
"Lepaskan tangan kamu, aku bisa jalan sendiri," kata Rakhan sambil mendorong tubuh Rhea untuk menjauh.
"Tapi anda terlihat tidak sehat," timpal Rhea. Dia bisa melihat wajah Rakhan yang memerah dan lemah.
Bubuk kristal putih itu memang luar biasa, batinnya dalam hati. Tidak memerlukan waktu lama untuk bereaksi.
"Apa yang kamu tempelkan pada aku tadi?" tanya Rakhan dengan nafas menderu. Dia tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya.
"Tidak ada," jawab Rhea polos. " Aku hanya membersihkan debu yang menempel di jas anda," sambungnya.
Huh, debu yang menempel, dengus Rakhan dalam hati. Perempuan ini pikir aku bodoh, geramnya dalam hati.
"Aku akan membantu anda," desa* Rhea. Dia memakai high heels setinggi 10 cm sehingga bisa berdiri sama tinggi dengan Rakhan yang tinggi tubuhnya 183 cm.
Dia sengaja memakai high heels agar bisa berdiri sama tinggi dengan Rakhan. Untuk memudahkan dia melakukan gerakan yang bisa memicu gaira* Rakhan.
"Percaya pada aku, aku tidak bermaksud jahat," desa* Rhea lagi di dekat daun telinga Rakhan. Dia juga menggosok gosokan dadanya ke bahu Rakhan.
"Menjauh dari aku!" kata Rakhan sambil mendorong Rhea.
Rhea terjatuh di sofa sambil menarik dasi Rakhan. Rakhan yang tubuhnya makin lemas ikut terjatuh dan menindih Rhea.
"Rakhan," desa* Rhea di telinga Rakhan. Dia tak menyangka bisa sedekat ini dengan Rakhan.
Tubuh Rakhan yang berat hampir membuat nya sesak nafas. Tapi dia tidak perduli. Ini pertama kali nya dia bisa merasakan tubuh Rakhan. Bisa membelai wajahnya yang tampan lalu tangannya membelai bibir Rakhan dengan lembut.
Serbuk kristal itu bisa membuat orang mengikuti semua perkataan kamu, ucapan mamanya terngiang di telinga Rhea.
Hm, saatnya mencoba, batinnya dalam hati.
"Rakhan," bisiknya di telinga Rakhan. " Ayo kita ke kamar kamu," lanjutnya sambil membelai rambut Rakhan yang tebal dan halus.
Wah, semua yang ada pada dirinya begitu sempurna, batin nya. Bahkan dia bisa merasakan ada yang menonjol dari tengah pahanya. Sepertinya besar. ( otor jadi maluš¤)
"Chayra?" gumam Rakhan. Entah kenapa wajah yang berada di bawah tubuhnya terlihat seperti wajah Chayra.
Dia pasti mabuk. Chayra tidak mungkin ada di rumahnya. Tapi dia sama sekali tidak minum alkohol.
"Chayra?" timpal Rhea sambil menoleh ke arah pintu. Di depan pintu tidak ada siapa siapa. Pintu depan tertutup rapi.
Apa Rakhan mengira saat ini sedang bersama Chayra?
__ADS_1
"Ya," balas Rhea. Dia tidak keberatan di anggap sebagai Chayra.
"Chayra," kata Rakhan lagi sambil memagut bibir Rhea dengan lahap. Dia sangat merindukan gadis itu.
Aaah....Rhea mendesa*. Ini ciuman pertamanya. Dan dari laki laki yang paling di cintainya.
****
Mama Rhea baru hendak berangkat tidur ketika suaminya pulang.
Wajah papa Rhea terlihat letih. Sepertinya sangat sibuk untuk persiapan acara launching produk baru In tech Minggu depan.
"Sudah makan?" tanya mama Rhea perhatian. " Maaf sayang, aku tadi tidak sempat mampir ke kantor, padahal aku sudah merencanakan untuk membawakan makan malam untuk mu," sambungnya lagi.
"Tidak apa apa," balas papa Rhea sambil melepaskan jasnya.
"Aku menemani Rhea di cafe bunga," Kata mama Rhea memberitahu agar suaminya tidak kecewa. "Itu cafe kecil di pinggiran Jakarta," sambung beliau.
Selama ini papa Rhea sangat menyukai kedatangan istrinya yang tiba tiba ke kantor.
"Cafe bunga?" Papa Rhea mengernyit. Beliau merasa heran. Selama ini istri dan anaknya selalu makan di cafe mahal di seputaran jakarta.
