
" Bagaimana ,Pak?" tanya Pak supir sambil menoleh ke belakang. Meminta kepastian. Mereka sudah menunggu beberapa lama.
"Tunggu sebentar lagi, Pak," pinta Taksa. Kepalanya terus terpaku ke luar jendela, berharap melihat CEO Rakhan keluar dari gedung itu. " Tunggu CEO dulu," jelasnya.
Meski CEO Rakhan menyuruhnya pergi, namun dia tidak menuruti. Hatinya merasa tak tentram. Apalagi dengan membawa Chayra. Gadis itu sejak masuk mobil hanya duduk meringkuk di sudut. Sesekali terdengar rintihannya. Mungkin badannya masih sakit karena di setrum tadi, batin Taksa.
"Baik, Pak," sahut Pak supir. Semoga CEO cepat keluar, rintihan gadis yang duduk di belakang, membuat aku merinding, katanya dalam hati.
Taksa terus menatap ke luar jendela. Berharap CEO Rakhan segera keluar.
Kemudian...Taksa melihat CEO Rakhan keluar dengan langkah bergegas. Dari caranya berjalan sepertinya CEO Rakhan tidak apa apa. Dia menarik nafas lega.
CEO Rakhan keluar dari gedung dengan langkah bergegas. Petugas keamanan yang berjaga di depan pintu menganggukkan kepala dengan ramah. Tidak ada tanda tanda akan mencegat. Dia merasa heran. Eouin pasti sedang merencanakan sesuatu, katanya dalam hati.
CEO Rakhan terus berjalan. Dia melihat mobil yang di tumpanginya tadi, masih menunggu di depan gerbang masuk. Dia berjalan menuju mobil lalu membuka pintu depan dan masuk ke dalam.
"Kenapa kamu tidak mengikuti perintah?" kata CEO Rakhan dingin.
"Maaf ,CEO, saya ..." Taksa kehilangan kata kata. " Saya kuatir pada anda," sambungnya lagi.
"Sudah, jalan ,Pak," instruksi CEO Rakhan pada pak supir.
"Baik, CEO ," jawab Pak supir sambil menyalakan mesin mobil.
"Kita ke penginapan terdekat saja," Kata CEO Rakhan sambil melepaskan kawat pijar dari jari telunjuk tangan kanannya.
"Baik, CEO," sahut Pak Supir.
"Tapi, CEO, kita sudah pesan kamar di..." Taksa berupaya mengingatkan.
"Kita ke penginapan terdekat," potong CEO Rakhan tegas
"Iya, CEO," Taksa menurut. Dia merasa janggal. CEO Rakhan terlihat tidak perduli pada Chayra. Jangankan menanyakan keadaan menengok ke belakang saja tidak, batin nya.
Setelah mobil berjalan beberapa puluh kilo meter, akhirnya mereka menemukan penginapan.
"Anda yakin mau menginap di sini, CEO?" tanya Taksa kuatir.
Penginapan itu terlihat tidak cocok untuk CEO Rakhan. Sebuah penginapan kecil dan terlihat tidak terawat . Mungkin karena sedikit yang menginap di sana, jadi kurang dana untuk perawatan.
" Turun," perintah CEO Rakhan sambil membuka pintu. " Jangan lupa kamu bawa gadis itu," katanya mengingatkan.
"Eh, iya, CEO," jawab Taksa makin heran. Kenapa CEO tidak perduli pada Chayra?
__ADS_1
CEO Rakhan melangkahkan kaki masuk ke dalam penginapan. Dia menuju meja resepsionis, berbicara dengan seorang perempuan setengah baya yang berdiri di belakang meja.
"Ini kunci kamar," CEO Rakhan memberikan sebuah kunci pada Pak sopir. " Besok jam 7 pagi, kita mulai jalan lagi," pesannya.
"Baik, CEO," Pak sopir mengangguk.
"Ikut aku," kata CEO Rakhan begitu melihat Taksa dan Chayra mendekat.
"Ya, CEO," Taksa mengangguk.
CEO Rakhan berjalan di depan. Dia membiarkan saja Taksa menggandeng Chayra yang terlihat masih lemah.
CEO Rakhan terus berjalan, ke arah dalam penginapan. Setelah melewati beberapa kamar, dia berhenti pada kamar terakhir. Dia membuka pintu lalu mengisyaratkan Taksa dan Chayra untuk masuk.
(Percakapan selanjutnya pakai bahasa Inggris ya readers ☺️)
"Siapa kamu?" kata CEO Rakhan begitu Chayra masuk ke dalam kamar.
Eh? Taksa terperangah. Kenapa CEO tiba tiba tidak mengenal Chayra?
"Chayra," jawab Chayra dengan ekspresi ketakutan.
"Jangan bohong!" CEO Rakhan meraba wajah Chayra kemudian dengan sekali sentakan dia merobek wajah Chayra. "Kamu bukan dia!"
Hah, ngerii...Taksa hampir saja berteriak ketakutan. Namun ketika dia melihat CEO Rakhan melemparkan sesuatu ke lantai, dia melihat wajah lain yang berdiri di hadapannya. Itu bukan Chayra!
