CEO Melankolis

CEO Melankolis
Bab 129: Apa kamu ingin tahu kabar tentang Rakhan?


__ADS_3

Semua mata menoleh ke belakang.


Damon? batin Chayra kesal. Kenapa aku harus bertemu dia lagi.


Mas Damon? kata Arfan dalam hati. Aku tidak akan membiarkan dia membawa Chayra pergi, tekadnya.


"Damon? Kamu bisa membawa Chayra pulang bersama kamu," ujar Lio.


"Tidak boleh!" seru Arfan memotong. Dia akan berbuat apa saja untuk mencegah niat Damon.


"Kamu tidak berhak," tukas Damon kesal. Sepertinya bocah ini masih belum puas di pukuli tempo hari, geramnya dalam hati.


"Chayra adalah calon istri aku," lanjutnya sewot.


"Tanyakan pada Chayra, apa dia mau ikut dengan Mas Damon," balas Arfan bersikukuh.


"Sudah, Fan!" sela Lio. Dia heran melihat adiknya yang begitu ngotot ingin melarang Damon membawa Chayra.


"Seperti yang di katakan Damon, Chayra adalah calon istrinya. Jadi dia berhak membawa Chayra," sambungnya.


"Tapi Chayra tidak ingin pulang dengan Mas Damon, Kak," tukas Arfan.


"Chayra?" tanya Damon lembut. Matanya menatap langsung ke pupil mata Chayra. " Ikut dengan aku ya?" pintanya.


"Chayra," sela Arfan. " Jika kamu tidak mau ikut dengan Mas Damon, kamu tidak usah ikut dengannya," lanjutnya.


"Arfan?" kata Chayra meragu. " Aku tidak ingin kamu terluka..."


"Terluka apa?" potong Lio. Dia menatap kaki adiknya yang masih di perban. " Luka itu maksudnya?" tunjuknya.


"Ya, Mas Damon menendang aku beberapa kali karena mencoba menghalangi dia membawa Chayra," beber Arfan memberi tahu.


"Apa?" mata Lio terbelalak. " Jadi lo yang membuat adik gue di rawat beberapa hari di rumah sakit?" tanyanya ingin memastikan.


"Ya," jawab Damon ringkas.


"Kurang ajar!" sentak Lio marah. " Kenapa kamu tidak memberi tahu kakak sebelum nya?" tanyanya pada Arfan.


"Aku hanya tidak ingin kak Lio menjadi marah," sahut Arfan.


"Tentu saja aku marah! " sentak lio. "Apa salah adik gue sampai Lo pukulin sampai babak belur?" tandasnya pada Damon.


"Dia menghalangi aku membawa Chayra," pungkas Damon tanpa merasa bersalah.

__ADS_1


"Kalau sekarang gue melarang Lo membawa Chayra, apa Lo juga akan membuat gue babak belur?" ujar Lio bertanya.


Waduh! Apa akan terjadi perkelahian di sini? batin Chayra . Sementara mereka berkelahi, aku bisa pergi dari sini, batinnya lagi.


"Ya," balas Damon. " Gue yakin Lo ga bakalan larang gue bawa Chayra kan?" tegas nya.


"Salah!" tukas Lio. Dia mengayunkan tinjunya ke arah wajah Damon. " Ini untuk pukulan Lo pada Arfan!"


Bugh! Damon yang tidak menyangka akan di pukul Lio, tidak sempat mengelak. Wajahnya terkena tinju Lio. Wajahnya terasa panas dan sakit.


"Bagus!" kata Damon menyeringai. " Gue ladenin," katanya lagi.


Sedetik kemudian mereka saling beradu pukulan.


Tanpa bicara , Arfan mengamit lengan Chayra lalu membawa nya pergi.


****


"Bagaimana sekarang?" tanya papa Rhea pada istrinya, setelah mereka duduk di ruang tengah. Beliau prihatin melihat mata istrinya yang sembab karena kebanyakan menangis.


"Masih sedih," jawab mama Rhea murung. Siapa yang tidak sedih jika anaknya di culik orang? batin beliau.


"Aku sudah menyuruh orang untuk mencari tahu keberadaan Rhea. Mereka adalah detektif swasta yang terkenal. Aku yakin tak berapa lama lagi , kita akan tahu Rhea berada di mana," kata papa Rhea menenangkan.