"Biasalah, Rhea sedang kesal. Dia ingin pergi ke cafe itu untuk menenangkan diri. Kamu tahu kan bagaimana perlakuan Rakhan pada nya," pungkas mama Rhea menjawab kebingungan suaminya.
"Sekarang bagaimana Rhea?" timpal Papa Rhea ingin tahu. " Masalah hati memang tidak bisa di paksa," lanjut beliau.
"Sepertinya sudah baik. Tadi sepulang dari cafe langsung ke kamar. Katanya mau tidur," balas Mama Rhea.
"Aku akan ke kamarnya untuk melihat," kata Papa Rhea merasa bersalah.
"Jangan sayang, nanti Rhea terbangun," cegah mama Rhea. Beliau takut jika Rhea salah bicara pada ayahnya.
"Tidak apa apa, aku hanya mengintip dari luar pintu," balas Papa Rhea sambil membuka pintu kamar.
"Ya sudah," balas mama Rhea pasrah.
Tak berapa lama kemudian, terdengar teriakan papa Rhea dari lantai atas. Mama Rhea buru buru menyusul ke kamar Rhea.
"Ada apa sayang? Kenapa kamu berteriak? Nanti Rhea bisa terbangun," kata Mama Rhea cepat.
"Rhea tidak ada di kamar!" tunjuk papa Rhea ke arah ranjang yang kosong. "Bahkan ponselnya ada di atas kasur. Kemana dia?"
__ADS_1
Wajah Mama Rhea memucat. Kemana anak itu?
****
"Ayo kita ke kamar," bisik Rhea. Kemeja yang di pakainya sudah tanggal semua kancingnya. Rakhan sangat piawai memainkan bibir dan jemari tangannya." Di sini tidak leluasa," sambungnya lagi.
"Ah ,ya ,ayo," balas Rakhan sambil melepaskan tangannya dari ujung bukit Rhea.
Tapi kenapa ukuran payudar* nya tidak seperti yang dia ingat? " Apa kamu diet akhir akhir ini? kenapa ukuranmu menjadi kecil?" tanyanya heran.
"Iya," ujar Rhea mengiyakan. "Ayo," dia melingkarkan lengannya di leher Rakhan. Ini benar benar mimpi, teriaknya dalam hati.
"Biarkan aku menggendong kamu," kata Rakhan sambil menggendong Rhea ala bride style.
"Rakhan?" suara lirih seorang gadis di depan pintu serta merta membuat Rakhan membalikkan badan. "Apa yang kalian lakukan?"
Karena keasikan mereka berdua, mereka tidak menyadari jika pintu depan terbuka.
"Chayra?" kata Rakhan tersadar. Dia melihat wajah Chayra memucat. "Lalu ini siapa?" dia menunduk melihat gadis yang berada di dalam gendongannya. " Kamu bukan Chayra," sertamerta dia melepaskan gendongannya.
"Aduh," jerit Rhea begitu tubuhnya mendarat di atas karpet.
"Aku tidak percaya ini," Tukas Chayra. Percuma dia bersusah payah menyusun rencana tapi ternyata malah mendapati Rakhan dan Rhea sedang berduaan.
"Ini tidak seperti yang kamu lihat," kata Rakhan sambil menahan tangan Chayra.
"Aku tidak perlu bilang kan?" timpal Rhea seraya memperlihatkan dadanya yang terbuka lebar. Ada banyak bekas ciuman di sana.
"Kenapa bisa?" kata Chayra tak percaya. Apa jangan jangan Rakhan memang sudah bermain mata dengan Rhea? " Bagaimana rasanya Rhea ?" tukasnya marah.
"Aku mengira kamu itu dia, entah kenapa tiba tiba wajahnya berubah seperti wajahmu di mata aku," sahut Rakhan dengan nada memelas. Dia belum pernah merasa bersalah seperti ini.
"Kamu percaya kan?" ujar nya lagi sembari menatap mata Chayra dalam dalam.
"Kamu lebih percaya bukti kan?" sela Rhea tersenyum manis. "Bagaimana mungkin wajahmu bisa sama dengan wajahku?" katanya menyakinkan Chayra .
"Jangan dengarkan dia!" tukas Rakhan. " Sekarang kamu pergi!" usirnya pada Rhea.
"Kamu tak akan bisa mengusir aku, karena kamu harus bertanggung jawab padaku," sahut Rhea.
"Apa maksud kamu?" tandas Rakhan marah.
__ADS_1
"Coba lihat kamu dan aku," balas Rhea. "Kita sudah tidak berpakaian lengkap, bahkan ada banyak bekas ciuman di dadaku,"bebernya tenang.
"I'm not virgin anymore," katanya lagi.