
Sempat beberapa menit berpikir, akhirnya Daniel menyetujui untuk berkenalan dengan sahabat dari Zahra.
"Tapi Bro gimana gue mau kenal, orang nya aja gak ada di Indonesia." Ucapnya.
"Kalau soal itu Lo tenang aja, yang penting Lo mau kenalan sama dia. Zahra juga Uda bicara sama sahabatnya, dan dia mau main ke London setelah dapat cuti dari kantornya."
"Oke gue ngikut aja." balasnya.
"O iya sementara gue tunjukin lo media sosial nya dulu dan Lo lihat foto-fotonya siapa tau aja kan Lo tertarik." Bagas langsungg nunjukin Foto Lisa dari media sosial nya lalu menyerahkan ponselnya kepada Daniel.
"Gimana menurut Lo.."
"Manis.." satu kata yang terucap dari mulut Daniel sembari tersenyum melihat foto-foto Lisa. Bagas pun ikut tersenyum mendengar jawaban dari Daniel, seperti dugaan nya kalau Daniel bakalan tertarik oleh Lisa.
__ADS_1
"Oke gue mau kenalan sama dia." Ucapnya yang langsung mengembalikan ponsel Bagas.
"Oke, gitu dong baru sahabat gue." ujaranya.
3 bulan kemudian.
Tak terasa kandungan Zahra sudah jalan 6 bulan, perut Zahra sudah kelihatan membesar. Dari hari ke hari Bagas senang melihat perubahan bentuk tubuh istrinya itu, terlihat sangat seksi di matanya. Apalagi melihat pipi bulat Zahra, membuat Bagas gemas sendiri. Ditambah lagi istrinya semakin hari semakin cantik dan berseri, Bagas yakin pasti anak kedua mereka berjenis kelamin perempuan, walau pun hasil USG kemarin belum kelihatan karena sang baby menutupinya. Tapi Bagas benar-benar sangat yakin dengan filingnya kalau anaknya perempuan, membuat dirinya jadi tidak sabar untuk melihat anaknya itu.
"Kamu mau kemana sayang..?" Tanya Bagas yang melihat istrinya ingin beranjak dari sofa. Saat ini mereka lagi duduk nyantai di sofa sembari menonton tv. ya hari ini Bagas tidak kekantor karena ingin berduaan saja dengan sang istri. Kalau Gavin sendiri lagi asik main bersama kucing-kucingnya di taman belakang rumah mereka.
__ADS_1
"mas aku mau ambil buah dulu di kulkas.." Jawab Zahra kesal dan Bagasa malah menarik pelan tangan istrinya untuk kembali duduk di sampingnya.
"Biar mas aja yang ambil sayang, kamu duduk diam disini aja lanjutin nonton tv nya." perintah Bagas dan tidak mau di bantah., entah sudah yang ke berapa kali Bagas ngomel dan ceramah yang melarang istrinya melakukan apapun.
"Tapi mas Zah\_"
"Mas gak suka di bantah sayang!" potongnya sembari melangkahkan kakinya menuju dapur mengambilkan buah-buahan di kulkas untuk istrinya.
Zahra sendiri hanya bisa cemberut melihat suaminya dan juga pasrah, suaminya ini benar-benar membuat dirinya seperti orang yang memiliki penyakit kronis,, padahal dirinya hanya hamil saja.
"Ini sayang buahnya." Bagas menyerahkan piring yang berisi buah apel dan mangga yang sudah di kupas dan di potong. "Mau mas suapin sayang.." tawar Bagas yang langsung di anggukin oleh Zahra dengan wajah yang masih cemberut, membuat Bagas menarik pelan ujung hidung istrinya dengan lembut karena gemas melihat istrinya cemberut seperti itu. "Uda dong Bunda jangan cemberut gitu, entar cantiknya hilang loh." goda Bagas sembari tersenyum manis menatap istrinya. "sini sayang mas peluk.." ucapnya dengan merentangkan kedua tangannya di depan istrinya, dan langsung di sambut oleh Zahra.
"Maaf ya sayang mas selalu ngelarang kamu, bukan apa-apa mas hanya gak mau kamu kenapa-napa.. lihat perut kamu Uda sebesar ini, mas kuatir dan was-was lihat kamu kalau jalan kesana kemari." ujarnya menjelaskan.
__ADS_1
"Iya mas.." Kemudian Bagas mencium kening lalu bibir istrinya lembut. "Senyum dong sayang.." Zahra pun tersenyum dan wajah nya tidak cemberut lagi.