
Setelah semua keluarga nya keluar dari ruangan Zahra, kini didalam hanya ada Bagas, Zahra dan baby Zoya yang tengah menyusu. Bagas masih saja mencium kepala istrinya dengan sayang.
"Sayang, Zoya cantik ya.. persis seperti kamu.' ucap Bagas yang duduk di samping istrinya sembari mengelus pipi lembut anaknya. "Duh gemasnya lihat pipi bulat nya.." ucapnya lagi dengan mencium pipi anaknya.
"Iya mas, gemas banget lihatnya. Jadi gak sabar nih bundanya pengen dandanin si adek." Zahra tersenyum menatap anaknya yang lagi menyusu dengan lahap.
"Adek, susunya jangan di habisin dong.. papa juga mau loh dek.." gurau Bagas yang tersenyum melihat anaknya itu menyusu dengan begitu lahap.
"Mas.." Zahra menatap tajam suaminya.
"Iya sayang.." jawab Bagas dengan tersenyum lebar saat mendapat tatapan tajam dari istrinya.
"Di depan anak jangan ngomong gitu mas.." ucap Zahra.
"Oke. Kali ini Papa serahin buat Adek ya.. tapi entar kalau Adek Uda gak nyusu lagi sama bunda, ini kembali buat papa.." ucap Bagas santai sembari tangan nya menyentuh buah dada istrinya. Melihat anaknya begitu lahapnya menyusu membuat Bagas jadi pengen mencobanya seperti apa rasa susu yang ada di dada istrinya, sampai Bagas menelan saliva nya susah payah.
"Mas ih! ngomongnya.." kesal Zahra.
"loh kan benaran sayang.. entar kalau Adek uda gak mimik susu dari kamu lagi, ini kembali milik mas.." goda Bagas.
"Astaghfirullah mas.. kok kamu jadi mesum gini sih!" kesalnya sembari mencubit lengan Bagas.
Bagas bukannya kesakitan lengannya di cubit oleh Zahra, ia malah tertawa melihat kekesalan istrinya itu. Bagas rindu, rindu menggoda istrinya dan rindu membuat istrinya kesal.
"Mas Uda dong ketawanya, Zoya lagi tidur loh mas.."
__ADS_1
"maaf sayang.. Kamu tahu sayang, mas sudah lima hari tidak bisa tertawa selepas ini." Ucap Bagas dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ma_-" baru akan membalas ucapan suaminya Dokter Gwen masuk ke ruangan Zahra.
"Permisi.." Ucap Dokter Gwen sudah di dalam ruangan Zahra bersama satu suster yang memang khusus membantu Dokter Gwen.
"Iya Dok.." balas Bagas dan Zahra serentak.
"Nyonya Zahra kita periksa dulu ya.."
Bagas pun mengambil alih Zoya dari tangna istrinya, agar lebih mudah Dokter Gwen memeriksa kondisi istrinya.
"Saya kapan boleh pulang ya Dok?" tanya Zahra yang masih di periksa oleh Dokter Gwen, karena Zahra tidak mau lama-lama berada di rumah sakit.
"Sabar ya nyonya.." jawab sang Dokter. "Oke, semua baik dan tidak ada yang perlu di kuatir kan, tinggal pemulihannya aja. Kemungkinan tiga atau empat hari nyonya sudah di perbolehkan pulang ke rumah." tambah Dokter Gwen lagi. "Kalau gitu saya permisih tuan, nyonya." ucap Dokter Gwen sebelum keluar dari ruangan Zahra.
Setelah Dokter Gwen keluar, Bagas kembali duduk di samping istrinya sembari masih menggendong baby Zoya.
"Mas Gavin gimana? aku Uda kangen dengan Gavin. Apa Gavin tahu mas, keadaan bundanya?" tanya Zahra yang baru teringat anak tampannya.
