
Flashback on
Setelah keluar dari ruangan Bagas, Reisa memutuskan untuk makan siang sendiri di Cafe yang berada tepat seberang depan Perusahaan WILLIAMS GRUP. Karena Bagas lebih memilih makan siang bersama istrinya. Mobil milik Reisa pun keluar dari Gedung WILLIAMS GRUP menuju Cafe.
Sampainya di Cafe, Reisa langsung memarkirkan mobilnya. Kemudian Reisa keluar dari mobil, saat ia akan menutup pintu mobilnya tanpa sengaja matanya melihat seorang wanita berhijab sedang berdiri di trotoar seperti menunggu taksi di depan Gedung Perusahaan WILLIAMS GRUP. Reisa terus menatap wanita itu seperti ia mengenalnya dan benar saja wanita itu Zahra. Tiba-tiba terlintas di otaknya untuk menyelakai Zahra. Reisa pun kembali masuk kedalam mobil tidak jadi masuk kedalam Cafe untuk makan siang. Dilihat jam masih jam setengah dua belas siang, jadi belum ada karyawan yang lewat untuk makan siang ke Cafe ini. Kemudian Reisa melajukan mobilnya. Demi untuk mendapatkan Bagas kembali, gue harus mengotori tangan gue untuk nyelakain lo. Karena apa yang gue inginkan harus gue dapatkan. gimanapun caranya. Gumamnya dalam hati, sembari tersenyum licik.
Reisa menghentikan mobilnya ke pinggir jalan agak sedikit jauh dari Zahra, agar tidak terlalu terlihat. Reisa terus saja memperhatikan Zahra dari dalam, berharap ia akan menyebrang ke Halte busway yang berada di seberang. Agar dirinya mudah melakukan rencananya. Sepertinya memang Tuhan pihak kepadanya karena sama sekali tidak ada taksi, kalau pun ada taksinya sudah ada penumpangnya. Dan benar saja akhirnya Zahra menyebrang, karena taksi tidak ada yang lewat. Reisa pun langsung menyalakan mobilnya, awalnya pelan, dan saat Zahra sudah ketengah jalan Reisa langsung melajukan mobilnya sekencang mungkin.
Saat mobilnya sedikit lagi akan sampai ke Zahra,,
"Sayang awasss!
Brukk
Reisa sampai terkejut saat Bagas tiba-tiba sudah didepan mobilnya dan ia tidak sempat mengerem mobilnya dan terjadilah Bagas yang tertabrak.
Flashback off
Disebuah Apartemen mewah,wanita cantik yang tengah kalut dan ketakutan setelah apa yang ia lakukan kepada laki-laki yang ia sukai dan cintai. Mengingat kejadian tadi membuat tubuhnya bergetar. Niat untuk menabrak wanita yang menjadi saingannya, yaitu istri dari Bagas malah berakhir ia menabrak laki-laki yang ia cintai. Kalau sampai keluarga dari Bagas tahu yang menabrak adalah dirinya, ia bisa masuk kedalam penjara, kerjasama Perusahaan pasti di batalkan dan dirinya akan semakin di benci Bagas.
__ADS_1
Sebelum itu terjadi Reisa akan menghubungi Papanya meminta bantuan untuk menghilangkan bukti, karena ia tidak ingin masuk penjara. Saat asik dengan pikirannya terdengar ada yang mengetuk pintu Apartemen nya. Reisa berpikir mungkin itu Papanya, karena memang yang mengetahui Apartemen nya hanya Papanya. Sedangkan Mamanya Reisa sendiri sudah meninggal karena penyakit kanker. Reisa pun keluar dari kamar untuk membuka pintu.
Pintu terbuka, dan alangkah terkejutnya Reisa siapa yang berada di depan Apartemen nya. Dikira Papanya, tapi ternyata Bimo William dan juga satu orang Polisi, membuatnya semakin takut.
"Iya ada perlu apa ya?" Tanya Reisa sembari berusaha menutupi ke takutan nya. Sedangkan Papa Bimo yang melihat jelas ekspresi wajah ketakutan Reisa tersenyum kecil.
"Apa benar dengan Ibu Reisa?" Tanya Pak Polisi.
"Iya saya sendiri..." Jawabnya. "Emangnya ada perlu apa ya?" Tanya Reisa berusaha tidak tahu apa-apa.
