CEO Ku Adalah Suamiku

CEO Ku Adalah Suamiku
52. Bab 52


__ADS_3

Dua jam telah berlalu. Akhirnya pekerjaan yang di kerjakan oleh Zahra selesai juga. Sedangkan berkas sore tadi yang di berikan oleh Sonya yang berakhir pada pertengkaran dirinya, berkasnya akan di selesaikan Zahra besok. Ia benar-benar tidak akan sanggup untuk menyelesaikan berkas tersebut. Jari-jarinya sampai terasa kaku, karena dari tadi ia tidak berhenti mengetik di komputer.


Zahra melihat jam di tangannya sudah menunjukkan jam 7 malam. Seharusnya pekerjaan bisa ia selesaikan satu jam, tetapi karena ulah Sonya akhirnya selesai sampai dua jam.


Hari ini sungguh melelahkan baginya. Bagaimana tidak, pagi tadi tiba-tiba saja ia di tampar oleh Sonya begitu keras, sampai mengakibatkan pipinya memar. Tidak sampai di situ, Sonya memberikan pekerjaan begitu banyak hingga akhirnya ia harus lembur. Dan sorenya harus berdebat kembali oleh Sonya. Memikirkan itu seketika membuat kepalnya pusing. Kemudian Zahra memijat kepalanya sembari duduk menyandarkan kepalanya. Lisa yang melihat sahabatnya seperti itu membuatnya iba. Diam-diam Lisa memfoto Zahra, lalu Lisa mengirimkan foto hasil jepretan nya ke Bagas suami dari Zahra.


"Uda selesai Ra'?" Tanya Lisa yang beranjak dari duduknya.


"Uda, gue capek banget hari ini Lis.." jawab Zahra. "Ya uda ayo Lis kita pulang." Ajak Zahra.


"Ayo."Jawab Lisa. "O iya Ra' Lo bilang tadi Sheina akan nemenin Lo lembur juga tapi sampai Lo selesai dia gak ada datang.."


"Sheina gak jadi nemenin gue lembur Lis.. soalnya Sheina masih sibuk mengurus persiapan acara ulang tahun Perusahaan dengan mbak Mila." Jawabnya."Tadi dia Uda ngirim pesan ke gue kalau dia gak bisa nemenin gue lembur." Ucapnya lagi.


Zahra kemudian menyusun dan merapikan mejanya yang masih berantakan. Setelah selesai Zahra dan Lisa keluar dari ruangan marketting menuju parkiran. Karena supir yang biasa mengantar Zahra sudah menunggunya di parkiran area depan gedung. Sambil jalan menuju mobil Zahra mengajak Lisa untuk pergi makan sebelum pulang kerumah.


"Lisa kita makan dulu yuk?" Ajak Zahra. "Gue Uda lapar banget nih. Gimana kalau kita makan di tempat biasa, langganan kita.."


"Ayo gue juga Uda lapar." Jawab Lisa.


Sekarang mereka berdua sudah berada di Warung makan bebek goreng. Zahra dan Lisa memilih tempat duduk di luar tepatnya di gazebo, agar mereka bisa lebih nyantai sembari meluruskan kaki mereka yang terasa pegal. Lagian didalam juga sudah ramai tidak ada lagi tempat duduk, sepertinya didalam sana ada yang mengadakan acara makan bersama. Kemudian mereka pun memesan makanan nya.


"Ra' gue boleh tanya gak sama Lo? Tapi Lo jangan marah ya?"


"Boleh. Emangnya Lo mau tanya apa sama gue?"


"Lo sama Pak Bagas menikah Uda dua bulan nih. Apakah Uda ada tanda-tanda keponakan gue di dalam perut Lo?" Tanyanya sambil tersenyum melihat Zahra.


Deg


Jantung Zahra seketika berdetak kencang mendengar pertanyaan dari sahabatnya. Membuat dirinya kepikiran kembali tentang anak yang belum hadir didalam perutnya yang masih rata.

__ADS_1


Lisa yang melihat Zahra melamun seperti sedang memeikirkan sesuatu itu pun, membuat Lisa jadi ngerasa bersalah dengan pertanyaannya.


"Ra' Lo gak apa-apa kan?" Lisa bertanya sembari mengelus pundak Zahra. Seketika Zahra tersadar dari lamunannya.


"Eh iya kenapa Lis?"


"Gue tanya Lo gak apa-apa kan Ra'? Maaf ya pertanyaan gue Uda membuat Lo jadi..-" Lisa memghentikan ucapannya karena Zahra menyentuh tangannya menandakan kalau ia baik-baik saja.


"Gue gak apa-apa Lisa.. Sebenarnya gue lagi bingung aja kenapa gue belum juga hamil. Padahal gue dan mas Bagas Uda cek kedokter tentang kesehatan kami. Dan hasilnya kami sehat tidak ada masalah. Bahkan dokter bilang kalau gue subur. Lo tau Lis gue Uda gak enak sama mertua gue. Kalau Ayah gue Uda dapat cucu dari kak Yuda, sedangkan orangtua mas Bagas belum memiliki cucu sama sekali. Pasti mereka mengharapkan itu dari kami Lisa.. apalagi mas Bagas anak pertama." Ucap Zahra dengan wajah sendunya.


