CEO Ku Adalah Suamiku

CEO Ku Adalah Suamiku
54. Bab 54.


__ADS_3

Di Bali. Kini Bagas dan Rio masih berada di kantor memperbaiki laporan keuangan , laporan penjualan serta laporan stock barang. Hari ini benar-benar melelahkan baginya. Pikiran, tenaga serta emosinya terkuras Karena masalah ini. Besok Papanya akan datang ke Bali untuk mengatasi masalah Perusahaan di Bali saat ini dan akan memberikan ganjaran kepada karyawan yang berkhianat terhadap Perusahaan.


Begitu banyaknya kerjaan yang harus mereka kerjakan. Sampai-sampai Bagas lupa untuk menelpon Zahra istrinya, padahal dia sudah janji akan melakukan penggalian Video pada Istrinya. Bagas melihat jam di dinding ruangannya, Bagas pun terkejut melihat jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Kemudian Bagas langsung mengambil ponsel dari saku jasnya. Bagas pun melihat ponselnya, ada beberapa pesan dan 5 panggilan tak terjawab dari istrinya. Bodohnya ia gak mendengar ponselnya berbunyi. Dan ternyata ponselnya lagi mode silent. Bagas langsung membuka isi pesan tersebut.


My Lovely Wife


"Mas kok gak di angkat telpon dari Zahra? Mas masih sibuk ya..? jangan terlalu di paksakan mas, entar kamu sakit loh mas.. kan masih ada hari esok. Ya uda jangan sampai lupa makan ya mas.."❤️


My Lovely Wife


"Mas entar kalau kamu nelpon, dan Zahra gak angkat telpon dari mas, berati Zahra sudah tidur ya mas.. hari ini rasanya Zahra capek banget habis lembur tadi."


Membaca pesan dari istrinya membuat Bagas tersenyum dengan mendapat perhatian kecil dari istrinya. Tapi ia juga kasian padanya yang leleh karena lembur. Ingin rasanya ia langsung menelpon istrinya tapi Bagas gak tega. Apalagi sudah jam 10 malam sekarang, pasti istrinya sudah tidur.


Kemudian ia melanjutkan membuka pesan WhatsAAP dari Lisa. Terlihat foto seorang wanita yang tengah memegang keningnya seperti lagi memijat sedang duduk sembari menyandarkan kepalanya di sandaran kursi yang ia duduki. Dan Bagas langsung tau siapa wanita tersebut, yang tak lain adalah Zahra istrinya. Pasti istrinya kelelahan habis lembur, melihat itu membuat Bagas jadi gak tega pada istrinya. Ingin sekali Bagas untuk tidak mengizinkan istrinya kerja lagi, cukup istrinya dirumah aja nyantai dan menunggu dirinya pulang dari kantor. Menjadi CEO di Perusahaan WILLIAMS GRUP gajinya tidak akan kurang untuk membiayai kebutuhan nya juga istrinya. Apalagi penghasilan yang Bagas dapatkan dari beberapa Perusahaan yang ia bangun sendiri di London sudah lebih dari cukup. Kalaupun harus membelikan istrinya beberapa barang yang branded, mobil mewah bahkan Apartemen pun, sisa uang yang ada di ATM nya masih banyak. Lagian Perusahaan kakeknya yang di London juga sudah menjadi miliknya, jadi mereka bakalan tidak akan kekurangan sama sekali.


Tapi mau gimana lagi dari awal perjanjian nya kalau sudah nikah istrinya Zahra tetap masih di perbolehkan untuk kerja sampai masa kontraknya habis. Kecuali kalau istrinya hamil. Bisa aja sih Bagas mencabut kontrak kerja istrinya, karena dirinya CEO dari Perusahaan WILLIAMS GRUP. Tapi ia tidak mau istrinya marah dan kecewa padanya. Bagas ingin istrinya sendiri yang menginginkan kalau ia mau berhenti untuk bekerja. Ya Bagas berharap istrinya cepat hamil supaya istrinya berhenti bekerja. Tapi tidak memaksa kan juga semua Bagas serahkan kepada Allah.


Bagas akhirnya memutuskan untuk menelpon istrinya besok pagi saja, karena ia tidak ingin mengganggu istrinya. Yang Bagas yakini pasti saat ini wanita yang paling ia cintai itu sudah tidur. Sebenarnya ia sangat-sangat rindu pada istrinya, apalagi Bagas juga ingin melihat pipi istrinya yang memar. Kata Lisa sahabat istrinya tadi.


Bagas kembali memasukan ponselnya kedalam kantung jasnya. Lalu ia mengajak Rio untuk kembali ke Resort kerana sudah larut malam, ia juga ingin istrahat. Dan akan melanjutkan pekerjaan mereka besok.


