CEO Ku Adalah Suamiku

CEO Ku Adalah Suamiku
9. Bab 9 Rumah Baru


__ADS_3

Kini Bagas dan Zahra Uda berada di kamar hotel mereka. Setelah orang tua mereka berpamitan untuk pulang kerumah masing masing, begitu juga dengan kakak Zahara mereka pun pamit pulang ke Bandung.


"Sayang.." panggil Bagas pada istrinya


"Ia mas ada apa?" jawab Zahra, yang lagi bersiap siap menyusun beberapa setel bajunya untuk di masukan ke dalam koper. Karena mereka hanya nginap satu hari di hotel.


"Mas mau ngajak kamu ke suatu tempat."


"Emang mau kemana mas..?" tanya Zahra sambil menaikkan kedua alisnya


"Uda kamu ikut aja, entar kamu juga tau kok. Uda selesai semuanya kan? ayo kita berangkat, sini biar mas aja yang bawa kopernya."


Mereka pun keluar dari kamar hotel, sambil berjalan Bagas tak lupa memegang tangan istrinya dan tangan satunya membawa koper. Zahra yang dipegang tangannya menundukkan kepalanya sambil senyum senyum, ada rasa bahagia dan nyaman dalam hatinya.


Sepertinya aku Uda jatuh cinta pada suami ku, ya Allah tumbuhkan lah terus rasa cinta itu di dalam hatiku untuk suamiku, ucap Zahra dalam hati.


Setelah sampai parkiran hotel, mereka menuju mobil mewah Bagas, lalu ia membukakan pintu mobil untuk istrinya, Zahra pun masuk kedalam mobil, kemudian Bagas jalan memutar ke arah pintu mobil satunya dan ia langsung masuk kedalam mobil.


Kini mereka Uda berada di jalan menuju rumah yang akan di tunjukkan oleh Bagas pada istrinya. Mobil Bagas pun masuk ke sebuah komplek perumahan yang sangat mewah, Zahra yang tadi bingung pun akhirnya gak tahan untuk bertanya kepada suaminya.


"Mas, kita mau kerumah siapa?" tanya Zahra pada suaminya.

__ADS_1


"Sayang entar kamu juga tahu, sabar ya ini entar lagi nyampai kok." Jawabnya.


Gak lama pun mereka sampai di sebuah rumah yang mewah dan minimalis dengan halaman cukup luas.



"Mas ini rumah siapa..?" tanya Zahra, sambil melihat suaminya dengan bingung.


"Ayo masuk." Bagas menggandeng tangan istrinya sambil membawa Zahra masuk kedalam.


"Sayang ini rumah kita... gimana kamu suka gak..?" ucap Bagas pada istrinya sambil tersenyum memandang istrinya.


"Iya sayang mas serius, ini rumah mas belikan untuk kamu dan untuk kita berdua, kita akan tinggal disini sekarang.. apa kamu gak suka ya sama rumahnya..?"


Zahra yang di tanya pun diam mematung, karena mendengar apa yang di ucapkan suaminya.


"Sayang jawab dong kok diem aja.. apa rumahnya jelek ya, kalau kamu gak suka dengan rumah ini biar mas beli yang lain lagi.." ucap Bagas dengan merangkul bahu istrinya.


"Jangan beli lagi mas.. Zahra suka kok dengan rumah nya, bahkan menurut Zahra rumahnya terlalu mewah mas.. pasti ini mahal kan mas..?" Ucapnya yang tak menyetujui suaminya untuk membeli rumah lagi.


"Gak mahal kok sayang.. tadinya mas pengen beli apartemen, tapi mas pikir pikir entar kalau kita punya anak mereka gak leluasa bermain. Kalau rumah ini kan halamannya cukup luas jadi anak kita bisa bebas main di halaman depan.. entar kita buat gazebo ya disana, biar kita bisa duduk santai di Gazebo sambil menjaga anak anak kita.."

__ADS_1


Mendengar Bagas berbicara seperti itu membuat hati Zahra menghangat dan tak terasa ia meneteskan air mata. Gak menyangka Bagas sampai kepikiran sampai kesana.


"Bagas menoleh kearah istrinya, Zahra menunduk kan kepalanya sambil menangis terisak. Bagas yang mendengar nya pun terkejut, lalu ia menyentuh dagu Zahra dan mengangkatnya. Bagas menghapus air mata istrinya, sayang kenapa menangis hmm..? apa kata kata yang mas ucapkan ada yang menyinggung kamu..?"


"Mas..." tiba tiba Zahra langsung memeluk Bagas sambil menangis. "Kenapa kamu sampai melakukan semua ini mas.."


"Jangan nangis dong.. entar mas jadi ikutan sedih. Mas gak ngelakuin apa apa sayang.. mas hanya membelikan rumah untukmu dan anak anak kita, karena mas ingin hidup mandiri sama kamu sayang.. menjalani kehidupan rumah tangga kita disini. Kamu maukan mengandung anak anak mas..?" Tanyanya


Mendengar ucapan Bagas, Zahra pun tersenyum sambil melihat suaminya begitu dalam. "Insyaallah mas Zahra mau..." jawab Zahra malu malu.


"Lihat pipi kamu merah sayang.. duh gemesin banget sih jadi gak sabar pengen nerkam kamu." ucap Bagas sambil menggoda istrinya. "Ayo kita lihat lihat lagi." ucapnya lagi.


Bagas dan Zahra pun menelusuri seluruh ruangan tersebut. Zahra yang melihat isi rumah tersebut sangat senang dan bahagia.


"Sayang.. kamu Gak perlu beres beres lagi, semua perabotan Uda lengkap kok tapi kalau menurut kamu masih ada yang kurang, bisa kita beli lagi nanti. O ya sayang, pembantunya juga Uda ada untuk bantu bantu kamu di rumah, mas cari yang bisa masak sekalian. biar kalau kamu kerja gak perlu masak lagi kan Uda ada Mbak yang masak. Security yang jaga rumah juga ada, tuh ada di depan dan juga ada supir yang stanbuy untuk ngantar kamu kemana mana kalau mas gak ada atau mas gak bisa Anter kamu, kan di bagasi mobil ada 2." ucap Bagas.


"Mas apa ni gak terlalu berlebihan...? kalau yang nyiapin makan biar Zahra aja mas yang masak, karena Zahra ingin masak sendiri untuk mas.. si mbak biar beres beres rumah aja."


"Ini gak berlebihan sayang.. kalau kamu bersedia masakin untuk mas gak apa-apa, Alhamdulillah mas Mala senang." Ucapnya. "Sayang entar orang tua kamu sama mas mau kesini lihat rumah kita, sekalian makan malam disini.. tapi kamu gak usah khawatir mas Uda pesan makanan lewat online kok, jadi kamu gak perlu cepek capek masak."


Setelah itu mereka melihat-lihat rumah baru mereka lagi.

__ADS_1


__ADS_2