"Bu Reisa anda harus ikut kami ke Kantor Polisi sekarang juga." Ucap Polisi pada Reisa yang langsung membawa Reisa.
"Jangan sok gak tahu apa-apa kamu Reisa!" Ucap Papa Bimo datar.
"Maksud Pak Bimo apa?! Saya gak ngerti. Kalau Pak polisi ingin membawa saya, apa ada surat ijinnya?" Tanyanya yang berusaha terus mengelak untuk di bawa ke Kantor Polisi.
"Reisa!" Bentak Papa Bimo yang mulai geram melihatnya. Jangan pura-pura bodoh seakan tidak terjadi apa-apa. Kamu sudah menabrak anak saya Bagas sampai dia koma di rumah sakit! dan kamu mau ngelak. Saya memiliki rekaman Cctv jika kamu mau buktinya. Pak cepat bawah dia, dan kalau kamu mau protes nanti aja di kantor Polisi." Ucap Papa Bimo.
Saat akan membawa Reisa, Yoga Aditama sampai di Apartemen anaknya. Reisa yang melihat Papanya datang, langsung lari memeluk Papanya.
__ADS_1
"Pa tolong Reisa, Reisa mau di bawa kekantor Polisi. Reisa mohon Pa.. Reisa gak mau masuk penjara.." Ucapnya meminta pertolongan ke Papanya Yoga yang baru saja datang. Karena iya yakin Papanya tidak akan tega anaknya masuk ke penjara.
"Cukup Reisa! Papa sudah lelah lihat tingkah kamu yang selalu saja berbuat jahat demi mendapatkan apa yang kamu inginkan. Kamu juga sudah membohongi Papa selama ini! Kamu tidak memberitahu kan ke Papa kalau Bagas sudah memiliki istri. Dan kamu seenaknya akan merebutnya?! Dimana perasaan kamu sebagai wanita hmm?!" Ucap Papa Yoga marah pada anaknya.
"Tapi Pa.. Reisa mohon Reisa tidak mau masuk penjara.."
"Maaf nak kali ini Papa tidak bisa bantu kamu, kamu harus mendapat hukuman dengan apa yang sudah kamu lakukan. Kalau kamu tidak dapat hukuman, kamu tidak akan pernah berubah dan akan terus saja melakukan seperti itu. Kamu tahu gara-gara kamu Bagas jadi kritis di rumah sakit, dan istrinya harus BedRest karena kandungannya lemah. Papa kecewa sama kamu Reisa." Ucapnya kecewa dan sedih melihat kalakuan anaknya. "Pak tolong bawa anak saya, hukum dengan sesuai kesalahan apa yang dia lakukan Pak." Ucap Papanya pasrah.
Polisi langsung memborgol tangan Reisa dan membawanya bersama Pengacara Papa Bimo. Reisa terus saja berontak ia tidak mau di bawa ke Kantor Polisi.
"Pak Bimo saya minta maaf atas apa yang sudah dilakukan anak saya Reisa pada Bagas dan istrinya. Saya sudah salah mendidiknya. Seharusnya saya tidak menjadikan Reisa anak yang manja. Semenjak istri saya meninggal, saya lebih menyibukkan diri dengan bekerja. Sampai jarang memantau pergaulan nya. Sebenarnya Reisa sering melakukan kejahatan seperti ini jika ingin mendapatkan sesuatu yang ia inginkan, tapi saya berusaha menutupi semuanya. Saya benar-benar sudah gagal menjadi orang tua yang baik untuk anak saya sendiri." Ucapnya menyesal.
"Oke Pak Yoga saya maafkan, tapi kalau untuk Reisa proses hukum harus tetap berjalan."
"Iya Pak Bimo saya ngerti, jika terjadi kepada anak saya, saya juga akan melakukan yang sama. Sekali saya minta maaf."
"Iya Pak Yoga. Kalau gitu saya permisi dulu, saya harus kerumah sakit melihat keadaan Bagas."
"Baik Pak Bimo. Saya doakan Bagas cepat sadar dan membaik. Agar bisa berkumpul kembali dengan keluarganya. Sampaikan permintaaafan saya kepada seluruh keluarga Pak Bimo." Ucapnya tulus.
__ADS_1
Selesai berbicara kepada Yoga Aditama, Bimo langsung menuju Rumah Sakit. Sedangankan masalah Reisa, Papa Bimo menyerahkan kepada Polisi dan Pengacaranya.