"Itu!" CEO Rakhan menunjuk punggung telapak tangan kanan gadis itu. " Dia tidak punya."
"Benar," Taksa mengikuti telunjuk CEO Rakhan. Gadis itu tidak punya tahi lalat. "Anda sungguh jeli," pujinya.
Selain itu, saat wajah gadis itu nyaris mencium pangkal paha aku, aku sama sekali tidak bereaksi, kata CEO Rakhan yang tentu saja dalam hati. "Ambil ponsel mu, kirim video gadis ini ke Eouin," perintah CEO Rakhan.
"Baik, CEO," kata Taksa sambil mengambil ponsel dari kantong celana panjangnya. Kemudian dia mengarahkan ponselnya ke wajah gadis itu.
"Katakan di mana Chayra," CEO Rakhan mulai menginterogasi. "Jika kamu jujur, aku akan memberikan kamu kehidupan yang lebih baik," sambungnya lagi.
"Saya tidak tahu," geleng gadis itu. " Saya hanya di suruh menjadi dia."
"Kamu bukan gadis biasa," CEO Rakhan menatap tajam dengan mata elangnya. " Gadis biasa tak akan sanggup menerima sentruman listrik berkali kali. Pasti akan mati," tandasnya .
Gadis itu diam. Dia membuka mulutnya namun tidak mengeluarkan suara.
"Kita pergi," CEO Rakhan mengerakkan tangannya .
__ADS_1
"Gadis ini bagaimana?" tanya Taksa bingung. Dia memasukkan ponselnya kembali ke dalam kantong celananya.
"Dia mati," pungkas CEO Rakhan ringkas.
"Mati?" Taksa makin bingung." Dia baik baik sa..." kalimat nya terhenti begitu gadis itu jatuh tertelungkup ke lantai. " Di ..dia kenapa?" jeritnya kaget.
"Dia mengigit sendiri lidahnya. Bunuh diri," jelas CEO Rakhan.
Astaga! Mata Taksa terbelalak. Ngeri. Aku terlibat dalam apa ini sekarang? Ada seorang gadis yang bunuh diri. Ada seorang bos yang begitu kejam di luar sana. Begitu Chayra ketemu, aku akan langsung resign dari jabatan ini, tekadnya dalam hati.
"Pakai ini," CEO Rakhan mengangkat kakinya, membuka sol tipis yang melapisi sol sepatunya. Dia menyadari ketakutan Taksa.
"Ini apa, CEO?" tanya Taksa heran.
"Bisa membuat kamu lari secepat kilat," Jawab CEO Rakhan. " Tinggal gosokkan sepatumu tiga kali, maka sol ini akan beraksi," jelasnya.
"Baik, CEO," kata Taksa sambil menerima sol itu dan menempelkan nya di sol sepatunya. Pantas tadi CEO Rakhan menyuruh dia pergi lebih dulu.
"Kita pergi sekarang," CEO Rakhan membuka pintu. " Sebelum Eouin menyadari anak buahnya sudah mati."
"Baik, CEO," angguk Taksa cepat. Tiba tiba dia merasa keren. Jika dia mau, dia bisa secepat Barry Allen, The Flash. Hahaha ...
Sementara itu di lab Eksperimen, Eouin dan Boris tengah memantau layar monitor komputer Lio.
"Dia ada di penginapan Sparrow, sekitar 50 km dari sini," kata Lio memberitahu. "Tapi sekarang ini..." dia menoleh pada Boris dan Eouin secara bergantian.
Deg! Jantung Boris berdetak kencang. "Kenapa?" tanyanya.
"Microchip yang di tempel di dadanya menunjukan suhu tubuh yang terus menurun sekitar 0,84 derajat Celcius," jawab Lio kuatir.
"Dia mati ....." sahut Boris dengan mata kosong.
"Damn!" Eouin menggebrak meja. Komputer Lio sampai bergetar. " Rakhan sudah tahu identitas nya," geramnya. "Sial,sial,sial!" dia meninju meja .
Mati! Boris linglung. Dia berjalan menuju meja kerjanya. Kenapa aku mengizinkan Annie ? Sekarang dia mati!
Lio terpaku di depan komputer. Annie gadis yang baik. Seorang peneliti yang berdedikasi tinggi. Dia melirik Eouin yang masih mengamuk. Dia sudah tidak tahan lagi pada sikap Eouin. Begitu Damon ketemu, dia akan mengakhiri pengabdiannya pada bos kejam ini, batinnya dalam hati.
*****
Kret...Chayra membuka pintu kamar dengan hati hati. Dia menoleh ke kiri dan kanan. Tidak ada siapapun di luar sana. Aman!
Dia melangkah keluar. Dia ingin tahu di mana Damon berada. Dia terus berjalan di lorong kamar dan ketika melewati sebuah kamar di bawah tangga, dia mendengar bunyi sesayup. Seperti bunyi mesin.
__ADS_1
Damon! kata hati Chayra. Dia berhenti di depan kamar itu. Lalu membuka gagang pintu dengan perlahan.
Apa itu? Chayra terbelalak.