
Rakhan menggosok mata. Sinar matahari yang menyelinap masuk melewati gorden jendela, sampai juga ke matanya. Berasa silau, dia membuka mata dan bangkit dari ranjang.
Hal pertama yang di lakukannya adalah meraih ponsel di atas nakas di samping ranjang. Dari notifikasi AccuWeather di ponsel, cuaca Caliente pagi ini 33 derajat, cerah berawan, kualitas udara ideal untuk melakukan aktivitas di luar ruangan.
Dia akan mengajak Chayra untuk menikmati Caliente. Mungkin dengan berendam di pemandian air mineral atau ke tempat wisata paling pavorit yaitu Kershaw Ryan State Park.
Sebuah taman kota berbayar yang mempunyai pemandangan alam yang memanjakan mata. Karena terdapat canyon yang spektakuler dengan pemandangan gurun, tanaman rambat dan bunga bunga liar yang rindang. Di sisi lain taman kota itu terdapat juga kolam kecil yang di penuhi ikan koi dan tempat camping.
Atau mungkin Chayra ingin melihat Delamar Ghost Town,kota hantu yang misterius.
Atau mungkin ingin pergi ke 1923 Caliente railroad Depot yang merupakan pusat kota Caliente.
Heh...Rakhan mengernyit saat melihat ponselnya. Ada 3 panggilan telepon dari Chayra. Dia buru buru menelepon Chayra. Tapi tidak di angkat. Dia menelepon lagi. Tidak di angkat. Sampai beberapa kali. Tetap tidak di angkat.
Akhirnya, dia menelepon Tom Hanks, kepala pengawal yang bertugas menjaga Chayra.
Tom langsung mengangkat pada dering pertama.
"Di mana Chayra?" tanya Rakhan cepat.
"Di taman Samping hotel,CEO," Jawab Tom.
"Katakan pada Chayra ,tunggu di sana. Jangan kemana mana, aku sebentar lagi turun," balas Rakhan lalu mematikan sambungan telepon sebelum Tom membalas ucapannya.
" Bagaimana ini," wajah Tom memucat. Dia menoleh pada dua rekan kerjanya yang berdiri sejajar dengannya. "CEO akan datang sebentar lagi."
"Bagaimana lagi," timpal Brad Connor dengan wajah pasrah diiringi anggukan Weish Tim di sebelahnya.
Lima belas menit kemudian, Rakhan sudah turun ke bawah. Dia berjalan keluar dari lobi menuju taman samping hotel.
"CEO," sesosok tubuh tinggi langsing menghadang jalannya Rakhan.
Rakhan mengangkat sebelah alis. Rhea Hadiyan? Kenapa dia bisa ada di sini?
"Sekretaris anda, yang memberitahu saya," Kata Rhea memahami raut keheranan di wajah Rakhan.
Aku akan memecatnya,kata hati Rakhan. " Maaf aku buru buru, kalau ada perlu telepon Taksa saja," katanya lagi.
Rhea menatap Rakhan dengan teliti. Kaos polo berkerah, celana jeans dan sneakers. Penampilan yang begitu casual. Bukan jenis tampilan untuk bekerja. "Anda mau pergi kemana?" tanyanya ingin tahu.
"Aku tidak perlu memberitahu mu," jawab Rakhan dingin. Dia harus buru buru sebelum Rhea menyadari kehadiran Chayra di hotel ini.
__ADS_1
"Anda tidak akan bertemu dengan Chayra," tukas Rhea kesal. Dia tidak menyangka akan di sambut begitu dingin oleh Rakhan.
"Apa maksudmu?" tanya Rakhan cepat.
" Karena dia sudah pergi," sahut Rhea.
"Apa maksudmu?" ulang Rakhan. Terdengar dari nada suaranya, nampaknya Rhea yakin dengan apa yang di ucapkannya.
"Dia sudah pergi ," Rhea mengulangi kalimatnya.
"Ridiculous (konyol, tidak masuk akal, menertawakan)," Rakhan menyeringai. Chayra tidak akan mungkin pergi meninggalkannya. Dia mengeluarkan ponsel dari kantong celana jeansnya.
Huh, siapa sekarang yang ridiculous, hati Rhea berkata.
"Tom, apa Chayra masih di taman?" kata Rakhan begitu Tom mengangkat telepon.
"Anu, CEO..." Tom menggaruk rambutnya.
"Anu, anu apa?" potong Rakhan tak sabar. Apa benar yang di katakan Rhea? Kalau Chayra pergi meninggalkannya?
"Nona Chayra sudah pergi, CEO," jawab Tom dengan suara lirih. Dia menyiapkan mental untuk mendengar ledakan kemarahan CEO.
