CEO Melankolis

CEO Melankolis
Bab 98: Mengapa Tidak Di angkat telepon nya , Ma?


__ADS_3

Wow, bisa di bayangkan berapa kecepatan mobil yang di kemudikan CEO sehingga bisa sampai di sini secepat ini, kata hati Taksa.


Dia duduk sekitar tiga meja di seberang meja Damon dan Chayra . Dia bisa melihat raut wajah CEO yang sangat marah.


"CEO Rakhan?" kata Damon dengan sikap tenang. Dia yakin Rakhan tak akan berani mengamuk di tengah keramaian begini. Seperti biasa Blue restoran sangat ramai di jam makan siang.


"Kebetulan sekali kita bertemu di sini," dia menyungging senyum.


Waduh, Chayra menunduk dalam dalam. Dia tidak berani menatap wajah Rakhan. Wajah itu terlihat sangat marah.


"Iya, kebetulan sekali. Tidak keberatan kan jika aku bergabung?" timpal Rakhan lalu duduk di sebelah Chayra.


"Maaf CEO, kami keberatan," balas Damon. "Saya dan calon istri saya sedang membicarakan hal penting untuk masa depan kami," tolaknya. Dia menatap Rakhan yang duduk di hadapannya dengan senyum manis.


Membicarakan hal penting untuk masa depan? dengus Rakhan dalam hati. Mimpi!


Waduh, tambah bahaya ini, batin Chayra. Di lihat dari gelagat Rakhan, sepertinya laki laki itu tidak perduli lagi dengan tempat. Dia bisa melampiaskan kekesalannya tanpa segan segan.


"Kalian silahkan bicara berdua, aku masih ada urusan," kata Chayra cepat. "Aku punya janji video call dengan seorang teman," sambungnya sambil melirik Rakhan. Memberi kode .


"Aku juga sudah selesai," Damon ikut bangkit dari kursi.


"Aku bisa pulang sendiri ," putus Chayra. Dia tidak ingin melihat kemarahan Rakhan yang mulai terlihat memudar di wajahnya.


"Taksi online di jam makan siang ini susah. Apalagi kamu sudah punya janji untuk video call, tidak sopan jika kamu telat menelepon nya," balas Damon pantang menyerah.


Pff, Chayra berusaha menahan tawa. Bagaimana kalau Damon tahu teman video callnya adalah Rakhan?


"Tidak perlu , aku bisa pulang dengan ..." tiba tiba mata Chayra melihat Taksa yang sedang duduk sambil makan dengan wajah menghadap ke mejanya. "Pak Taksa!" serunya sambil menunjuk ke arah Taksa.


Hmph...Taksa hampir memuntahkan lasagna yang sedang di kunyahnya.


Lasagna adalah pasta yang di panggang di dalam oven. Isiannya bisa bermacam macam. Makanan khas dari Italia.


Bagaimana bisa Chayra melihat kehadiran aku? rintih Taksa dalam hati.


"Siapa itu Taksa?" tanya Damon dengan ekspresi kesal.


Bagaimana ini ya? Jika aku mengatakan Taksa adalah asisten CEO Rakhan, Damon bisa marah dan pasti tidak akan mengizinkan dia untuk mengantar aku pulang, Chayra membatin.


"Pak Taksa itu adakah dosen tamu di jurusan bisnis, Universitas Bumi Persada," jawab Rakhan mengambil alih.

__ADS_1


Taksa jadi dosen tamu di jurusannya Rhea? kata hati Chayra heran. Memang dia sempat mendengar desas desus jika jurusan bisnis akan ada dosen tamu dari WT group .


Tapi dia tidak menyangka, Taksa adalah orangnya. Jangan jangan Taksa juga yang melaporkan pada Rakhan kalau dia makan siang di sini bersama Damon.


Damon mengernyit. Sepertinya Pak Taksa itu bukan dosen tamu biasa. Tidak mungkin Chayra bisa seakrab itu dengan dia, batinnya curiga.


"Tidak boleh," tolak Damon tegas. " Kamu pergi dengan aku dan aku tidak mungkin membiarkan kamu pulang dengan laki laki lain," sambungnya dengan nada tak terbantahkan.


Weleh, baru calon suami itu juga bukan pilihan aku, sudah berani larang larang," kata Chayra dalam hati.


"Laki laki gentle tidak akan memaksakan sesuatu kepada seorang gadis," Sindir Rakhan.


