CEO Ku Adalah Suamiku

CEO Ku Adalah Suamiku
133. Bab 133


__ADS_3

Sampainya di ruangan bayi, Bagas langsung masuk kedalam ruangan tersebut. Di dalam sana ada tiga box bayi, dan salah satunya adalah anaknya. Bagas terdiam dan menatap nanar box bayi yang berisi anaknya setelah ia melihat nama nyonya Zahra Adelia William yang tertulis di kertas dan menempel di box bayi tersebut. Kemudian Bagas mengambil anaknya dari box bayi, Bagas menggendong nya dengan hati-hati takut anaknya terjatuh, karena ini baru pertama kalinya ia menggendong seorang bayi. Ketika Gavin lahir dulu Bagas sama sekali tidak ada menggendongnya melihatnya saja tidak mau, mengingat itu membuat dadanya sesak dan hatinya sakit, sampai sekarang dirinya pun masih merasa bersalah dengan hal itu. Untungnya Gavin, anaknya tidak membencinya.


Bagas tersenyum saat menatap anaknya, ternyata Dokter itu benar anaknya sangat cantik dan mirip dengan Zahra, bundanya. Bagas menciumi wajah anaknya dengan lembut dan sayang.


"Adek pasti ingin di gendong bunda ya..? pasti Uda gak sabar ya mau mimik susu bunda kan?" Tanya Bagas pada anaknya sembari mengelus pipi lembut anaknya "Sabar ya sayang.. kita doain bunda ya dek, biar bunda cepat sadar." lirihnya. Bagas kembali menitihkan air matanya nya mengingat istrinya. "Adek disini dulu ya, Papa mau lihat bunda lagi." Bagas kembali mencium anaknya yang masih terlelap, kemudian Bagas meletakkan kembali di box bayi.


"Suster saya titip anak saya, tolong jaga dengan baik." Ucap Bagas pada suster yang menjaga ruangan bayi tersebut.


"Iya tuan, karena itu memang tugas saya." balasnya sembari tersenyum menatap wajah tampan Bagas.

__ADS_1


Setelah keluar dari ruangan Bayi, Bagas langsung menuju ruangan istrinya berharap istrinya sadar dan baik-baik saja.


"Mery bagaimana? apakah Dokter sudah ada keluar dari ruangan persalinan?"Tanya Bagas yang sudah berdiri di depan pintu ruangan Zahra.


"Belum tuan." jawabnya dengan lemah.


Bagas langsung menghela nafasnya, dan mengusap wajahnya dengan kasar.


Sudah satu jam berlalu, tetapi Dokter belum juga keluar dari ruangan, membuat Bagas sangat-sangat frustasi dan takut kemungkinan yang terjadi hal buruk pada istrinya. Bagas duduk di kursi tepat di samping ruangan istrinya, ia menatap ke depan dengan pandangan kosong. Entah apa yang di pikirkan Bagas saat ini, ia benar-benar takut istrinya meninggalkan nya.

__ADS_1


"Bagas.." panggil Daniel dengan lirih yang sudah terduduk di samping Bagas. Membuat Bagas tersadar dari lamunannya.


Daniel baru saja sampai di rumah sakit, soalnya Bagas belum juga ada ngasih kabar ke Daniel, Daniel juga beberapa kali menghubunginya tapi tidak di angkat-angkat oleh Bagas. Dan terakhir Daniel menghubungi Mery, Daniel sempat kaget apa yang diucapkan Mery di telpon tadi, kalau Zahra mengalami pendarahan. Istrinya Lisa yang mendengar itu langsung menangis dengan apa yang menimpah sahabatnya itu. Daniel langsung pergi kerumah sakit, untuk memberi dukungan kepada sahabatnya, tadinya Lisa juga ingin ikut ke rumah sakit tapi Daniel melarangnya, kerena istrinya itu lagi hamil dan Daniel tidak mau istrinya itu kelelahan. Daniel janji akan selalu memberi kabar tentang keadaan Zahra pada Istrinya. Daniel meminta tolong ke istrinya untuk menjaga Gavin di apartemen nya, kasian Gavin kalau harus di bawa kerumah sakit pasti akan sedih kalau melihat bundanya berada di rumah sakit. Daniel juga tidak ingin membuat Gavin syok dengan kondisi bundanya.


Daniel mengelus punggung Bagas. "Bro.." Bagas langsung memeluk sahabatnya itu sembari menangis terisak.


"Lo yang sabar ya.. gue yakin Zahra pasti baik-baik aja. Zahra wanita yang kuat bro dia gak akan ninggalin Lo dan anak-anaknya gitu aja." ucap Daniel memenangkan Bagas. Daniel prihatin melihat Bagas, ia gak pernah melihat Bagas serapuh dan sefrustasi ini, membuat Daniel menjadi tidak tega dan iba. Daniel berdoa semoga Zahra cepat sadar dan baik-baik saja, dan Daniel juga berdoa semoga saat istrinya lahiran tidak mengalami serupa dengan apa yang dialami Zahra saat ini.


"Makasih bro." balasnya yang langsung melepaskan pelukan kepada Daniel. "Gue enggak tahu harus berbuat apa bro, sampai sekarang Dokter belum juga keluar dari ruangan. Gue gak akan sanggup kehilangan istri gue, gue gak akan sanggup! Dan gue belum bisa membahagiakan istri gue Niel.." Ucap Bagas yang kembali menangis mengingat keadaan istrinya. Bagas benar-benar sangat menyesal telah meninggalkan Istrinya dirumah, dan memilih tetep pergi kekantor untuk meeting. Kalau boleh memilih lebih baik dirinya kehilangan klien dari pada kehilangan istrinya.

__ADS_1


"Jangan seperti ini bro, gue yakin Zahra akan sadar dan baik-baik saja, dia juga gak akan meninggalkan Lo dan kedua anak kalian. Yang harus lo lakukan itu adalah banyak-banyak berdoa agar istri Lo capat sadar." Daniel berusaha menenangkan Bagas kembali.


__ADS_2