
Ceklekk
Bunyi suara pintu terbuka, Bagas, Daniel dan juga Mery menoleh ke arah pintu tersebut dan keluar seorang Dokter dari ruangan istrinya. Bagas yang lagi duduk langsungg berdiri menghampiri sang Dokter. Saat menatap wajah serius sang Dokter yang juga sedang menatapnya, membaut Bagas berpikir kalau keadaan istrinya tidak baik-baik saja. Padahal Dokter tersebut belum mengatakan apapun, tetapi Bagas sudah takut akan keadaan sang istri.
"Dok gimana keadaan istri saya?" tanya Bagas penasaran dengan perasaan yang tak menentu.
Dokter yang bernama Gwen itu menghela nafasnya pelan sebelum menjawab pertanyaan Bagas.
"Maaf tuan keadaan istrinya anda kritis, karena terlalu banyak darah yang keluar sehingga pasien koma." jawab Dokter Gwen memberitahukan keadaan Zahra.
"Koma! istri saya koma Dok?!" Tanyanya kembali. "Iya tuan pasien koma." tubuh Bagas langsung lemas mendapat jawaban yang sama kalau istrinya koma. untung saja Daniel langsung menolong Bagas untuk berdiri kembali setelah hampir saja tubuhnya luruh ke lantai.
__ADS_1
"Apa saya boleh langsung melihat istri saya Dok?" tanya Bagas.
"Sabar ya tuan, kami akan pindahkan pasien terlebih dahulu dari ruangan bersalin .' jawab Dokter Gwen yang langsung pamit dari hadapan mereka.
Sedangkan Mery ikut sedih dan menangis mendengar nyonya nya sampai koma. Ada rasa bersalah Mery pada tuannya, karena membiarkan istri tuannya berada di kamar sendirian. Seharusnya ia tetap memaksa untuk ikut masuk kedalam kamar nyonya nya itu. Daniel sendiri pun ikut sedih, Daniel juga bingung mau memberitahukan ke istrinya keadaan Zahra yang tak lain sahabat dari istrinya, ia takut istrinya akan syok mendengar kalau keadaan Zahra koma dan akan berdampak pada kandungan istrinya. Daniel berusaha menenangkan Bagas yang sangat kacau sembari menunggu untuk bisa masuk melihat Zahra.
"Daniel gue harus gimana, istri gue koma.." lirihnya yang langsung terduduk lesu di kursi.
~
Bagas menatap sedih istrinya yang tenga terbaring lemah tak berdaya di atas ranjang rumah sakit, dan dengan wajah yang terlihat pucat. Bagas benar-benar tidak tega melihat istrinya berbaring disana. Andai saja bisa, biar dirinya saja yang berbaring menggatikan istrinya.
__ADS_1
Kemudian Bagas duduk di kursi tepat di samping ranjang istrinya. Bagas memegang tangan Zahra lembut, lalu Bagas menciumi tangan istrinya dan kembali menitihkan air matanya, ia benar tidak kuat melihat istrinya seperti ini.
"Sayang, sudah hampir sore loh kok kamu gak bangun juga.. please sayang jangan lama-lama tidurnya." Ucap Bagas sembari tersenyum getir melihat keadaan istrinya yang belum sadar juga dan air matanya kembali mengalir dari pelupuk matanya.
Bagas mencium keningnya istrinya dengan lembut, Di tatap wajah pucat istrinya, membuat Bagas rindu dengan senyum manis istri nya, membuatnya rindu semua tentang istrinya.
"Sayang kamu mau tidur sampai kapan, hmm?! Apa kamu tidak mau melihat putri kita.. kamu tau sayang, dia cantik sama seperti kamu, pasti kamu mau lihat dan gendong putri kita kan? makanya bangun y sayang.." Zahra masih terdiam tak ada respon sama sekali. Tangan Bagas menyentuh bibir tipis istrinya, bibir ini yang selalu berkata lembut, dan bibir nya yang selalu manis saat ia mengecupnya sampai membuatnya menginginkan lagi dan lagi dan kini bibir ini tertutup rapat.
Bagas kembali mengecup tangan halus istrinya dan pandangan matanya tak pernah lepas dari Zahra sama sekali.
"Sayang, mas mohon bangun ya.. kamu gak kasian apa sama anak kita? dia butuh Asi dari kamu, bundanya." Bagas terus mencoba mengajak istrinya berbicara dengan harapan istrinya akan sadar. Bagas semakin merasa bersalah telah meninggalkan istrinya dan lebih memilih meeting di kantor.
__ADS_1
Ya Allah hamba mohon sadarkan lah istri hamba dari koma. Gumam Bagas dalam hati yang mendoakan istrinya.