"Gavin baik sayang, dia lagi ada di rumah bersama Sheina, mungkin besok baru datang kesini lihat Adek dan kamu, Gavin juga rindu dengan bundanya." jawab Bagas. "kalau soal kamu yang koma, Gavin tidak mengetahui nya. Kami semua menyembunyikannya, dan kami hanya memberitahukan pada Gavin jika kamu harus banyak istirahat setelah selesai mengeluarkan Adek dari dalam perut kamu, jadi tidak boleh di ganggu dulu agar cepat sehat. Kamu tahu sayang, untungnya dia mengerti dan Gavin bilang, tidak apa-apa kalau kak Gavin belum bisa lihat bunda, dan kakak gak akan ganggu bunda supaya bunda cepat sehat." ucap Bagas menceritakan anaknya, Gavin. "Lagian sayang, dirumah ada Shakeela, jadi dia bisa main dengan Keela mengalihkan pertanyaan tentang bundanya kok lama balik dari rumah sakit." tambah Bagas menjelaskan ke Zahra.
"Apa Gavin uda lihat adek nya mas?"
"Uda sayang, tapi hanya sekali dia melihat Zoya. Gavin bahagia banget lihat adek, Gavin sampai tidak berhenti menciumi adiknya saat bertemu kemaren." jawab Bagas sembari memeluk istrinya dari samping.
__ADS_1
Zahra tidak berhenti tersenyum melihat Beby Zoya, kemudian tangan Zahra mengelus rambut dan wajah cantik anaknya, Zoya. Sungguh anaknya ini menggemaskan sekali.
"Mas kita jadi satu sama ya.." ucap Zahra masih terus menatap wajah menggemaskan anaknya.
"Satu sama?!"
"Iya mas.. kalau Gavin semakin mirip dengan kamu dan_-"
"Baby Zoya mirip kamu.." potong Bagas langsung.
Mereka pun sama-sama tersenyum menatap anaknya, anak kedua mereka. Dalam hati Bagas tak henti-hentinya mengucapkan kata syukur kepada Allah, Bagas berjanji akan selalu mencintai istrinya sampai maut memisahkan mereka, dan akan terus membahagiakan keluarga kecilnya.
"Mudah-mudahan Adek sifatnya kaya bunda ya sayang.."
"Amiiin.."
"Sini biar adek mas letak di box nya lagi." Zahra menyerahkan Zoya pada Bagas, kemudian Bagas meletakkan Zoya di box bayi. Bagas kembali mendekat ke istrinya dengan matanya mulai berkaca-kaca.
"Kamu kenapa mas?" tanya Zahra yang melihat mata suaminya berkaca-kaca seperti ingin menangis.
"Mas mohon jangan pernah seperti ini lagi ya sayang.." Bagas mencium kening Zahra lembut, lalu memeluknya. Bagas tidak bisa membayangkan kalau dirinya benar di tinggal meninggal oleh istrinya, mungkin dirinya akan benar-benar gila.
"Maaf mas.. pasti Uda buat kamu takut dengan keadaan Zahra." ucap Zahra merasa bersalah.
"Mas benar-benar takut banget kalau kamu sampai meninggalkan mas sayang." Zahra melepaskan pelukannya dari sang suami, kemudian Zahra mencium kening, mata dan pipi suaminya, untuk menenangkan suaminya itu. Bagas yang dicium oleh istrinya, langsungg menatap dalam istrinya dan selanjutnya Bagas mencium bibir istrinya lembut. Awalnya Zahra diam saja, tapi karena begitu lembut suaminya mencium bibirnya membuat Zara terbuai dan ia pun membalasnya. Bagas masih terus mencium istrinya, ia tak mau melepaskan tautan bibirnya dari istrinya, Bagas seakan takut tidak bisa merasakannya lagi. Tak berapa lama Bagas melepaskan sejenak tautan bibirnya ke bibir istrinya, kemudian ia melanjutkan lagi.
__ADS_1
"Astaghfirullah...!" ucap seseorang yang baru saja masuk kedalam ruangan Zahra.