"Apa?" teriak Rakhan. "Kenapa dia bisa pergi? Kenapa kalian membiarkan dia pergi?" katanya marah.
"Kalian ke sini, aku di koridor menuju taman," kata Rakhan lalu mematikan ponselnya.
"See?" Rhea menyinggung senyum.
"Kamu tahu darimana?" tanya Rakhan curiga. Apa kepergian Chayra ada hubungannya dengan Rhea?
" Aku yang memberitahu keluarganya untuk membawa Chayra," jelas Rhea.
"Apa maksudmu?" timpal Rakhan menahan marah. Perempuan ini sungguh pintar membuat emosinya meledak.
" CEO, apa yang di katakan orang, jika mereka tahu anda membawa perempuan lain ke luar negeri, sementara anda sudah punya calon istri," beber Rhea tenang.
" Dasar naif," tandas Rakhan sinis. "Chayra itu di culik oleh saingan Bisnisku, karena robot itu hanya bisa di aktifkan oleh QR code ponsel Chayra," sambungnya makin kesal.
"Apa?" mata Rhea terbelalak. Berarti dia telah salah sangka pada Chayra. Perlakuan Rakhan yang begitu perhatian pada Chayra membuat dia marah.
" Apa identitas Chayra yang tidak di privasi juga atas suruhan kamu?" tanya Rakhan. "Karena tindakan kamu itu ,data pribadi Chayra bisa di akses oleh musuhku," sambungnya marah begitu Rhea mengangguk.
__ADS_1
"Maaf, aku tidak tahu," Rhea menundukkan kepalanya. Belum pernah seumur hidupnya dia di marah marahi seperti ini. " Aku tidak bermaksud jahat, bagaimanapun Chayra adalah teman baikku, tujuanku agar dia bisa segera di temukan. Dan sebagai calon istri, aku juga ingin membantu anda. Kata Miku, anda sampai meninggalkan perusahaan karena masalah Chayra ini," sambungnya membela diri.
"Aku tidak menginginkan bantuanmu, apalagi dengan mengaku sebagai calon istri," balas Rakhan sinis. " Jangan memikirkan apa yang tidak akan terjadi," tukasnya ketus. Mimpi, aku akan menikahi gadis ini.
"Apa?" Wajah Rhea memucat. "Anda akan membatalkan rencana pernikahan kita?" sambungnya.
Rakhan diam saja. Dia malas menjawab.
"CEO," Tom dan kedua rekannya datang menghampiri.
" Ceritakan semua," titah Rakhan tak sabar.
"Begini CEO, tadi itu Nona Chayra meminta kami untuk menutupi jalan dari lobi menuju taman, katanya supaya tidak di ketahui temannya, "Tom memulai ceritanya.
"Jadi Chayra tidak ingin bertemu aku?" sela Rhea.
"Ops," Tom menutup mulutnya. Jadi ini teman yang tidak ingin di temui Nona Chayra? Aduh! dia menepuk keningnya.
"Terus?" suara Rakhan tak sabar.
"Saat kami ke taman di samping hotel, kami tidak melihat Nona Chayra, kami hanya menemukan ini," sambung Tom sambil mengeluarkan ponsel Chayra dari dalam kantong celananya.
Waduh! Chayra meninggalkan ponselnya," batin Rakhan gelisah. Tanpa ponsel itu, bagaimana dia bisa mengetahui keberadaan Chayra?
"Siapa keluarga Chayra yang kamu maksud?" Rakhan berpaling pada Rhea.
Heh? Rhea terkesiap. Dia tidak mungkin memberitahu siapa orang itu. Rakhan akan pasti akan mendatanginya dan membawa Chayra kembali.
"Siapa?" mata elang Rakhan menatap tajam. Seakan hendak mengoyak ngoyak Rhea.
"Katanya dia temannya Chayra," jawab Rhea berkelit.
"lie ( bohong)!" tukas Rakhan berang. " Tadi kamu bilang keluarga, sekarang teman. Jika aku menemukan bukti kamu bersekongkol untuk menyakiti Chayra, kamu tidak akan sanggup menerima akibatnya," ancamnya.
"Maaf aku..." Rhea buru buru minta maaf. Seumur umur, ini kali pertama dia meminta maaf.
"Diam!" hardik Rakhan marah. Dia mengangkat ponsel. Menelepon Jun.
"Sudah ketemu orangnya?" kata Rakhan begitu Jun mengucapkan selamat pagi.
"Sudah,CEO," balas Jun.
__ADS_1
"Tahan dia, aku akan ke sana," Rakhan mematikan sambungan telepon. "Kalian, awasi perempuan ini," perintahnya pada Tom dan kedua rekannya.
"Baik, CEO," Tom mengangguk di ikuti kedua temannya.