"Bro ayo kita balik ke Resort, besok lagi kita sambung mengerjakan laporannya. Gue Uda benar-benar lelah banget hari ini." Ujarnya sembari merapikan mejanya yang berantakan oleh berkas-berkas.


"Oke. Gue juga sama, uda lelah banget sampai rasanya kepala gue mau pecah memperbaiki laporan-laporan ini." Begitu juga Rio, ia langsung menyusun dan merapikan berkas-berkas yang berantakan di meja dekat sofa.


Selesai membereskan meja Bagas dan Rio keluar dari ruangan. Mereka berjalan ke lift ingin menuju parkiran gedung. Sampai di parkiran Bagas maupun Rio sudah di tunggu oleh Johan yang akan mengantar mereka berdua balik ke Resort. Bagas dan Rio langsung masuk kedalam mobil yang memang selalu disediakan oleh Perusahaan. Setelah itu Johan melajukan mobilnya menuju Resort tempat Bosnya menginap.


Akhirnya mobil yang mereka naiki sampai juga di Resort. Bagas sudah tidak sabar ingin sampai kamar dan menghempaskan tubuhnya ke kasur.


"Pak Bagas dan Pak Rio apa ada yang di perlukan lagi?" Tanya Johan yang berjalan di belakang Bagas dan Rio sembari membawakan tas kerja Bosnya ke kamar.


"Enggak Johan kamu boleh pulang sekarang. Janagn lupa besok kamu jemput Pak Bimo jam 9 pagi." Jawab Rio.


"Baik Pak Rio. Kalau gitu saya pamit undur diri."


"Oke Jo. Terima kasih untuk semuanya.."

__ADS_1


"Sama-sama Pak Rio. Saya permisi." Ucap Johan. Kemudian Johan keluar dari kamar Bosnya lalu menuju parkiran dan ia pun pulang kerumahnya.


Saat ini Bagas dan Rio sudah berbaring di ranjang mereka masing-masing. Rio lagi asik memainkan ponselnya, kemudian ia melihat Bagas yang sudah memejamkan matanya. Tumben nih anak gak menelpon Zahra? Biasanya selalu hebo kalau mau nelpon istrinya. Apalagi kalau telponnya tidak di angkat. Mungkin Bagas kelelahan kali ya sampai ia lupa untuk menghubungi istrinya. Gumam Rio dalam hati.


Ada niat Rio untuk jahilin Bagas yang sudah tertidur. Rio kemudian mengambil bantalnya lalu ia melemparkannya ke Bagas.


Bukk


Bantal yang di lempar oleh Rio tepat mengenai kepala Bagas.


"Apa sih sayang.. mas ngantuk banget." Ucap Bagas dengan mata yang masih terpejam.


Rio yang mendengar kannya pun tertawa pelan. Sayang-sayang! kepala Lo tuh peyang. Gumamnya dalam hati.


Rio kembali melemparkan bantal kecil yang ada di sofa ke Bagas.


Bukk


Bagas tak merespon sama sekali, sepertinya Bagas sudah nyenyak tidurnya. Rio masih tidak mau menyerah, ia kembali melemparkan bantal kembali ke arahnya.


Bukk


Rio yang mendengar Bagas kembali berbicara dengan mata yang terpejam pun tidak tahan lagi untuk tidak tertawa. Rio akhirnya tertawa terbahak-bahak begitu kencang sampai membuat Bagas bangun karena terkejut.


"Woy setan! kurang ajar Lo ngagetin gue aja! Gak tahu apa gue lagi tidur." Ucap Bagas kesal pada Rio yang sudah menggangu tidurnya. "Ngapain sih lo ketawa sampai kaya gitu. Uda seperti orang gila aja."


Rio bukannya jawab tapi mala semakin tertawa terbahak-bahak sampi membuat perutnya sakit. Bagas yang kesal dan dongkol langsung melempar bantal ke arah wajah Rio. Bukannya berhenti tertawa, Rio masih saja terus tertawa.


"Wah benaran nih kayanya lo uda gila. Dari tadi gak berhenti tertawa. Kenapa sih Lo Rio?" Tanya Bagas dengan nada yang sedikit keras.


"Gue. Gue gak kenapa-kenapa." Jawab Rio


"Terus kenapa Lo tertawa sampai kaya gitu."


"Gue lagi ngetawain Lo Bagas..."


"Emang nya gue kenapa sampia Lo ngetawain gue?"

__ADS_1


"Lo gak sadar kalau gue beberapa kali melempar bantal ke arah Lo." Ujarnya sembari kembali tertawa. "Dan lo mau tau, Lo jawab apa saat gue lempar Lo pakai bantal.."


"Gue ngomong apa emangnya?" Tanyanya.


"Sayang nanti ya pasti mas kasih kok.. Tapi hari ini mas capek banget. Mas juga kangen sama kamu." Jawab Rio yang mengikuti nada bicara Bagas.


