
"Aku ingin lebih dulu bertemu dengannya sebelum World Tech," kata Bos lagi.
"Lalu bagaimana dengan World Tech, Bos?" tanya Lio ingin tahu. "Tinggal tunggu waktu saja,mereka pasti akan menjebol sistem komputer A.R. "
"Aku sudah menimpa kode A.R Ekspedisi dengan kode baru. Aku sudah mengendalikan sistem. Aku adalah akun administratornya sekarang. Tanpa seizinku, jangankan World Tech, A.R Ekspedisi juga tidak bisa masuk," urai Bos dengan sikap jumawa.
"Bos memang hebat," sahut Lio kagum.
"Sekarang kamu retas sistem komputer apartemen Bougenville, cari tahu tentang Chayra Minara," perintah Bos. "Aku tidak ingin bertemu dengannya tanpa persiapan," dia mendorong kembali laptop itu kehadapan Lio.
"Install metasploit, tool hackingnya lebih lengkap di banding windows 10," sambungnya memberitahu.
"Baik ,Bos," Jawab Lio. Dia segera mengunduh metasploit kemudian melakukan peretasan.
"Dalam arsip kepemilikan apartemen Bougenville lantai 9 unit no 812, tercatat atas nama Aisyahzaara Rhea Ravika Hadiyan," lapor Lio setelah beberapa saat. " Dia adalah putri tunggal CEO Farras Hadiyan, pemilik In Tech Group," lanjutnya sambil terus mengetik. Kali ini dia mengambil dari data dinas kependudukan. Dia tahu Bos akan terus bertanya sebelum merasa puas .
"Dia tercatat sebagai Mahasiswi Universitas Bumi Persada ,Jakarta, semester 4, Fakultas Ekonomi, jurusan Bisnis internasional," dia masuk ke dalam sistem komputer Universitas.
"Besok jam 10 pagi, dia ada mata kuliah Matematika Bisnis," dia terus mengetik di atas keyboard nya. " Ini fotonya, Bos," katanya sambil menoleh ke arah Bos.
Bos menatap foto yang terpampang di layar monitor laptop. Seorang gadis berambut hitam berkilau sebatas bahu. Bola matanya yang berwarna coklat tua terlihat indah. Alis matanya panjang terukir rapi. Bibirnya tersenyum cerah. Gadis yang sangat cantik.
Lio mengalihkan pandangan ke arah lain. Bos tampak terpesona melihat foto gadis itu, katanya dalam hati.
"Ehm..." Bos berdehem. Malu ketahuan terpesona. "Kirimkan foto itu pada orang kita yang ada di Jakarta, mulai besok pagi, awasi gadis itu 24 jam , jangan sampai lengah," dia mengeluarkan perintah.
"Baik, Bos," sahut Lio cepat. Dia segera mengirimkan file foto beserta data diri gadis itu ke alamat email Didi Riyadi, orang kepercayaan Bos yang ada di Jakarta.
"Terus bagaimana dengan Chayra Minara, Bos?" tanya Lio lagi.
"Kita dapatkan dulu informasi dari Rhea Ravika," perintah Bos. " Bisa saja itu nama samaran dia," tutup Bos.
"Baik, Bos," sahut Lio sambil mematikan laptop.
Di saat yang sama, di sebuah rumah megah bernuansa Amerika Klasik di pinggiran Kota Jakarta, CEO Rakhan tengah duduk bersila di atas ranjangnya yang empuk. Wajah tampannya terlihat marah. Juga kesal .
Baru saja Samuel menelepon nya, memberitahu dalam website resmi A.R. Ekspedisi melaporkan jika sistem komputer mereka baru saja di retas dan mereka tidak bisa masuk ke dalamnya. Sandi akun mereka juga telah di ganti oleh hacker.
Dia yakin, barang itu A.R Ekspedisi yang telah mengirimkannya. Tapi kemana? Buat siapa? Jakarta terlalu luas. Dan sekarang akun A.R sudah di ambil alih hacker.
__ADS_1
Siapa hacker itu? Apakah dia orangnya? Jika memang dia orangnya, dia pasti akan segera muncul, aku harus bersiap siap, katanya pada diri sendiri.
Malam semakin kelam. CEO Rakhan merebahkan tubuhnya. Dia harus menyiapkan energi. Mulai besok,dia akan punya mainan baru. Tanpa sadar,dia tertidur sambil tersenyum.
Keesokan harinya, Pagi pagi sekali Chayra sudah sampai di kampus. Dia meninggalkan Rhea yang masih tertidur di temani jeritan alarm ponselnya yang di set jam 6 pagi. Damon juga masih dalam mode tidur.
Dia sengaja buru buru ke kampus untuk menghindari mulut bawelnya Rhea. Masalah kaos tergunting itu masih di bahas Rhea sampai larut malam. Dan dia yakin, pagi ini akan kembali berlanjut.
Kelas masih sepi,ketika Chayra masuk. Dia meletakan ranselnya di meja yang berada di bawah jendela. Masih ada sekitar 40 menit lagi sebelum mata kuliah Perpajakan 1 di mulai.
Chayra baru saja hendak meletakan pantatnya di kursi ketika sebuah suara menyapanya. Dia mendongakkan kepala. Dia melihat Arfan Rayyan tersenyum padanya.
