CEO Ku Adalah Suamiku

CEO Ku Adalah Suamiku
118. Bab 118


__ADS_3

Selamat ulangtahun Papa.. semoga di ulangtahun mu kali ini kamu masih di beri umur panjang oleh sang pencipta, selalu di berikan kesehatan, mudah2n rejeki Papa semakin lancar, semakin sukses dan semoga di lancarkan dalam segala urusannya. Aamiin..


Pa, maaf kalau Bunda selama jadi istri kamu masih banyak kurangnya, Bunda berharap setiap bertambah usiamu Bunda selalu ada di samping Papa, Bunda juga selalu berharap kalau Bunda selalu menjadi rumah tempat mu untuk pulang, dan tempat melabuhkan seluruh lelah mu. Pa, semoga kita dapat terus bersama dalam suka maupun duka. Terimakasih sudah menjadikan Bunda Ratu ataupun Bidadari dalam hatimu maupun hidupmu, terimakasih selalu memperlakukan Bunda dengan penuh cinta dan kasih sayang. Dan satu lagi, tetaplah menjadi suami terbaik dan setia sekaligus Papa yang hebat sepanjang masa untuk kedua anak kita.. Kami bertiga sayang Papa..


I Love you Papa..


Bagas menitihkan air matanya, Bagas terharu dengan kata-kata yang di tulis oleh Istrinya Zahra. Tapi tunggu, Kedua anak kita! Kami bertiga sayang Papa! ini apa maksudnya? Tanya Bagas dalam hati.


Bagas menoleh kesamping ingin bertanya pada istrinya, tapi ternyata istrinya sudah tidak berada di sampingnya lagi. Karena pada saat Bagas serius membaca, Zahra keluar kamar untuk membuat susu hamil. Bagas pun mulai membuka kotak tersebut secara perlahan, mata Bagas melebar dengan sempurna, jantung yang berdetak kencang dan tangan yang sedikit gemetar Bagas memegang benda pipih itu menunjukkan garis dua. "I-ini." Bagas kembali menitihkan air matanya.


Bagas langsung turun dari ranjang, karena Bagas tidak melihat istrinya ada di dalam kamar, jadi Bagas memutuskan mencari keberadaan istrinya di luar. Tapi saat akan menuju pintu, Zahra sudah masuk kedalam kamar dengan membawa segelas susu coklat.


"Lo mas mau kemana?" Tanya Zahra yang melihat suaminya berdiri tak jauh dari pintu.


Bagas menatap istrinya yang baru saja masuk kedalam kamar, kemudian Bagas langsung memeluk Zahra sangat erat.


"Sayang kamu hamil?!" Tanya Bagas setelah melepaskan pelukannya. "Ini beneran kan sayang?" Tanya Bagas lagi, sembari menunjukkan test pack ke pada Zahra untuk meyakinkannya kembali.


"Iya mas.."Jawab Zahra yang menatap Bagas lembut.


"Mas gak nyangka sayang kita diberi kesempatan lagi sama Allah memiliki anak kedua."

__ADS_1


"Zahra juga gak nyangka mas.. Allah begitu cepat memberikan kepercayaan kepada kita." ujarnya. Lalu meletakkan susunya di meja. "Alhamdulillah ya Allah.." sangking bahagianya, Bagas sampai mengangkat Zahra sembari memutarkan tubuhnya, Zahra sampai terpekik karena terkejut.


"Mas turunin ih, kasihan ada dede nya di dalam perut."


"Eh iya sayang maaf, mas sampai lupa." Ucap Bagas cengengesan. "Ini kamu bawa susu untuk siapa saayang?"


"Buat aku mas, ini susu khusus ibu hamil." Jawab Zahra yang langsung meminum susunya sampai tandas.


Bagas mengambil gelas kosong dari Zahra, lalu meletakkan nya di meja. Setelah nya Bagas menarik tangan Zahra lembut dan membawanya duduk di tepi ranjang dengan Bagas yang ikut duduk menghadap Zahra sembari menggenggam tangannya.


