
" Maaf, CEO," Taksa menyusul berjalan di belakang . " Pak Jalled memaksa masuk," dia meminta maaf.
"Tidak apa," balas CEO Rakhan memaklumi.
Jalled Bryce adalah teman semasa kuliah CEO Rakhan di Massachusetts, Amerika Serikat. Bersama dengan Eouin Finn, mereka di kenal sebagai Trio lady killer. Banyak perempuan di kampus yang takluk oleh pesona mereka.
Eouin Finn, berdarah campuran Indonesia dan Inggris, mempunyai postur tubuh tegap dan berwajah sangar namun tampan.
Jalled Bryce, berasal dari Bali . Namun memiliki keturunan Australia dari kakek buyutnya. Meski DNA bule nya sudah berjarak beberapa generasi, tetap saja menyisakan wajah tampan memikat dengan rambut coklat keemasan dan bola mata berwarna abu.
Sedangkan CEO Rakhan, mewarisi darah Arab, Jawa dan Korea dari orangtuanya. kulitnya coklat mengkilat seperti Raden dari tanah Jawa , berwajah rupawan khas oppa Korea dan badannya tinggi tegap bagaikan pangeran Arab.
Layaknya rupa mereka yang berasal dari berbagai negara , sifat mereka juga bertolak belakang.
Eouin Finn, berwatak kasar, tidak sabaran dan dingin.
Jalled Bryce, suka bertingkah seenaknya, moody dan tidak suka bekerja keras.
CEO Rakhan, tipe perfeksionis dan easy going.
Mereka bersahabat sampai selesai kuliah. CEO Rakhan dan Eouin mengambil jalur fast track pada masa kuliah, sehingga mereka menamatkan kuliah S1 dan S2 nya dalam waktu 5 tahun sementara Jalled menyelesaikan kuliah S1 nya dua tahun lebih lama di banding CEO Rakhan dan Eouin.
Fast track adalah program akselerasi di perguruan tinggi.
Selesai kuliah S2, CEO Rakhan dan Eouin membangun bisnis teknologi bersama di Jakarta Sedangkan Jalled lebih memilih pulang kampung ke Bali. Dia akan bekerja di perusahaan keluarga di sana.
"Bagaimanapun kabar Lo?" Jalled duduk di kursi di hadapan CEO.
"Baik," jawab CEO Rakhan.
"Gue tadi ke rumah Lo, kata pembantu,elo ada di kantor," kata Jalled lebih lanjut.
" Banyak kerjaan," sahut CEO Rakhan pendek. "Kamu minta ke dokter di bawah, obat untuk bengkak di bibir," dia beralih pada Taksa. "Kalau sudah ada,antarkan ke mari," perintahnya.
Di lantai bawah gedung High World, terdapat klinik 24 jam yang di peruntukan buat karyawan World Tech.
Bengkak di bibir? hati Taksa bertanya tanya. Untuk siapa? Bibirnya CEO Rakhan tidak tampak bengkak. Namun, tentu saja dia tidak berani bertanya. " Baik, CEO," kata Taksa . Kemudian dia pergi meninggalkan ruangan.
Bengkak bibir? Jalled mengerutkan dahi. " Siapa yang bengkak bibir?" tanyanya ingin tahu . "Apa dia?" matanya mengarah pada Chayra yang sedari tadi berdiri dengan menundukkan muka.
__ADS_1
"Bukan urusan Lo, " sungut CEO Rakhan. " Mau apa ke sini?"tukasnya.
"kasar sekali," Jalled menggelengkan kepala. "Kita itu sudah hampir dua tahun tidak bertemu, ga rindu sama gue?"
"Engga," tandas CEO Rakhan. " Ada urusan apa kesini? Gue sibuk."
"Gue baca berita di internet, ramai berita tentang Didi Riyadi, apa itu anak buahnya Eouin?" tanya Jalled ingin tahu.
CEO Rakhan mengangguk.
"Apa menurut Lo, dia pelakunya?" tanya Jalled lagi.
"Mungkin," CEO Rakhan mengangkat bahu. "Kalau cuma mau membicarakan hal itu kenapa tidak lewat telepon saja?" sungutnya sewot. Menganggu saja ini orang, batinnya kesal.
"Baiklah," Jalled menarik nafas. " Bisnis keluarga gue bangkrut. Gue ke sini mau minta kerja . Siapa tahu elo bisa bantu," katanya langsung pada tujuan.
CEO Rakhan diam sesaat. Memberi kerja buat Jalled? Dia bukan orang yang kompeten. Bersama selama 5 tahun, sudah cukup membuat CEO Rakhan paham bagaimana sifat Jalled.
" Gue sudah punya sekretaris, asisten pribadi ,3 wakil CEO, nah Lo mau di taruh di bagian mana?" kata CEO Rakhan menjawab.
"Jadi Lo ga bisa nolongin gue?" Jalled memastikan.
"Iya," CEO Rakhan mengangguk tegas.
