
"Maaf Pak saya uda ganggu kebersamaan Pak Bagas dengan Zahra." Ucap Mila yang tidak enak telah mengganggu Bosnya dengan istrinya, masalahnya ada yang perlu dia sampaikan ke Bosnya itu.
"Iya Mil tidak apa-apa. Ada perlu apa Mil?" Tanya Bagas.
"Begini Pak, tadi Sekretaris dari PT. ADIJAYA menghubungi saya, katanya besok Pak Gio Adijaya akan berkunjung ke WILLIAMS GRUP." Jawab Mila.
"Kamu serius? Kira-kira jam berapa mereka akan datang besok?" Tanyanya. Bagas senang karena Sahabatnya akan berkunjung ke Perusahaan nya.
"Sekretarisnya bilang sekitar jam 10 pagi Pak." Jawab Mila.
"Oke. Apa ada lagi yang mau disampaikan? Soalnya saya lagi banyak kerjaan Mil."
"Tidak ada Pak, kalau gitu saya permisi."
"Hemm."
Selesai berbicara pada Bosnya Mila langsung keluar dari ruangannya. Begitu juga Bagas, selesai bicara pada Mila ia langsung mengerjakan berkas yang sudah menumpuk di mejanya, kerjaan yang ia tinggal saat pergi ke Bali waktu itu. Ia harus cepat menyelesaikan berkas-berkas tersebut, soalnya Minggu depan ia akan pergi honymoon ke Turki bersama istrinya.
Tak terasa hari sudah sore. Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, waktu nya para karyawan pulang kerja. Di ruangan, Bagas masih sibuk mengerjakan pekerjaan di Laptopnya. Sebenarnya ia ingin lembur hari ini, tapi karena Rio menyuruh nya datang ke rumah Papanya, akhirnya ia tidak jadi lembur. Bagas melihat sudah jam lima sore, tapi bukannya berhenti ia mala melanjutkan pekerjaannya. Sepuluh menit lagi deh baru gue akan pulang ke rumah Papa. Gumamnya dalam hati.
Satu menit, lima menit, sepuluh menit, setengah jam dan sampai satu jam Bagas belum juga menghentikan pekerjaannya.
Hari semakin gelap tapi Bagas belum juga beranjak dari mejanya. Sedangkan istrinya sudah menelepon nya entah sampai berapa kali, tapi tak diangkat-angkat oleh Bagas. Akhirnya Zahra menemui Bagas juga ke ruangannya. Sebenarnya Zahra malas keruangan suaminya, soalnya jauh ke lantai 20. Tapi mau gimana lagi dari tadi telponnya tidak di angkat-angkat. Hari mulai gelap Bagas belum keluar juga dari ruangnnya, soalnya mereka akan ke rumah Papanya.
Zahra sampai di lantai 20, kemudian ia keluar dari lift jalan menuju ruangan Bagas. Zahra melihat meja sekretaris sudah kosong, berarti Mila sudah pulang. Zahra sampai di depan pintu ruangan Bagas, kemudian ia mengetuknya.
Tok tok tok
Tidak ada sahutan dari dalam, Zahra mengulanginya lagi.
Tok tok tok
__ADS_1
Gak ada sahutan juga. "Apa mas Bagas gak ada diruang nya ya? kalau gak ada tapi dia pergi kemana? Apa dia ada meeting di luar. Seharusnya kalau emang dia meeting diluar dia kasih kabar.." Ucap Zahra sendiri. Zahra ingin sekali langsung membuka pintunya, hanya saja rasanya tidak sopan masuk keruangan orang tanpa mengetuk dulu, ya walaupun itu ruangan suaminya. Akhirnya Zahra mencoba lagi mengetuk pintu ruangan suaminya.
Tok tok tok
"Iya masuk... " Jawab Bagas dari dalam agak sedikit keras. "Loh ternyata ada mas Bagas diruangan, tapi tadi kok gk ada jawaban dari dalam.." Ucap Zahra. Zahra pun membuka pintu dan masuk ke dalam. Dilihat suaminya masih berkutat di depan laptopnya tanpa melihat siapa yang masuk kedalam ruangannya. "Iya Mil ada perlu apa?" Tanya Bagas yang dikira itu adalah Mila sekretaris nya yang masuk keruangan nya.