"Sayang mas berjanji akan menjadi suami terbaik dan setia sama kamu, dan menjadi Papa yang baik juga dan hebat untuk anak-anak kita. Kamu tahu sayang, ini adalah hadiah paling terindah yang pernah mas terima." ucap Bagas sembari menangis. Zahra pun ikut menangis karena melihat Bagas menangis, Zahra tidak menyangka melihat reaksi Bagas sebahagia dan semengharukan ini setelah tahu dirinya hamil anak kedua. Andai kamu dulu tidak koma mas, pasti kamu juga akan sebahagia ini setelah tahu aku hamil Gavin kala itu. Ucap Zahra dalam hati.


Alhamdulillah ya Allah, gumamnya dalam hati.


Bagas menghapus air matanya, lalu kepalanya turun ke perut Zahra, dan menciumnya bertubi-tubi disana. Zahra hanya tertawa kegelian dengan apa yang dilakukan oleh suaminya itu.


"Anak Papa baik-baik di dalam perut Bunda ya, dan jangan nyusahin bunda juga." Ucap Bagas dan kembali mencium perut Zahra.


"Uda dong mas ciumnya geli tau..!" Bagas pun menaikan kepalanya, lalu menatap Zahra.


"Sayang kamu juga harus jaga kesehatan, jangan mengerjakan pekerjaan rumah, kan sudah ada pelayan kamu cukup duduk manis aja. Soal Gavin biar mas aja yang ngurus dia, kamu gak boleh capek-capek, Oke sayang.." Bagas lalu mencium Bibir istrinya dengan lembut. "Terimakasih sayang untuk semuanya yang sudah kamu berikan dan lakukan buat mas."

__ADS_1


"Iya mas.. Zahra juga sayang sama suamiku tercinta." Ucap Zahra sembari mengelus kedua pipi Bagas dengan lembut. Dapat perlakuan manis dari Zahra Bagas semakin jatuh cinta sedalam-dalamnya kepada istri imutnya ini. Sayang mas berjanji hanya akan ada kebahagiaan untuk kamu dan anak-anak kita. Gak akan pernah mas biarkan orang lain mengusik kehidupan keluarga kecil kita. Gumamnya dalam hati.



Hari ini Bagas akan pergi ke kantor siang hari, dan Bagas menyuruh Daniel untuk mengurus pekerjaan nya karena Bagas akan mengajak Zahra pergi rumah sakit untuk mengecek kandungan Zahra. Bagas juga sengaja memberikan banyak pekerjaan ke Daniel, karena dirinya ingin balas dendam ke Daniel soalnya kemaren Daniel sudah menyuruhnya melanjutkan kerajaannya dan memberikan pekerjaan yang banyak ke padanya.


Sedangkan orang tua mereka mengajak Gavin pergi jalan-jalan keliling kota London. Bagas dan juga Zahra akan memberitahukan kabar gembira kehamilan Zahra setelah mereka pulang dari jalan-jalan nanti.


Saat ini Bagas dan Zahra sudah berada di rumah sakit, dan sudah di ruangan Dokter kandungan.


"Gimana Dok, kesehatan istri dan perkembangan bayi kami?" Tanya Bagas antusias pada Dokter yang menangani Zahra.


"Tuan bisa lihat titik di layar ini, ini adalah janin." Ucap Dokter itu ke Bagas.


"Tapi Dok kok kecil banget..?"


"Iya tuan, karena janin nya masih berumur tujuh Minggu, tapi lama-kelamaan janinnya akan berkembang." Dokter itu menyuruh Bagas dan Zahra duduk kembali. "Selamat ya Tuan atas kehamilan istrinya, keadaan istri tuan dan janinnya sehat, tensinya juga normal, dan tidak ada yang perlu di kuatir kan." Dokter menjelaskan.


"Terimakasih Dokter." Ucap Bagas dan Zahra bersamaan.


Setelah mereka menebus obat, Bagas dan juga Zahra langsung pergi ke Perusahaan.

__ADS_1


__ADS_2