
"Bawa ke tempat biasa. Tanyai dia," perintah CEO Rakhan melalui sambungan telepon.
"Baik,CEO, " kata Taksa.
"Kabari aku jika ada perkembangan," kata CEO Rakhan lagi. Lalu dia memutuskan sambungan telepon.
Tempat biasa yang di maksud CEO Rakhan adalah sebuah gudang kosong di pinggir kota. Gudang itu tempat peleburan produk material perusahaan yang tidak terpakai.
Tidak berapa lama, Taksa menelepon. Dia memberitahu hasil interogasi. Dari pengakuan Ethan, ponsel itu di tinggalkannya di desa M, sekitar satu jam perjalanan dari Kota P.
"Berikan dia suntikan penghilang memori," perintah CEO Rakhan. Orang itu tidak akan mengingat semua kejadian hari ini. " Tinggalkan dia di depan Ruko itu," perintahnya lagi.
"Siap, CEO," sahut Taksa. Dia merasa lega, tugasnya hari ini ternyata berjalan begitu lancar.
"Setelah selesai, kamu balik kantor," kata CEO Rakhan kemudian mematikan sambungan telepon.
"Baik, CEO," jawab Taksa lemah. Duh, ketemu lagi dengan tumpukan dokumen itu. Alamat lembur.
CEO Rakhan mengerutkan kening. Dia merasa sedikit aneh. Orang itu terlalu mudah memberikan informasi. Bukan tipikal anak buah Eouin. Setahunya, anak buah Eouin punya loyalitas tinggi. Tidak mudah di gertak. Lebih memilih di bungkam dari pada memberikan informasi.
Mungkin ini perangkap dari Eouin, batin CEO Rakhan. Tapi jika itu bisa membuat aku menemukan Chayra, aku akan mengambil resiko itu, gumamnya lagi.
Sesuai instruksi CEO Rakhan, Ethan di tinggalkan di depan ruko kantornya. Kemudian, sebelum Ethan kembali sadar, Taksa dan beberapa pengawal yang ikut bersamanya langsung meninggalkan tempat.
"Kenapa Bos menyuruh aku ke kantor?" kata Ethan dalam hati. Dia membuka pintu kantor.
Tiba tiba ponselnya berdering. Ethan mengeluarkan ponsel dari kantong celananya.
"Hallo, Bos," Ethan mengangkat telepon.
"Apa ada orang yang menemui kamu?" tanya Eouin cepat.
"Tidak ada ,Bos," geleng Ethan.
Tidak ada? Eouin mengernyit heran. Lio mengatakan jika informasi tentang Ethan sudah di akses World Tech, dan dia yakin, Rakhan pasti akan segera bertindak. "Kamu yakin?" tanyanya memastikan.
"Iya ,Bos, dari rumah aku langsung ke sini, aku tidak bertemu siapa siapa," jawab Ethan.
__ADS_1
"Kamu dari rumah jam berapa?" tanya Eouin lagi. Berdasarkan informasi Lio, World Tech mengakses informasi tentang Ethan sekitar jam 10 pagi ini. Apa mungkin orangnya Rakhan belum datang?
"Begitu Bos telepon jam 10, aku langsung pergi, nih aku baru sampai kantor," jawab Ethan.
"Baru sampai kantor? Sekarang sudah jam 2 siang! Rumah kamu di mana? Sampai butuh 4 jam ke kantor?" sergah Eouin kesal.
" 30 menit ,Bos, tapi benar, aku langsung ke kantor," Ethan membela diri. " Eh, iya,sekarang sudah jam 2 siang," dia melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. " Dari rumah aku langsung ke kantor, tidak mampir ke mana mana, tapi kenapa aku baru sampai kantor jam 2 siang?" gumamnya heran.
Bagus, Orangnya Rakhan sudah datang! kata Eouin dalam hati. Tampaknya, Ethan sudah di hipnotis. Supaya lupa. "Kamu pulang saja, orangnya sudah datang," kata Eouin.
"Maksudnya apa ,Bos?" tanya Ethan heran. " Tidak ada siapapun di sini."
"Jangan banyak tanya, pulang!" hardik Eouin sambil menutup telepon.
Rakhan sudah mendapatkan informasi tentang lokasi lab ini dari Ethan, desis Eouin. Dia harus bersiap menunggu kedatangan Rakhan.
****
"Siapkan semuanya, kita akan ke desa M," kata CEO Rakhan begitu Taksa muncul di ruangannya .
"Kita, CEO?" ulang Taksa.
"Bukan begitu, CEO," Taksa buru buru membantah. Tapi ini misi berbahaya, langsung mendatangi kandang macan ,aku masih sayang nyawa, cicitnya dalam hati. " Anu, apa sebaiknya tidak mengajak beberapa pengawal juga?" sarannya.