Suara Jalled terhenti oleh bunyi ketukan di pintu. Taksa masuk setelah terdengar suara CEO Rakhan menyuruh masuk.
"Ini dari Dokter Prita, CEO," kata Taksa sembari meletakan sebungkus kantong plastik di atas meja CEO Rakhan. Bungkusan itu berisi ice bag yang merupakan bantal kompresan yang sudah di isi es batu potongan dan sebuah gel Aloe Vera.
" Kata Dokter Prita, bibirnya di kompres dengan ice bag ini lalu di olesi gel Aloe Vera ini , CEO," sambungnya memberitahu.
"Ya sudah, kamu boleh pergi," sahut CEO Rakhan.
"Baik, CEO," Taksa mengangguk.
Setelah Taksa pergi, CEO Rakhan berdiri dari kursinya. Dia membawa bungkusan obat itu di tangannya lalu berjalan mendekati Chayra yang masih menundukkan wajah.
" lakukan di kamar mandi," bisik CEO Rakhan pada Chayra. Dia memberikan bungkusan itu ke tangan Chayra.
"Iya," angguk Chayra. Dia berbalik badan,menuju kamar mandi.
__ADS_1
Jalled memperhatikan dengan teliti. Belum pernah dia melihat Rakhan begitu perhatian. Bahkan tidak juga pada Blossom.
"Pacar Lo?" tanya nya begitu Chayra menghilang dalam kamar mandi. " Pacar Lo," katanya yakin setelah melihat CEO Rakhan diam saja.
"Kalau mau bahas itu, mending Lo pulang. Gue sibuk, lagi banyak kerjaan," usir CEO Rakhan.
"Ngambek," gelak Jalled. "Kalau di perusahaan Lo ga ada, di perusahaan teman Lo ada ga? Atau perusahaan bokap Lo ga apa apa juga," sambungnya lagi.
Ini lagi, rutuk CEO Rakhan dalam hati. Dia saja malas memperkerjakan Jalled. Tidak mungkin dia merekomendasikannya pada orang lain. kelak di mana di taruh reputasinya?
Sementara di kamar mandi , Chayra menempelkan ice bag ke permukaan bibirnya. Bibirnya benar benar bengkak, bak di sengat tawon. Lihat saja, besok aku akan membalasnya. Aku gantian akan membuat bibir CEO Rakhan bengkak, tekadnya dalam hati.
Selesai mengompres bibir dengan ice bag, Chayra mengoleskan gel Aloe Vera dengan rata pada bibirnya. Semoga pulang nanti, bibirku sudah tidak bengkak lagi, harapnya.
"Masih lama?" pintu kamar mandi terbuka.
Chayra seketika menoleh. Wajah CEO Rakhan muncul di depan pintu. "Sudah," dia memasukkan kembali ice bag dan gel Aloe Vera ke dalam bungkusan.
"Pesan makanan sayang, sebentar lagi jam makan siang," suruh CEO Rakhan dengan nada mesra.
Sayang? Chayra berkata dalam hati. Apa dia salah dengar? "Sayang? CEO memanggil saya, sayang?" dia ingin meyakinkan pendengarannya.
" Sayang," CEO Rakhan berbisik di telinga nya.
Chayra mundur beberapa langkah. "Apa ini masih sesi pelatihan menjadi pacar profesional?" dia ingin memastikan. Sikap CEO Rakhan yang mesra begini membuat dia rikuh.
"Menurutmu?" CEO Rakhan balas bertanya. Matanya tajam menatap mata Chayra.
"Saya mau memesan makanan dulu," Chayra mengalihkan pembicaraan. "Permisi," dia melewati CEO Rakhan yang berdiri di depan pintu.
Sementara itu dalam lift menuju lantai dasar, Jalled memikirkan lagi percakapan dia dengan Rakhan. Temannya itu menawarkan memberinya modal untuk memulai usaha. Bagaimana mungkin, dia yang seorang anak konglomerat harus memulai bisnis dari bawah? Di mana semua teman teman nya sudah memiliki perusahaan besar?
Dia langsung menolak tawaran itu tanpa pikir panjang. Tapi dalam lift ini, perasaan menyesal tiba tiba muncul. Mungkin sebaiknya dia menerima tawaran itu. Soal bisnis apa yang akan di jalani urusan nanti.
lift terbuka di lantai dasar. Jalled tetap berada di dalamnya. Dia memencet tombol angka 9, menuju ke ruangan CEO.
Di lantai 9, lift terbuka. Jalled bergegas keluar. Dia harus segera mengiyakan tawaran Rakhan, sebelum temannya itu berubah pikiran.
"Gue berubah..." Jalled membuka pintu ruangan CEO dengan gerakan cepat.
__ADS_1
CEO Rakhan dan Chayra serempak berpalingke arah pintu.
Jalled terkesiap. Chayra Minara? desisnya pelan. " Aku memegang kartu truf Rakhan," batinnya. senyum culas menghiasi bibirnya.