CEO Ku Adalah Suamiku

CEO Ku Adalah Suamiku
93. Bab 93


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu. Hari ini Zahra dan Gavin anaknya akan pergi ke rumah Opa Bimo, karena mertuanya lagi ngadain acara makan malam untuk ngerayain pernikahan mereka yang ke 34 tahun. Kemungkinan Zahra dan juga Gavin akan menginap disana.


"Sayang ayo kita pergi." Ajak Zahra pada anaknya. "Anak Bunda tampan banget sih." Ucapnya sembari mencubit pipi anaknya pelan sangking gemasnya.


"Iya dong kan Gavin anaknya Bunda. Ayo Bunda kita pelgi." Jawab Gavin pada Bundanya.


"Lo kok anak bunda aja, kan Gavin juga anaknya Papa.."


"Tapi Papa jahat Bunda.. Papa gak pelnah pulang kelumah kita. Papa gak sayang sama Gavin dan Bunda juga. Daddy Kila aja gak pelnah pelgi-pelgi jauh dali Kila. Gavin juga mau di gedong dan dipeluk sama Papa Bunda.." Adu Gavin ke Zahra dengan nada sedihnya.


Zahra menghela napas setelah mendengar ungkapan dari anaknya. Kalau sudah seperti ini ingin sekali rasanya Zahra menangis tapi berusaha ia tahan, Zahra tidak ingin terlihat sedih dan menangis didepan anaknya maupun keluarga nya.


"Sayang anak Bunda yang tampan, baik, dan Sholeh, dengerin Bunda. Papa gak jahat sama kita sayang, Papa juga sayang sama Gavin dan Bunda. Kan Bunda selalu bilang ke Gavin, kalau Papa lagi kerja cari uang buat Gavin dan juga Bunda. Nanti kalau kerjaan Papa Uda selesai atau Uda siap, pasti Papa akan pulang kerumah kita lagi, terus Papa bisa peluk Gavin dan gendong Gavin... Jadi anak bunda yang pintar ini, gak boleh ngomong gitu ya.." Ucap Zahra menjelaskan dengan sangat lembut dan hati-hati ke anaknya. Uda sering Gavin mempertanyakan dimana Papanya, kenapa Papanya gak pernah pulang, Papanya sayang atau tidak dengan nya. Tapi Zahra dengan sangat sabar menjelaskan ke Gavin anaknya, agar kelak Gavin tidak pernah membenci Papanya saat mereka bertemu nanti. Begitu juga dengan Opa dan Omanya, walaupun mereka marah dan kecewa oleh Bagas anaknya tapi mereka tidak pernah berkata buruk tentang Bagas ke Gavin, mereka selalu menjelaskan dan memberikan pengertian ke Gavin kalau cucunya bertanya tentang Papanya.


Di umurnya yang sudah tiga tahun Gavin sudah mulai mengerti semuanya, dan di umurnya yang sekarang Gavin juga sangat pintar seperti Papanya, cepat mengerti dan menangkap apa yang orang katakan. Saking pintar nya terkadang mereka sampai bingung menjawab pertanyaan yang Gavin lontarkan kepada mereka.


Terkadang diam-diam Zahra juga suka menangis sendirian, memikirkan tentang apa yang terjadi. Sampai sekarang suaminya belum juga mengingatnya, Sebenarnya Zahra sudah sangat merindukan sosok suaminya Bagas tapi hanya bisa pasrah dan menyerahkan semuanya kepada Allah. Zahra hanya bisa berharap mudah-mudahan suaminya ingat akan dirinya dan bisa kembali pada dirinya dan anaknya Gavin, anak yang sudah lama suaminya nantikan.


Kini Zahra dan Gavin sudah sampai di rumah Opa Bimo dengan di antar oleh supir yang biasa mengantar Zahra dulu saat pergi kerja.


"Assalamu'alaikum..." Zahra dan Gavin masuk kedalam rumah mertuanya sembari mengucapkan salam.


"Waalaikumsalam.." Jawab mereka semua yang lagi berkumpul di ruang tengah. "Wah cucu Oma yang tampan sudah datang." Ucap Oma Susi. Gavin langsung nyamperin mereka dan mencium tangan mereka semua yang sedang berkumpul di ruang tengah.

__ADS_1


"Mbak nginap kan?" Tanya Sheina yang beranjak dari sofa kemudian memeluk Zahra yang baru datang.


"Jadi Shein, tuh si Gavin Uda sibuk mau tidur rumah Opa katanya." Jawab Zahra.


"Mama Shein Kela mana?" Tanya boca tampan pada Shein.


"Eh anak tampannya Mama.." Ucap Sheina yang langsung berjongkok di depan Gavin kemudian mencium kedua pipi Gavin. "Shakeela ada di taman belakang sayang lagi main sama Deddy, uda sana ikut main di belakang. Keela Uda nunggu Gavin dari tadi lo." Sheina memberitahu dimana Shakeela berada. Kemudian Gavin pun langsung lari ke belakang nyamperin Shakeela dan Daddy Rio.


"Ayo mbak kita samperin mereka ke taman belakang." Ajak Shein pada Zahra nyamperin anak mereka. Sedang para Opa dan Oma lagi asik ngobrol di ruang tengah.


Malam hari.