Heh, bukannya kamu juga begitu? batin Chayra.


"Maaf, saya tidak meminta pendapat dari CEO ..." Damon berhenti bicara karena Chayra sudah meninggalkan meja.


"Bye ..." Chayra melambai lalu berjalan dengan cepat menarik tangan Taksa yang masih memegang sendok. " Cepat antar aku pulang," desisnya.


"Hah?" Taksa melongo. Dia melihat Rakhan mengangguk dari kursi yang tadinya di duduki bersama Chayra. Kenapa aku lagi? teriaknya dalam hati. Mana lasagna nya juga baru di makan setengah.


Tapi apa mau di kata, perintah dari atasan tidak bisa di tolak, batinnya pasrah.


"Aku ingatkan kamu, meski kamu sudah di akui sebagai calon suami Chayra, tapi kamu belum pasti menjadi suaminya," kata Rakhan mengingatkan.


"Apa maksud CEO Rakhan?" tanya Damon cepat. Dia kembali duduk di kursinya.


"Tanya saja kepada Pak Bisma," timpal Rakhan seraya berdiri dari kursinya.


***


"Maaf jika merepotkan Pak Taksa," kata Chayra sambil memasangkan selt belt . Dia menangkap sekilas ekspresi malas di wajah Taksa.


Ya, sungguh merepotkan ! teriak Taksa dalam hati. " Tidak apa apa, kebetulan aku juga mau pulang," sahutnya sambil menyungging senyum terpaksa. Oh, lasagnaku, desisnya dalam hati.


Untung saja lasagna itu di bayar oleh CEO, jika tidak dia bisa nangis darah. Harga lasagna itu seporsinya ratusan ribu.


"Kamu pulang dengan aku," mendadak pintu mobil Taksa terbuka dari luar.


Rakhan berdiri di depan pintu mobil dengan raut muka tidak mau di bantah.


Mata Chayra memperhatikan wajah Rakhan dengan teliti. Tidak ada bekas luka. Laki laki itu juga berdiri dengan tegap. Sepertinya dia dan Damon tidak terlibat perkelahian, kata hatinya lega.

__ADS_1


"Ayo," tangan Rakhan membuka selt belt Chayra. " Kita tidak boleh merepotkan Taksa," katanya lagi.


"Tapi bagaimana dengan Damon?" tanya Chayra kuatir.


"Dia sudah pergi," balas Rakhan kesal. "Bisa tidak membahas laki laki lain di depanku?"


"Ya, baiklah," angguk Chayra menyerah. Dia tidak ingin Rakhan marah. Susah di bujuk.


Dia keluar dari mobil setelah mengambil ransel yang dia letakkan di samping jok.


Selintas dia melihat sebuah jaket bomber berbahan fleece destiny bergaya street style tergeletak di jok belakang.


Jaket yang sama dengan driver ojol misterius itu. Apakah driver itu Taksa? Tapi dia kan seorang asisten CEO.


"Terima kasih ya, Pak," kata Chayra yang langsung di jawab anggukan bahagia dari Taksa. " Apakah jaket bomber itu milik pak Taksa?" tanyanya.


*****


"Bagaimana?" tanya Efron Finn begitu dia sampai di laboratorium rumah sakit.


"Ini pak, hasilnya sudah keluar," jawab petugas laboratorium sambil menyerahkan sebuah amplop.


Dengan tidak sabar, Efron Finn membuka isi amplop itu. Dalam sekejap dia tersenyum. Semua sesuai kemauannya.


Dia segera mengeluarkan ponsel dari kantong celananya. Dia menekan sejumlah nomor. Nomor telepon Aaleasa.


****


Rhea pulang ke rumah dengan wajah sebal. Dia melewati mamanya yang sedang membaca majalah fashion di ruang duduk.


"Kamu kenapa sayang?" tanya mama sambil mengangkat muka dari majalah fashion yang tengah di bacanya.


Kring....kring...tiba tiba ponsel mama yang tergeletak di samping sofa berdering. Beliau melirik nomor telepon yang tertera di layar monitornya.


"Dari siapa ma? Kenapa tidak di angkat?" kata Rhea seraya duduk di samping mamanya.


*****


Maaf ya readers,otor telat untuk update. Di karenakan anak otor sedang UTS. Otor menjadi guru les privat dadakan🤭


"

__ADS_1


__ADS_2