
Zahra tiba didepan pintu ruangan suaminya. Setelah beberapa menit yang lalu Bagas menghubungi istrinya untuk datang keruangannya. Seperti yang di bilang oleh Bagas pagi tadi, bahwa ia mau memperkenalkan Zahra kepada sahabatnya. Mila yang berada di mejanya, mempersilahkan Zahra untuk langsung masuk keruangan Bagas. Tapi Zahra seperti biasa, dia lebih memilih mengetuk pintu terlebih dahulu.
Tok tok tok
"Iya masuk sayang.." Jawab Bagas sudah mengetahui, pasti yang mengetuk pintunya adalah istrinya.
Zahra yang masih diluar terkejut, kalau suaminya mengetahui bahwa dirinya lah mengetuk pintu ruangan nya. Zahra lalu membuka pintu ruangan suaminya, dan masuk kedalam. Bagas yang melihat istrinya sudah masuk, langsung nyamperin istrinya yang lagi berdiri di depan pintu.
"Sayang ayo sini mas kenalkan sama sahabat mas waktu SMA." ajak Bagas pada istrinya, sembari jalan menuju sofa, dimana sahabatnya telah duduk.
Gio yang sudah melihat Zahra saat masuk ke ruangan Bagas pun tersenyum manis pada Zahra. Begitu juga dengan Zahra membalas senyuman dari Gio.
"Zahra kan?" Tanya Gio yang seperti sudah mengenal Zahra.
"Iya saya Zahra.." Jawab Zahra yang bingung melihat Gio, yang sudah tahu namanya. Kemudian Zahra memicingkan matanya sembari berpikir, seperti ia pernah bertemu dan mengenal sahabat dari suaminya.
"Lo kok bisa tahu nama istri gue?" Tanya Bagas. "Apa jangan-jangan kalian berdua Uda saling kenal lagi?!"
"Lo gak ingat sama gue Ra'.. gue keponakan dari om Andre, suami dari Tante Yana.." Ucap Gio menjelaskan ke Zahra yang masih belum mengingat dirinya.
"Ya Allah, kak Gio ya? maaf kak Gio Zahra lupa, soalnya kita Uda lama gak pernah ketemu lagi. Terakhir ketemu waktu Ulang tahun pernikahan Om Andre dan Tante Yana yang ke 3 tahun kan..?" Tanya Zahra pada Gio.
__ADS_1
"Iya Uda lama banget ya gak ketemu, sekitar hampir tiga tahun yang lalu." Jawab Gio.
Zahra dan Gio adalah saudara sepupu dari Om dan Tante nya mereka. Om Andre adalah adik dari Papanya Gio. Sedangkan Tante Yana adalah adik dari Ibunya Zahra. Mereka menikah sekitar enam tahun yang lalu. Zahra dan Gio memang sama sekali jarang bertemu, makanya Zahra agak sedikit lupa dengan wajahnya dan Zahra juga tidak begitu mengenal Gio.
"Tolong jelaskan sama gue kok kalian berdua Uda saling kenal." Ucap Bagas penasaran dengan kenalnya Zahra sama sahabatnya Gio.
"Bro Lo tenang dulu, jangan cemburu gitu. Gue dan Zahra itu sepupuan Gas.. Om gue nikah sama Tantenya Zahra. Lagian kami juga Uda lama banget gak ketemu. Zahra aja sampai lupa dan gak ingat sama gue. Ucap Gio menjelaskan.
"Ya ampun jadi kalian itu sepupuan.. dunia emang sempit ya."
"Zahra yang cantik dan imut ini istri loh?! Berarti Lo sepupu gue juga dong." Ucap Gio pada Bagas.
"Hahaha benar juga apa yang Lo bilang. Tapi jangan bilang istri gue cantik dan imut depan gue! Gue gak suka!" Ucap Bagas ketus.
"Kalau tidak apa?! Itu namanya lo tuh gak jodoh sama Zahra istri gue!"Ucapnya dengan nada yang begitu keras dan juga kesal. Rio dan Gio langasung tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban dari Bagas. Mereka berdua emang paling senang membuat Bagas kesal dan emosi. Begitu juga Zahra ikut tersenyum melihat begitu hangatnya persahabatan mereka.
"Sayang kamu jangan ikut ketawain mas kalau tidak mau di hukum oleh mas nanti malam!" Ucap Bagas datar pada istrinya. Zahra bukannya marah tapi malah tersipu malu dengan kata hukuman yang di ucapkan oleh suaminya.