"Sabar ya Ra'? pasti nanti Lo bisa hamil juga kok." Jawabnya. "Uda ah jangan sedih dan jangan di pikirin lagi. Lagian kalian masih dua bulan menikah, jadi masih bisa terus berusaha. Kecuali kalau Lo Uda nikah selama bertahun-tahun tapi belum juga hamil, baru Lo sedih.. mungkin saja Allah masih ingin kalian menikamati pacaran dulu, tapi pacaran nya Uda halal." Ucap Lisa yang menenangkan sahabatnya agar tidak sedih.


"Lo benar Lis, mungkin Allah mau gue sama mas Bagas menikmati kebersamaan kami berdua, menikmati pacaran secara halal. Soalnya kami kan awalnya dijodohkan dan kami tidak saling mengenal sama sekali. Gue juga belum pernah merasakan pacaran. Jadi mungkin Allah memberikan kesempatan itu sama gue. Entar kalau Uda memiliki anak belum tentu kami bisa menikmati berduaan. Ya mudah-mudahan suatu saat Allah memberikan gue kesempatan untuk hamil. Aamiin.."


"Aamiin.." ucap Lisa ikut mengaminkan.


Kemudian pesanan mereka pun datang. Cukup lama juga mereka menunggu pesanan nya datang.


"Iya maaf mbak, soalnya lagi banyak orderan sampai 20 porsi tadi." Jawab pelayan tersebut. Selesai meletakan pesanan mereka pelayan tersebut langsung undur diri. "Silahkan di nikmati pesananya mbak.."


" Makasih mas.." Jawab mereka berdua.


Zahra dan Lisa pun langsung menyantap makanan mereka dengan lahap Lantaran mereka juga sudah lapar. Saking laparnya sampai mereka melupakan pembicaraan yang baru saja mereka bahas tadi. Sedang asik menyantap makanan nya, terdengar bunyi ponsel dari Zahra. Ia pun melihat ponselnya tertera nama Sheina di layar ponselnya. Zahra langsung mengangkat telpon dari adik iparnya itu.


"Iya Assalamu'alaikum Shein.."


"Waalaikumsalam mbak..." jawab Sheina dari seberang telepon. "Mbak ada dimana? kok gak ada di rumah.. Apa mbak masih dikantor?" Tanya Sheina


"Aku Uda pulang Shein. Tapi ini masih makan malam dengan Lisa.." Jawab nya. "Kamu Uda pulang Shein?"


"Iya mbak Sheina baru aja pulang. Nih lagi dirumah mbak Zahra." Jawabnya. Mbak Shein lapar.. tapi di rumah gak ada makanan sama sekali.."

__ADS_1


"Kamu mau di belikan makanan apa Shein?"


"Mbak sama Lisa lagi makan apa?"


"Kami lagi makan bebek goreng sambal mata nih. Kamu mau di belikan ini juga Shein?"


"Mau mbak.. belikan Sheina bebek sambal mata satu bungkus ya mbak?"


"Oke. Kamu tunggu di rumah entar lagi kami juga pulang.


"Oke mbak.."


Panggilan pun terputus. Zahra kemudian memanggil pelayan untuk pesan kembali bebek goreng sambal mata nya tiga bungkus.


"Lo Ra' kok pesannya sampai tiga bungkus?" Tanya Lisa. "Emangnya Sheina sanggup menghabiskan itu semua.." tambahnya lagi.


"Hahaha.. ya gak lah Lisa, Lo tuh ada-ada aja. Gue sengaja pesannya tiga bungkus, sekalian untuk Security dirumah sama untuk supir gue. Lo lihat kasian supir gue Uda nungguin kita makan." Jawab Zahra sembari mengambil beberapa lembar uang di dompetnya untuk membayar pesanan mereka.


"Ini Ra' sekalian bayar punya gue." Sembari menyerahkan uangnya kepada Zahra.


"Gak usah Lisa biar gue aja yang bayar pesanan Lo. Gue terakhir Lo untuk ucapan terimakasih gue karena Lo Uda mau nemenin gue lembur."


"Serius nih lu yang bayar..?"


"Iya Lisa gue serius. Emang gue pernah bohong apa sama lo."


"Ya ampun... makasih ya Ra'. Lo emang sahabat yang paling baik hati dan pengertian."


"Iya sama-sama Lisa.. Lo juga sahabat gue yang paling baik."


Zahra dan Lisa jalan menuju kasir untuk membayar semua pesanannya. Selesai membayar, mereka pun pulang kerumah masing-masing. Tadinya Zahra ingin mengantarkan Lisa pulang kerumahnya, tapi Lisa menolak. Alasannya karena rumah mereka tidak satu arah. Memang benar rumah mereka beda arah. Lisa tidak mau entar Sheina menunggu pesanannya terlalu lama. Akhirnya ia memilih pulang menggunakan taksi.

__ADS_1


Di tempat lain. Di sebuah Cafe Wanita cantik dan seksi kini sedang menunggu seseorang untuk dirinya meminta bantuan kepada orang tersebut untuk melancarkan rencana liciknya pada seseorang.


__ADS_2