Keluarga sudah berkumpul di meja makan. Acara makan malam ini Papa Bimo sengaja hanya mengundang anak, menantu dan besannya saja. Karena Uda semakin tua Papa Bimo malu harus ngerayain ulang tahun Pernikahan seperti yang sudah-sudah. Mereka semua kini menyantap hidangan makan malam denagn tenang.


Setengah jam mereka pun selesai, mereka melanjutkan bersantai dan bercerita di ruang tengah sembari melihat cucu mereka bermain. Saat asik menikmati kebersamaan mereka, tiba-tiba..


"Waalaikumsalam.." Jawab mereka semua. Kemudian mereka menoleh ke arah seseorang yang mengucapkan salam. Sontak mereka semua berdiri setelah melihat seorang yang masuk kedalam nyamperin mereka.


"Mas Bagas..!" Ucap Zahra dengan suara sangat kecil.


Ya laki-laki yang datang kerumah Papa Bimo adalah Bagas. Dia sudah mengingat semua tentang Zahra istrinya. Bagas terus menatap Zahra istrinya wanita yang sangat ia cintai, wanita yang sudah ia tinggalkan selama tiga tahun ini. Air mata Bagas keluar gitu aja, ia sangat menyesal uda meninggalkan istrinya selama tiga tahun.


Sedangkan anak kecil yang sangat tampan terus memperhatikan Bagas, ia seperti pernah melihat orang itu, Gavin terus berpikir siapa laki-laki yang baru saja datang kerumah Opanya. Seketika Gavin mengingat siapa laki-laki tersebut, laki-laki itu adalah Papanya, ya Papanya. Soalnya Bundanya selalu menunjukkan Foto Bagas pada Gavin, dan dirumah mereka juga ada foto Papanya bersama Bundanya.

__ADS_1


"Papa..." Teriak Gavin memanggil Papanya sembari berlari nyamperin Bagas. Gavin lalu merentangkan tangannya meminta di gendong oleh Bagas. Bagas yang melihat anak kecil tampan berlari ke arahnya sembari merentangkan tangannya dan menyebut dirinya Papa, langsung mengangkat Gavin dan menggendongnya. Jantung Bagas berdetak kencang sama seperti saat pertama ia bertemu dengan Zahra istrinya.


"Ye... Hore.. Papa pulang.." Ucap Gavin senang sembari menatap wajah Papanya. Bagas yang melihat Gavin senang melihat nya datang langsung meneteskan air matanya. Bahkan Anaknya mengenal dirinya, sedangkan dirinya saja tidak, apalagi saat Papanya meminta untuk pulang ke Indonesia hanya untuk meminta dirinya melihat anaknya yang baru lahir , dan bodohnya ia lebih memilih pekerjaan nya. Anak yang sudah lama dia tunggu-tunggu bersama istrinya. Dan sekarang anaknya sudah besar, dan juga sangat tampan. Bahkan dia tidak tahu kalau anaknya sudah hadir di perut istrinya. Bahkan dia juga tidak tahu perkembangan anaknya dari dalam kandungan ibunya sampai Uda sebesar ini. Bagas langsung memeluk anaknya sembari menangis. Sungguh Bagas sangat menyesal membiarkan istrinya mengurus dan membesarkan anaknya seorang diri, tanpa ada dirinya di samping istrinya.


"Papa jangan nangis. Gavin senang Papa Uda pulang, Papa gak pelgi lagi kan tinggalin Gavin sama Bunda? Kalau Papa pelgi lagi Gavin nanti gak mau ngomong sama Papa!" Ucap Gavin pada Bagas.


"Maafin Papa sayang, Papa uda pergi lama ninggalin kamu sama Bunda. Papa janji gak akan pergi lagi, Papa akan selalu sama kamu dan Bunda."


Mereka semua yang menyaksikan itu matanya berkaca-kaca dan terharu.


"Shein tolong kamu bawa anak-anak masuk ke ruang bermain mereka."Ucap Papa Bimo tiba-tiba. Mereka semua menoleh kearah Papa Bimo bingung.


"Shein cepat." Ucap Papanya nada yang sedikit keras.


"I.. iya Pa."Jawab Shein takut lihat ekspresi wajah Papanya. Sheina langsung nyamperin Gavin yang masih berada di gendongan kakaknya Bagas.


"Hei tampan yuk ikut Mama Shein main sama Keela kedalam." Ucap Shein yang mengajak Gavin main sama Shakeela.


"Gavin gak mau Mama Shein.. Gavin masih mau sama Papa. Nanti kalau Gavin main, Gavin takut Papa pelgi lagi tinggalin Gavin." Jawab Gavin sembari memeluk Bagas erat. Gavin tidak mau ikut dengan Sheina, ia takut akan di tinggal pergi lagi dengan Papanya.


"Gavin.. dengerin Papa, Gavin ikut Mama Shein dulu ya, Papa janji Papa gak pergi lagi. Papa akan tetap disini sama Gavin." Ucapnya lembut pada Gavin.


"Oke. Tapi Papa janji gak pelgi lagi."

__ADS_1


"Iya sayang.."


Setelah Bagas bujuk Gavin akhirnya Gavin mau di bawa dengan Sheina, lalu mengajak Gavin dan juga Shakeela ke ruang bermain mereka yang memang di sediakan oleh Opanya.


__ADS_2