Sedangkan Rio dan Gio semakin tak berhenti tertawa mendengar ucapan Bagas yang akan menghukum istrinya. Bukan tidak mengerti mereka dengan kata hukuman yang dimaksud oleh Bagas. Begitu lah persahabatan mereka bertiga. Apalagi Rio dan Gio paling suka ngerjain Bagas dan membuatnya kesal. Karena kalau Bagas Uda emosi dan kesal itu sangat lucu bagi mereka seperti melihat anak kecil yang lagi marah pada orang tuanya.
Setelah Bagas memperkenalkan istrinya pada sahabatnya Gio, yang ternyata Zahra dan Gio adalah sepupuan. Mereka kini berada di sebuah Cafe mewah sedang makan siang bersama. Tadinya Zahra tidak mau ikut, karena pasti kembali kekantor nya bakalan lama. Suaminya pasti bukan hanya sekedar makan siang, tapi pasti akan membahas pekerjaan juga. Untung saja Rio mengajak Sheina juga jadi ia ada teman ngobrol selagi mereka membahas pekerjaan.
__ADS_1
"Shein gimana persiapan pernikahan kamu?" Tanya Zahra pada Sheina yang saat ini mereka tengah duduk di meja yang berbeda, tidak satu meja bersama para lelaki-lelaki tampan yang tepatnya di sebelah meja mereka berdua.
"Persiapannya lancar, lagian Mama yang urus semuanya mbak.. kami hanya terima beres aja. Tapi uang untuk membeli seserahan tetap pakai uangnya Kak Rio. Kak Rio memberikan uang kepada Mama, dan Mama yang membeli semua keperluannya semua. Kecuali Cincin, kak Rio entar sore ngajak sheina ke tokoh perhiasan, untuk membeli cincin." Jawab Sheina menceritakan persiapan pernikahannya bersama Rio.
"Mbak mau tahu gak, berapa kak Rio ngasih maharnya ke Sheina." Ucap Sheina.
"Emangnya berapa Shein..?" Tanya Zahra jadi penasaran.
"Satu Miliar mbak.." Jawab Sheina. Zahra yang mendengar jawaban dari Sheina menutup mulutnya terkejut. Rio memberikan mahar sebanyak itu.
Tanpa Zahra tahu, waktu mereka menikah kemaren Bagas memberikan mahar kepada Ayah dari Zahra sebesar 3 miliar tapi Zahra tidak pernah menanyakan hal itu pada Bagas maupun orang tuanya. Karena pada saat ijab, Zahra berada di kamar dan menunggu sampai ijab kabul nya selesaai. Makanya Zahra tidak tahu menahu berapa mahar yang di berikan oleh Bagas padanya. Lagian Zahra memberitahukan pada Ayahnya, bahwa maharnya nanti akan semua di berikan oleh orangtuanya. Zahra tidak akan meminta maharnya satu persen pun.
Dan bukan hanya itu saja, Bagas tadinya juga akan memberikan salah satu Perusahaan nya yang berada di London untuk Zahra. Tapi Ayah Bram menolaknya. Biar Bagas saja yang langsung berbicara ke Zahra jika memang mau memberikan Perusahan itu pada anaknya.
"Banyak ya Shein satu miliar.." Ucap Zahra.
"Tadinya gak segitu mbak, kak Rio mau ngasih lebih tapi Sheina langsung nolak. Karena menurut Shein itu terlalu banyak. Lagian uangnya masih bisa di pergunakan untuk yang lain." Ujarnya. "Kalau mbak sendiri berapa Kak Bagas kasih mahar ke mbak Zahra?" Tanya Sheina.
"Aku gak tahu Shein, soalnya aku gak ada tanya tentang itu. Uangnya juga saat itu Uda langsung sama Ayah aku. Eh tapi ada sekali kami pegang maharnya saat kami foto. Tapi aku gak memperhatikan nominalnya." Jawanya santai.
"Ya ampun mbak ku yang cantik dan imut.. kok bisa-bisanya mbak gak tahu berapa mahar yang di berikan Kak Bagas pada mbak. Ini nih pengantin yang aneh yang pernah Sheina temui. Orang ma kalau mau menikah yang di tanya dulu pasti maharnya mbak.. games banget sih Sheina lihat mbak, masa' sampai gak tahu berapa mahar yang diberikan suaminya." Ucap Sheina sembari tertawa geli melihat kakak iparnya yang menurutnya unik dan gamesin. Zahra hanya tersenyum manis mendengar apa yang di ucapkan oleh Sheina padanya.
__ADS_1
"Ya uda entar aku tanya deh sama mas Bagas, berapa mahar yang diberikan untuk aku saat nikah kemaren." Ujarnya.
Selesai makan siang, mereka semua kembali ke kantor. Begitu juga dengan Gio dan sekretarisnya kembali ke Perusahaan ADIJAYA Corp.