"Eh, iya.." jawab Chayra. Entah kenapa dia merasa sedikit takut melihat senyuman Arfan yang secerah matahari pagi itu. Takut terpesona.
"Tumben datang pagi," Arfan memulai percakapan. Dia meletakkan tasnya di meja di depan Chayra.
"Sedang rajin," balas Chayra seadanya. Selama ini dia memang datang di menit menit terakhir kelas di mulai.
" Oh," sahut Arfan pendek. "Sudah sarapan belum? ke kantin ..." kalimat Arfan terhenti oleh deringan ponsel Chayra yang berasal dari dalam ransel.
Chayra buru buru mengeluarkan ponsel. Sebuah nama tertera sebagai penelpon. Aish, kenapa aku tadi lupa mengganti ke mode pesawat , gerutunya dalam hati.
"Nanti pulang aku jemput ya? Kita sama sama ke kantor CEO Rakhan," kata Rhea setelah Chayra menjawab.
"Iya..."
Arfan memperhatikan dengan teliti. Siapa yang menelepon Chayra? Kenapa wajahnya terlihat tidak bahagia?
"Video call, aku mau lihat baju yang kamu pakai," perintah Rhea.
"Malu ," tolak Chayra.
"Kenapa malu? Kamu tidak pakai baju yang aneh aneh kan?" timpal Rhea kuatir.
"Enggak, sudah ya, dosen sudah masuk kelas," Chayra mengakhiri percakapan. Dia mematikan telepon dan memasukannya kembali kedalam ransel.
"Dari ibu tiriku," kata Chayra menjawab keheranan yang terlukis di wajah Arfan.
"Oh," Arfan mengangguk. Sedikit lega. Ternyata bukan dari pacarnya . "Bagaimana kalau kita ke kan..." kalimatnya terhenti oleh deringan telepon. Kali ini ponselnya yang berdering.
__ADS_1
Arfan mengeluarkan ponsel dari dalam ransel. Telefon dari ibunya. Ibunya menyuruhnya mampir ke toko kue sepulang kuliah. Membeli beberapa kue kesukaan kakaknya.
Setelah sekian lama,kenapa sekarang kakak tiba tiba pulang?, Arfan membatin heran.
Chayra heran melihat Arfan yang tertegun. Wajahnya berubah muram. Ada apa dengannya? Tapi sudahlah, itu bukan urusannya!
Kemudian , kedua orang itu larut dalam pikiran masing masing sampai Dosen perpajakan 1 masuk ke dalam kelas .
Setelah sekitar 2 jam , mata kuliah perpajakan 1 akhirnya selesai. Chayra segera memasukan buku dan kotak pensilnya ke dalam ransel.
"Chayra," Arfan menoleh ke belakang. "Bisa minta nomor..." lagi lagi kalimat Arfan terhenti oleh deringan ponsel Chayra.
Chayra mengeluarkan ponsel. Dari Rhea. Rhea memberitahu kalau dia sudah menunggu di parkiran Gedung E.
"Maaf ya, aku pergi dulu," kata Chayra pada Arfan. "Aku di tunggu ibu tiriku," sambungnya sambil memakai ransel.
Arfan mengangguk. Melihat Chayra yang berlari tergesa gesa keluar kelas, nampaknya ibu tirinya sangat mengerikan.
Sampai di parkiran Gedung E, tanpa susah mencari, Chayra sudah menemukan mobil nya Rhea. Dia membuka pintu depan dan masuk ke dalamnya .
" CEO, Mbak Chayra pergi dengan mobil BMW kemaren," Reindra segera menelepon CEO Rakhan begitu mobil Rhea melintas di depannya.
" Ikuti," perintah CEO Rakhan kemudian mematikan telepon.
"Baik, CEO," Reindra mematikan telepon , lalu memasukannya ke dalam saku kemejanya. Kemudian dia menyalakan mesin motornya dan mengikuti mobil Rhea selama nyaris satu jam sebelum mobil itu masuk ke parkiran areal Gedung High World.
"Hah, kesini lagi? kalau tahu ke sini mending aku pergi sendiri , tidak perlu mengikuti dari belakang, gerutu Reindra.
Mana tadi sopirnya mengambil jalan yang sama seperti kemaren. Padahal sebenarnya dari Universitas Bumi Persada ke kantor ini hanya butuh waktu paling lama 30 menit saja , Reindra masih terus menggerutu dalam hati.
Sementara itu di luar gedung High World berhenti sebuah motor matic. Pengendaranya mengeluarkan ponsel.
"Bos, Nona Rhea masuk ke parkiran High World ," lapor pengendara itu.
"Tunggu di sana, aku akan ke sana," jawab Bos. Dia baru saja masuk ke dalam mobil yang menjemputnya di bandara. "Jangan sampai kamu di kenali," lanjutnya berpesan sebelum mematikan telepon.
"Baik, Bos," pengendara itupun mematikan sambungan telepon. Tanpa di suruh pun, dia tetap akan berada di sini. Dia tidak ingin melewatkan momen ini.
Pertemuan Bos dengan CEO Rakhan, jago tekhnologi versus ahli strategi. Diantara mereka, siapa yang akan menang?
__ADS_1