"Tidak perlu," geleng CEO Rakhan. " Aku kenal Eouin, dia tidak akan gegabah," katanya lagi. "Kamu telepon Bik Inah di rumah, suruh dia mempersiapkan pakaianku kemudian suruh Pak Mawon mengambilnya ke rumah dan bawa ke kantor. Kita akan berangkat jam 5 sore ini," perintahnya lagi.
"Baik, CEO," angguk Taksa. Dia terpaksa setuju.
"Untuk pekerjaan , akan di handle Pak Baskara," kata CEO Rakhan. "Nanti aku yang akan telepon beliau," lanjutnya .
Baskara Sadana, adalah wakil CEO, sebenarnya CEO Rakhan agak malas menyerahkan pekerjaannya pada Baskara, karena beliau adalah mata mata yang di titipkan ayahnya. Tapi situasi ini sangat mendesak. CEO Rakhan terpaksa berdamai dulu.
"Baik, CEO," jawab Taksa. Pekerjaan CEO Rakhan akan di ambil alih Pak Baskara dan dia akan ikut CEO Rakhan ke Negara S. Seharusnya ini berita gembira. Tapi, jika ke Negara S harus mengantarkan nyawa, lebih baik dia yang menggantikan pekerjaan CEO Rakhan.
*****
Setelah berkelana entah berapa lama di angkasa, akhirnya Damon mendarat juga. Dia melepaskan pelukannya dari Chayra.
__ADS_1
"Sudah sampai, Putri," Kata Damon.
PFUIH ..Chayra menghela nafas lega. Akhirnya, sampai juga. Tapi sampai di mana? " Ini kita dimana Damon?" tanyanya.
Damon tidak menjawab. Mendadak, dia jatuh mencium tanah.
"Damon, kamu kenapa?" Chayra menggoyang goyangkan badan Damon dengan panik. Damon tidak bergerak. Tidak menyahut juga. Ada apa ini? Kenapa Damon?
Chayra melihat berkeliling. Tidak ada rumah sejauh dia memandang. Hanya hamparan pasir yang luas. Ya ,Tuhan! Ini dimana?
"Damon bangun, jangan menakuti aku," Chayra mulai sesungukan. Dia belum mau mati. "Damon..." dia menggoyang goyangkan kembali tubuh Damon. Robot itu tetap tak bergerak. Tubuh besinya lemas dalam pegangan tangan Chayra. Dia melihat sebuah rongga menembus punggung Damon hingga ke dada. Apa mungkin tembakan tentara tadi mengenai Damon?
"Damon ?" Isak Chayra lemas. Bagaimana ini, dia terdampar di sebuah tempat yang dia tidak tahu di mana.
Isak tangis Chayra terhenti ketika tiba tiba sebuah senapan Laras panjang di todongkan ke pelipisnya.
"Siapa?" Chayra menoleh. Dia melihat seraut wajah khas Melayu dengan sorot mata dingin. Seketika dia gemetar ketakutan. Anak buah tuan aneh itu kah?
"Ikut aku," kata laki laki itu dengan logat Melayu yang kental.
"Aku tidak..." Chayra berusaha membantah.
"Jika tidak..." laki laki itu menggerakkan pelatuk senapannya sebagai jawaban.
"Eh,,iya .." Chayra terpaksa menurut. Ya, Tuhan! Siapa lagi orang ini? tangisnya dalam hati.
******
Tepat jam 5 sore, CEO Rakhan bersama Taksa terbang menuju Negara S dengan jet pribadi miliknya. Sesampainya di Negara S, CEO Rakhan langsung menuju Desa M yang di sebutkan oleh Ethan. Sepertinya CEO Rakhan memang tidak ingin membuang waktu.
"Apa sebaiknya kita beristirahat dulu, CEO?" saran Taksa memberanikan diri . Sekarang sudah hampir jam 7 malam, menurut Google, membutuhkan waktu sekitar dua jam untuk sampai ke Desa M. Sudah terlalu malam untuk berkunjung, batinnya dalam hati. Dia juga sudah lelah. Butuh istirahat.
CEO Rakhan menoleh. Memandangi Taksa dengan tajam. "Kalau kamu mau istirahat, aku turunkan di depan!" katanya menunjuk jalan bebas hambatan yang membentang di depan mata.
"Saya ikut CEO saja," putus Taksa cepat dan bijak.
"Bagus," pungkas CEO Rakhan ringkas. Dia tidak bisa membuang waktu. Keselamatan Chayra taruhannya.
__ADS_1
Sementara itu di dalam Lab Eksperimen, Lio yang tengah berkutat di depan komputer, melihat gelombang elektromagnetik yang terpancar dari sebuah ponsel. Gelombang yang begitu kuat, bahkan virtual cape yang melindungi Desa M mampu di tembusnya. Siapa lagi pemiliknya kalau bukan CEO Rakhan. Dia segera mengabarkan kedatangan CEO Rakhan pada Eouin yang tengah beristirahat di privat room.
"Bagus," jawab Eouin senang. Ternyata Rakhan memang tidak membuang waktu. " Katakan pada Boris untuk menyiapkan gadis itu," perintahnya.