"Lo serius kalau gue ngomong gitu?! Berarti yang nimpuk gue pake bantal itu Lo?! Tapi dalam mimpi gue yang nimpuk itu Zahra.." Benar saat Bagas tidur nyenyaknya ia mimpi kalau dirinya dipukul oleh Zahra karena tidak mau bangun soalnya Zahra menginginkan sesuatu. Ternyata itu bukan mimpi, itu benar kenyataan dirinya di pukul pakai bantal, bukan Zahra yang mukul melainkan kerjaannya Rio.


"Mangnya Lo mimpi apaan?" Tanya Rio.


"Ada deh mau tau aja Lo gue mimpi apaan." Jawabnya.


"Ck. Dasar! Akibat kangen tuh sampai ke bawa mimpi." Ujarnya. "Lagian tumben banget Lo gak nelpon Zahra?"


"Gue sih pengen banget nelpon dia, tapi dia Uda tidur. Kasian soalnya hari ini tadi Zahra lembur, jadi gue gak mau ganggu dia. O iya bro gue mau tanya sama Lo. Lo tahu gak kepala divisi marketting?" Tanyanya.


"Kepala divisi marketting. Ia gue tahu, Sonya." Jawab Rio. "Emangnya kepapa? Apa dia berusaha menggoda Lo lagi?"


"Bukan mau menggoda gue, tapi dia Uda nampar Zahra sampai pipinya memar."


"Apa! Sonya nampar Zahra?!" Lo serius.." ucapnya yang terkejut dengan apa yang di ucap Bagas barusan. "Kok bisa bisanya Sonya nampar Zahra.. Tapi Lo tahu dari siapa?"


"Ada yang sengaja ngambil foto gue sama Zahra saat sedang berciuman di mobil. Terus mengirimkan fotonya sama Sonya, jadi Sonya gak suka kalau Zahra dekat sam gue. Dia langsung nampar Zahra gitu aja. Dan gue tahunya dari sahabatnya Lisa, dia ngirim pesan ke gue tadi."


"Lagian kenapa sih gak Lo umumkan aja hubungan lo sama Zahra. Kalau Zahra itu istri Lo. Jadi mereka semua gak akan kaya gini."


"Bukannya gue gak mau bro.. tapi Zahra yang belum mau ngumumkan setatus kami. Alasannya dia gak mau semua karyawan Perusahaan jadi canggung padanya, dan segan padanya karena Zahra istri dari CEO tempat mereka bekerja. Tapi gue Uda sepakat sama Zahra, entar di acara Ulangtahun Perusahaan gue dan Zahra umumkan hubungan kami."


"Zahra wanita yang unik. Kalau wanita lain ma jadi istri CEO pasti langsung senang, sombong, pamer dan sok berkuasa. Nah ini Zahra tetep menjadi dirinya yang apa adanya dia tidak mau sombong dengan jabatan suaminya. Gue yakin pasti Zahra wanita yang tidak terlalu suka minta di belikan barang-barang yang branded. Kalau dibilang Zahra tuh orang yang cukup kaya, tapi dia tidak pernah menunjukan hal itu kepada semua orang. Lihat lah dia lebih memilih kerja di Perusahan orang lain dari pada kerja di kantor ayahnya. Lo beruntung banget bro bisa hidup bersama Zahra."


"Lo benar Rio. Makanya tiap hari gue makin cinta sama dia. Selama bersama Zahra, dia sama sekali belum pernah meminta apa pun ke gue. ATM yang gue kasih pun belum ada berkurang. Beda sama mantan-mantan gue yang di London, mereka datang ke kantor gue hanya untuk meminta uang dan ngajak gue untuk soping. Mungkin ya kalau gue kasih ATM gue sama mereka, satu hari aja langsung aja kosong tuh isinya."


"Hahaha.. itu namanya lo yang bego mau aja di porotin sama cewek." Ucap Rio yang masih terus ngetawain Bagas. "Ini gue tanya sama Lo, selama berhubungan dengan mereka pernah gak lo melakukan hal yang lebih, sampai melakukan hal intim gitu?" Tanya Rio.


"Alhamdulillah nya gue gak pernah sampai melakukan hal lebih. Paling hanya.. biasa lah Lo pasti ngerti." Jawab Bagas. "O iya bro gue minta tolong sama Lo, tolong lo cari tahu siapa yang Uda ambil foto gue sama Zahra. Dan soal Sonya entar gue kasih peringatan sama dia dulu, tapi kalau dia ngulangin lagi baru gue pecat."


"Oke Lo tenang aja serahkan sama gue soal itu." Ucap Rio.

__ADS_1


Setelah selesai mengobrol akhirnya Bagas dan Rio tertidur pulas.


__ADS_2