"Maaf Pak, apa Pak Bagas tidak pulang? karena hari sudah gelap. Lagian istri Pak Bagas sudah menunggu dari tadi." Ucap Zahra pada suaminya sembari jalan menuju suaminya dan berdiri tepat di samping suaminya.
Bagas langsung mengangkat kepalanya saat mendengar suara yang ia kenal. Dan ternyata benar itu suara istrinya yang sudah berdiri disampingnya.
"Sayang kamu disini.. " Bagas lalu melihat kearah jendela kaca di ruangan nya ternyata sudah gelap. Kemudian ia melihat jam ditangannya sudah jam setengah tujuh malam.
"Astaghfirullah mas lupa sayang.. Maaf.. maaf sayang, pasti kamu sudah nungguin mas ya dari tadi?" Ucap Bagas. Lalu Bagas berdiri sembari menyusun berkas-berkas yang ada di mejanya dan mematikan Laptopnya lalu memasukannya kedalam tas nya.
"Hmm. Zahra kira mas ada meeting diluar, soalnya mas gak ada kabar dan mas gak ada angkat telpon aku dari tadi."
"Iya sayang mas minta maaf, ponselnya mas silent. Hari ini banyak banget berkas yang harus mas selesaikan. Tadi mas Uda lihat jam, terus karena masih jam lima pas, mas pikir 10 menit lagi baru pulang, ternyata mas keterusan mengerjakannya. Maaf ya sayang.." Ucap Bagas menjelaskan ke istrinya sembari mengelus kepala istrinya yang tertutup hijab lalu mengecup keningnya.
"Iya mas.. jadi gak nih kita ke ruamh Papa?" Tanya Zahra.
Didalam lift Bagas terus memeluk bahu istrinya tak lupa ia juga menggecup kening Zahra begitu sayang. Sedangkan Zahra ikut memeluk pinggang Bagas.
Satu jam akhirnya Bagas dan Zahra sampai di kediaman rumah mewah orangtuanya. Mereka berdua pun masuk setelah mengucapkan salam, dan di jawab oleh kedua orangtuanya, Rio dan Sheina yang saat ini tengah duduk di ruang tamu.
Bagas melihat Rio sudah berada di sana, sembari menatap tajam ke Rio. Entah kenapa Bagas masih begitu kesal oleh Rio, yang tak mau cerita kalau ternyata wanita yang dia cintai itu adalah adiknya, ya bisa dibilang adik mereka berdua.
Bagas dan Zahra nyamperin mereka yang lagi duduk di ruang tamu. Bagas dan Zahra mencium tangan kedua orangtuanya.
"Loh kalian pulang kerja langsung kesini?" Tanya Mama Susi yang melihat anak dan menantunya masih memakai pakaian kerjanya.
"Iya Ma.. entar kalau pulang dulu kerumah, yang ada sampai kesininya jam 9 malam. Lagian tadi Bagas baru keluar dari kantor jam 7 malam jadi langsung aja kesini."Jawab Bagas.
__ADS_1
"Ya uda, karena kalian sudah ada disini semua kita makan malam dulu ya.. habis itu kita baru ngobrol lagi, soalnya ada yang mau di omongin sama Rio." Ucap Mama Susi.
Mereka semua pun jalan menuju ruangan meja makan. Sembari menuju ruang makan, Sheina mendekati Zahra.
"Hai mbak.." Sapa Sheina pada kakak iparnya. "Kirain kalian gak jadi datang." Ucapnya.
"Iya Shein.. jadi dong.. O iya, apa kak Rio mau melamar kamu?" Bisik Zahra pada Sheina. "Makanya dia nyuruh kami datang kesini.." Tambahnya lagi. Sheina yang mendengarkan ucapan yang dibisikkan padanya, hanya tersipu malu. Zahra pun ikut tersenyum saat melihat Sheina yang tersipu malu.
