
Selesai menerima telfon dari Bagas, Rio melanjutkan makan siangnya. Sedangkan Sheina baru saja selesai, ia cepat-cepat menyelesaikan makan siangnya karena Sheina sekarang ini sangat canggung dekat dengan Rio, mereka hampir saja berciuman. Sungguh ia sangat malu saat ini, ingin rasanya ia menghilang saja dari hadapan Rio.
"Sheina..." panggil Rio yang masih duduk di sofa yang berada di ruangannya.
"Iya kak ada yang bisa aku bantu?" tanya Sheina yang berusaha berbicara formal kepada Rio
"Tadi Bagas telfon kakak. Kamu di suruh ke ruangannya, katanya ada yang ingin Bagas bicarakan sama kamu." jawab Rio
"Emangnya yang telpon kak Rio tadi itu kak Bagas..?!" tannya
"Iya Shein.." jawab Rio. O iya Shein nanti malam kak Rio sama Bagas akan terbang ke Bali."
"Ke Bali.. kok mendadak kak, emang ada kerjaan ya disana?" tanya Sheina
"Iya ke Bali. Karena ada sedikit masalah di kantor cabang disana Shein.." jawab Rio. "Entar kakak kasih berkas ke kamu untuk kamu pelajari selama kak gak masuk. Jangan lupa kamu catat poin-poin nya ya.." ucap Rio
"Oke kak.." jawab Sheina. "Berapa lama kakak berada di Bali?" tanya Sheina
"Mungkin dua hari Shein.. Itu pun kalau masalahnya bisa cepat diselesaikan." jawab Rio. "Nanti kalau kamu ada yang kurang ngerti kamu telfon kakak aja. Kamu masih simpan nomer ponsel kakak kan..?"
"Masih kak." Nomor kakak masih yang lama kan?"
" Masih Shein.."
"Kak Rio, Sheina keruangan kak Bagas dulu ya.."
__ADS_1
"Oke Shein.." jawab Rio
Sheina keluar dari ruangan Rio menuju ruangan kakaknya Bagas. Sheina melihat Mila sekretaris kakak nya sedang mengerjakan sesuatu di mejanya. Sheina pun berhenti di depan meja Mila.
"Hai mba Mila.. Kak Bagas nya ada di ruangannya kan?" tanya Sheina
"Hai Sheina. Pak Bagas ada kok di ruangannya. Masuk aja Shein." jawab Mila
"Oke makasih mba.."
"Sama-sama Sheina cantik.."
Tok tok tok
"Masuk.." jawab Bagas dari dalam.
"Duduk Shein. Ada yang ingin kakak bicarakan sama kamu." ucap Bagas pada adiknya
Sheina jalan menuju sofa lalu ia duduk. Bagas pun beranjak dari kursinya dan mengikuti adiknya yang duduk di sofa.
"Kakak mau bicara apa sama Sheina?"
"Shein kakak minta tolong sama kamu, malam ini kamu tidur di rumah kakak. Temani Zahra sampai kakak pulang dari Bali. Kasian Zahra tidak ada temannya di rumah." ucap Bagas. "Kamu mau kan Shein..?" tanyanya
"Mau dong kak.. Lagian Sheina juga bosen dirumah gak ada temen. Kalau ada mba' Zahra kan jadi ada teman ngobrol atau teman curhat Sheina." Jawab Sheina. "Kakak sih kalau Sheina mau main kerumah kakak, gak boleh. Emang kenapa sih pelit amat Pak CEO."
__ADS_1
"Bukannya gak boleh. Soalnya kalau kamu Uda maen kerumah, terus kamu ngobrol sama Zahra entar jadi gak ingat waktu. Yang ada kakak gak bisa dong berduan sama Zahra."
"Ya Tuhan kakak.. kaya gak ada waktu lain aja kalau mau berduaan sama mbak Zahra. Tiap hari juga ketemu apa lagi kakak satu rumah. Please deh kak jangan lebay." ucapnya kesal dengan kakaknya
"Biarin aja syirik aja loh! Kamu karena belum nikah aja, entar kalau kamu Uda nikah pasti bakalan ngerasain kaya kakak gak akan bisa jauh dari pasangan kita."
"Ck. Dasar bucin!" ucap Sheina. " Ya uda itu aja kan yang mau kakak bilang, soalnya Sheina mau balik ke ruangan."
"O iya satu lagi Shein tolong kamu bantu Mila ya ngurus acara ulang tahun Perusahaan.."
"Loh emangnya acaranya kapan kak..?" tanya Sheina
"Minggu depan Shein.." jawab Bagas. "Jadi kamu bantu Mila ya? entar takutnya dia kerepotan lagi kalau ngurus sendiri."
"Oke kakak ku sayang.. Sheina balik ke ruangan kak Rio ya.."
"Jangan lupa Shein entar malam kerumah temani Zahra."
"Iya kakak..." jawab Sheina
"Makasih adikku yang paling cantik.." ucapnya
Sheina pun beranjak dari sofa, tak lupa ia mencium pipi kakaknya. Bagas yang dicium dengan Sheina pun protes.
"Sheina kamu gak boleh cium-cium kakak lagi. Karena yang boleh cium kakak sekarang hanya kakak ipar kamu."
__ADS_1
"Ck! Please deh kakak ku yang paling tampan perkara cium aja protes. Tau ah pusing lihat kakak. Mending Sheina keluar." ucap Sheina kesal sembari menghentak-hentakan kedua kakinya pergi keluar dari ruangan Bagas.
Bagas yang melihat Sheina menghentak kan kakinya malah terkikik geli.