"Kata penjaga rumah, meski mereka memakai penutup wajah, tapi penjaga rumah yakin mereka itu merupakan orang bule. Posturnya tinggi besar, postur khas bule," kata papa Rhea.


Orang bule? Pasti itu anak buah Efron! kata hati mama Rhea. Aku haru mencari cara untuk bisa menelepon laki laki sialan itu!


"Aku sudah tidak apa apa. Papa sebaiknya kembali ke kantor. Bukankah papa akan mempersiapkan acara grand launching produk terbaru akhir Minggu ini?" kata beliau mengingatkan.


"Sudah papa undur sampai batas waktu tidak di tentukan. Pokoknya sampai Rhea ketemu. Blossom juga sudah di beritahu," jawab Papa Rhea.


"Bagaimana dengan para komisaris? Apa mereka setuju?" tanya mama Rhea.


"Tidak perduli mereka tidak setuju," Tukas papa Rhea. " Perusahaan itu aku pemiliknya. Sudah , mama tidak perlu memikirkan perusahaan," sambung beliau.


Bagaimana ini? Jika Farras tidak pergi dari rumah, bagaimana aku bisa menelepon Efron? batin mama Rhea gelisah.


Papa Rhea menatap istrinya yang duduk di sebelahnya. Beliau merasakan kegelisahan yang mendalam. " Tenang saja, Rhea pasti akan di temukan dalam keadaan selamat," ujar beliau sambil memberikan pelukan hangat pada istrinya.


"Ya," angguk mama Rhea tak berdaya. Beliau hanya bisa pasrah menunggu kelanjutan kejadian penculikan anaknya ini.


***

__ADS_1


Arfan melarikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia harus membawa Chayra sejauh mungkin dari Damon.


"Bisa pelan pelan?" kata Chayra dengan mimik ngeri. Dia berpegangan pada pinggiran jok. "Aku masih ingin hidup," katanya mengingatkan.


"Eh, iya, maaf," jawab Arfan seakan tersadar. Dia memelankan laju mobilnya . " Aku hanya ingin membawa kamu sejauh mungkin dari Mas Damon," katanya mengaku.


"Iya, terimakasih," ujar Chayra. " Tapi sepertinya kita sudah jauh dari mereka," katanya memberitahu.


"Ya," kata Arfan. "Kita sudah sampai," katanya sambil menghentikan mobil.


Chayra melihat sebuah rumah kayu khas pedesaan terhampar di depan mata. " Ini di mana?" tanyanya.


"Di desa. Rumah nenek dan kakek aku. Kamu sementara di sini sampai suasana aman," jawab Arfan memberi tahu. " Ayo turun," ajaknya.


****"


Efron menatap ponsel yang ada di telapak tangan nya. Beliau sudah menelepon Aleasaa beberapa kali, tapi perempuan itu menolak menjawabnya.


Sial! Beliau meninju nakas yang berada di sebelahnya. Berani sekali perempuan itu! batin beliau dengan emosi yang mendidih.


Kemudian beliau membunyikan lonceng. Memanggil pelayan. Tak berapa lama seorang pelayan perempuan datang. Beliau menanyakan keadaan Rhea yang berada di dalam kamar tamu.


Pelayan itu memberi tahu jika Rhea sudah bangun tapi tidak ingin makan apa apa.


Saat nya melihat gadis itu! batin beliau sambil berdiri dari sofa.


Di ikuti pelayan perempuan itu, Efron melangkah mendatangi Rhea di dalam kamar.


Beliau melihat Rhea sedang duduk santai di atas kasur. Gadis itu melengos ketika melihat kehadiran Efron.


" Bagaimana kabarmu?" tanya Efron berbasa basi.


"Apa ada orang yang baik baik saja jika di culik?" tukas Rhea sebal. Huh, pertanyaan yang bodoh, batinnya kesal.


"Aku minta maaf kalau membuat kamu kesal," kata Efron pelan. Ini pertama kali dalam hidup, beliau meminta maaf pada seseorang.


Hah? Orang tua ini meminta maaf? kata hati Rhea heran.


"Tapi aku terpaksa. Jika tidak melakukan cara ini, aku takut tidak dapat pengakuan dari Aleasaa dan kamu," lanjut beliau dengan perasaan bersalah.


"Aku tidak mau dengar," tukas Rhea sambil menutup kedua telinganya.


"Apa kamu juga tidak mau dengar tentang Rakhan?" tanya beliau.

__ADS_1


__ADS_2