"Cie.. yang mau dilamar sama kak Rio.." Bisik Zahra lagi. "Apaan sih mbak.. Sheina kan jadi malu." Ucap Sheina. "Kita lihat aja mbak kak Rio beneran berani apa gak mau lamar Sheina." Tambahnya.
Kini mereka sudah duduk di ruang meja makan. Seperti biasa Mama Susi melayani suaminya, begitu juga dengan Zahra yang melayani Bagas. Sedangkan Sheina belum berani melakukan itu pada Rio di depan Mama dan Papanya, lagian mereka juga belum nikah. Mereka kini tengah menikmati makan malamnya dan semuanya makan dengan diam.
Sembari makan, Rio dari tadi selalu memperhatikan Bagas seperti ada yang berbeda darinya. Dari Bagas datang sampai sekarang Bagas tidak menyapanya, tidak seperti biasanya. Tapi Rio tidak mempermasalahkan hal itu, Rio berpikir mungkin Bagas lelah karena pekerjaan di kantor lagi banyak.
Rio sebenarnya saat ini masih bingung ingin memulai dari mana bicara pada keluarga angkatnya apalagi bicara pada Papanya bahwa ia akan melamar Sheina. Ada rasa tidak enak pada Papanya, karena Papanya sudah begitu baik yang mau mengadopsi dirinya menjadi anaknya, di sekolahkan sampai kuliah, apalagi sekarang ia bekerja di Perusahaan Papanya, dan sekarang ia ingin melempar anak gadisnya. Apakah ia pantas dan diterima oleh Papa angkatnya? Itu sekarang yang ada di pikiran Rio.
Saat ini mereka lagi duduk santai di ruang tengah setelah selesai makan malam. Kemudian Rio memberanikan dirinya berbicara pada Papanya. Rio berjalan mendekati Papanya Bimo lalu ia berlutut di depan Papa Bimo.
"Ada apa nih Rio, kenapa kamu berlutut di depan Papa? Ayo berdiri sini duduk disamping Papa kalau ada yang ingin kamu bicarakan." Ucap Papanya yang bingung melihat Rio yang tiba-tiba berlutut di depan nya.
Rio langsung berdiri, kemudian duduk di samping Papanya. Rio lalu memegang tangan Papanya.
"Pa Rio sangat-sangat berterima kasih sama Papa dan Mama karena sudah mau mengangkat Rio sebagai anak Papa dan Mama, sudah mau menyekolahkan Rio sampai kuliah, memberikan Rio pekerjaan juga, Rio juga terimakasih dengan kasih sayang yang kalian berikan untuk Rio. Maaf kan Rio yang sampai sekarang belum bisa memberikan apa-apa kepada Papa dan Mama. Rasanya tidak akan pernah cukup hanya berterima kasih saja untuk apa yang sudah Papa dan Mama berikan kepada Rio. Mungkin yang tanpa kalian kehidupan Rio tidak akan seperti sekarang ini. Terima kasih Pa,Ma terima kasih." Ucapnya.
"Hei kenapa kamu berterima kasih untuk itu semua. Dari awal Papa kenal kamu Papa gak tahu kenapa Uda suka dan sayang lihat kamu. Makanya Papa langsung ngadopsi kamu saat tahu kamu tinggal di panti asuhan. Kami semua sayang sama kamu Rio.. Lihat Papa sebenarnya ini kamu mau ngomong apa?" Tanya Papanya.
"Baiklah Rio akan jujur sama semuanya. Mungkin setelah ngomong ini Papa bisa langsung marah, kecewa bahkan membenci sama Rio, tapi Rio gak bisa lama-lama menyembunyikan ini dari kalian semua."
"Uda deh Yo lo to the point aja, sebenarnya Lo tu mau ngomong apa sama kita." sambung Bagas yang kesal dan gemas lihat Rio begitu berbelit-belit hanya mau ngasih tau hubungannya dengan Sheina.
__ADS_1
"Bagas..." Panggil Papa Bimo. Biar Rio ngomong apa yang iya mau bicarakan ke kita. Kamu cukup mendengarkan aja.
Bagas langsung menghela nafasnya. "Iya deh." Jawabnya.