sudah membeli kursi goyang ya?! kok kamu beli lagi mas.." Zahra terkejut melihat Bouncer goyang yang baru saja di letakkan oleh suaminya.
"Iya sayang mas beli lagi, tadi mas pulang kerja singgah sebentar ke toko perlengkapan bayi karena ada yang mas cari, terus lihat ini kok cantik banget dan bagus.. jadi mas ambil deh." jawabnya santai sembari tersenyum manis menatap istrinya.
"Astaghfirullah mas.. ini namanya pemborosan! kemaren kita kan Uda beli dua Bouncer goyang sama tempat tidur nya juga, dan sekarang kamu beli lagi mas?!" Kesal Zahra dengan suaminya yang membeli kursi goyang lagi apalagi suaminya juga menenteng beberapa paper bag. Membuat Zahra merasakan pusing melihat suaminya yang terlalu berlebihan belanja untuk anak kedua mereka.
"Gak apa-apa sayang.. kan bisa ganti-ganti." ujarnya menjelaskan dengan tidak memperdulikan kekesalan istrinya.
"Uda berapa kali Zahra bilang mas, jangan membeli perlengkapan bayi terlalu banyak, itu tidak akan terpakai semua..!" cicitnya.
"Gak apa-apa sayang, seperti yang mas bilang ke kamu mas akan melakukan apapun untuk anak kita walaupun harus keluar uang banyak gak masalah. Biar aja kalau di bilang lebay. yang penting mas senang membeli semua ini untuk Adek." Zahra hanya bisa pasrah kalau suaminya sudah berbicara seperti itu. Suaminya ini memang gak bisa di bantah, apalagi kalau sudah menyangkut anaknya. Sebenarnya Zahra sangat bahagia melihat betapa antusiasnya Bagas ingin menyambut anak kedua mereka, tapi tidak dengan membeli barang-barang baby secara berlebihan seperti ini.
Bagas berjalan ke kamar, untuk membersihkan tubuhnya sebelum dirinya menyentuh perut istrinya, seperti biasa ingin mengajak anaknya berbicara. Semenjak Zahra hamil Bagas melarang istrinya untuk menyiapkan keperluannya seperti biasa, misalnya menyiapkan air hangat untuknya mandi atau sebagainya. Karena Bagas tidak mau istrinya leleh, jadi Bagas melakukan nya sendiri.
Selesai mandi Bagas nyamperin istrinya yang lagi nonton tv di ruangan tengah. Sembari membawa buah untuk sang istri.
"Loh sayang Gavin kemana?" Tanya Bagas pada istrinya yang tidak melihat Gavin sedari tadi.
"Tadi Lisa main kesini mas, terus Gavin ikut sama dia ke apartemennya sama Lisa."Jawabnya sembari menerima buah dari tangan Bagas.
__ADS_1
"Loh sayang bukannya Lisa lagi hamil ya? entar ngerepotin Lisa loh sayang.." ucap Bagas yang sudah duduk disamping istrinya
"Tadi Uda Zahra bilang mas, tapi Lisa sendiri yang mau."
Ya Lisa saat ini tenga mengandung anak pertamanya bersama Daniel. Setelah Daniel melamar Lisa ke orangtuanya tiga bulan yang lalu, mereka langsung menikah tiga hari setelah Daniel melemar Lisa. Mereka melakukan ijab kabul di kediaman keluarganya, untungnya sebelum Daniel melamar Lisa, Daniel sudah mengurus Berkas-berkas dirinya di London supaya tidak ada hambatan jika mereka menikah di Indonesia. Tadinya Daniel ingin mengadakan resepsi pernikahan mereka tetapi Lisa tidak mau, cukup Ijab kabul saja sudah cukup. Adik tiri Lisa sempat iri melihat betapa tampan suami Lisa dari pada mantan Lisa yang dia rebut dari kakak nya itubuang saat ini sudah menjadi suaminya. Dirinya sempat menyesal, karena ternyata Lisa mendapatkan pengganti suaminya lebih tampan dan juga mapan dalam pekerjaan apalagi mereka tinggal di London.
Ini dia babang Daniel, dirinya asli Malaysia tetepi sejak menginjak remaja Daniel pindah ke London bersama kedua orangtuanya. Karena Ayah dari Daniel pindah tugas di London, tapi sayang setelah setahun berada di London Ayahnya meninggal dunia. Membuat uminya Daniel sakit-sakitan, Daniel yang masih kuliah saat itu bingung mencari biaya pengobatan uminya, untungnya dia memiliki sahabat yang perduli padanya yaitu Bagas. Mereka dekat karena satu kampus di London, dan berkat Bagas Daniel bisa membiayai pengobatan uminya, Bagas meminjamkan uang padanya dan juga memberikan pekerjaan padanya dengan menjadikan asisten Bagas di Perusahaan Bagas. Sempat beberapa kali uminya Daniel melakukan operasi namun sayang Allah berkehendak lain, uminya tidak bertahan lama dan akhirnya meninggal dunia.
Ini Lisa sahabt dari Zahra.
Sekarang Daniel dan Lisa sudah menjalani hubungan suami istri sekitar dua bulan, Dan Lisa sudah sudah hamil dan kehamilan Lisa sudah jalan 5 Minggu. Lisa sangat bersyukur bisa berjodoh dengan Daniel, lelaki yang sangat perhatian, penyayang dan juga humoris berbeda dengan mantannya yang terdahulu terkesan cuek dan kurang peka. Untungnya dirinya tidak jadi menikah dengannya di karenakan mantannya selingkuh dengan adik tirinya dan dengan bersama Daniel Lisa benar-benar merasakan kebahagiaan.
"Anak Papa lagi apa?" tanya Bagas yang menundukkan kepalanya lalu ke arah perut istrinya sembari mengelus nya dengan lembut. "Adek baik didalam ya.. gak lama lagi kita bertemu.." tiba-tiba anak mereka menendang, membuat Bagas tersenyum bahagia merasakan tendangan dari anaknya. Ini lah yang selalu di tunggu Bagas kalau berbicara dengan anaknya di dalam perut Zahra. "Apa anak Papa sudah tidak sabar bertemu dengan Papa..." Bagas merasakan lagi tendangan dari anaknya. "Sayang anak kita menendang lagi, berarti dia sudah tidak sabar ingin bertemu papanya." ujarnya terharu. Zahra pun yang merasakan itu juga terharu melihat begitu bahagianya sang suami setiap mendapat tendangan dari anaknya.
"Iya Zahra merasakannya."
__ADS_1