CEO Melankolis

CEO Melankolis
bab 113: I don't want to marry with her!


__ADS_3

"Kalian pergilah," perintah Rakhan pada para satpam yang tertunduk di depan pintu.


"Baik, CEO," jawab mereka serempak lalu bergegas pergi. Dalam hati mereka merasa bersyukur karena tidak terkena amukan CEO Rakhan.


"Dasar jal*ng!" Mama Rhea menghampiri Chayra yang masih terpaku di tangga pertama rumah Rakhan. Beliau mengayunkan tangan hendak memberikan sebuah tamparan.


Grep! Tangan Rakhan dengan cepat menangkap tangan mama Rhea. " Apa yang Tante lakukan?" tukasnya tak suka.


"Sayang," tegur Papa Rhea begitu beliau terlepas dari rasa kagetnya. Beliau tidak menyangka, istrinya dengan berani hendak menampar Chayra.


"Tante tidak suka dengan perempuan ini," tunjuk mama Rhea marah.


" Tidak tahu di untung, jika tidak Rhea yang memungutnya di halte bis entah bagaimana nasibnya sekarang," lanjut beliau dengan intonasi makin tinggi.


"Chayra tidak bersalah," tegas Rakhan. " Akulah yang meminta dia untuk ke sini," belanya.


Wah, gawat ini, dahi Rhea berkerut. Aku harus segera mengambil tempat dalam sandiwara ini, batinnya.


"Mama, papa," teriak Rhea di sertai suara sesungukkan. Dia berlari ke arah orang tuanya yang masih berdiri terpaku tak jauh dari tangga.


"Rhea, apa yang terjadi padamu?" kata mama kaget. Apa Rhea sudah menggunakan bubuk kristal putih itu pada Rakhan?


"Kamu kenapa?" sambar papa Rhea. Wajah beliau kaku karena shock. Dari dua kancing bagian atas yang terbuka, beliau bisa melihat bekas bekas ciuman yang sangat ganas.


"Whoa..." Rhea menangis makin kencang.


Huh, calon peraih piala Oscar , desis Chayra pelan.


"Syukurlah kamu tahu," senyum Rakhan mendengar suara pelan yang keluar dari bibir Chayra.


"Tapi tetap tidak bisa memaafkan kamu," balas Chayra kesal. Dia mendelik marah.


"Kamu cemburu?" tanya Rakhan senang.


"Cemburu kepalamu!" desis Chayra kesal. Jika tidak ada papa dan mama Rhea di sini, dia pasti sudah memukul Rakhan dengan heels 9 cm yang tengah di pakainya.

__ADS_1


Dua orang itu! batin mama penuh emosi. Masih sempat mereka saling menggumam mesra.


"Apa masih perlu bertanya?" tukas Mama Rhea cepat. " Tentu saja itu semua perbuatan Rakhan!" sambung beliau sambil mengacungkan telunjuk ke arah Rakhan .


"Memang aku," jawab Rakhan membenarkan.


"Kalau begitu kamu harus tanggung jawab," timpal Papa Rhea cepat. " Rhea bukan gadis yang bisa kamu acak acak seenaknya," sambung beliau tegas.


"Seharusnya Om tanya dulu sama anak om untuk apa dia ke sini? Apakah pantas seorang gadis ke rumah seorang pria lajang di malam hari? " balas Rakhan.


" Kecuali Chayra tentu saja," lanjutnya buru buru. Dia meraih pinggang Chayra dengan sikap mesra.


"Aku memang ke sini tanpa di suruh CEO Rakhan," balas Rhea buru buru. Dia menghapus air mata yang menggenang di pelupuk mata.


"Aku ke sini karena ada yang mau aku bicarakan, tapi saat aku melihat CEO pulang kerja dan terlihat lelah, aku menawarkan diri untuk membantunya berjalan tapi kemudian... huhuhu..." dia tidak melanjutkan pembicaraan karena sudah terisak lagi.


"Kamu harus tanggung jawab," timpal Papa Rhea marah. " Kamu harus segera menikahi Rhea," putus beliau cepat.


"I don't to marry with her ( aku tidak ingin menikah dengan dia)!" tegas Rakhan. Dia semakin mempererat rangkulan tangannya di pinggang Chayra.


Aduh, keluh Chayra dalam hati. Rakhan menempatkan dia dalam situasi sulit. Dia mengeliatkan pinggang, berusaha melepaskan diri. Namun Rakhan semakin mempererat rangkulan tangannya.


"Sayang," imbuh Papa Rhea memberi isyarat istrinya untuk diam.


"Apa begini perilaku CEO Rakhan yang terkenal sopan?" kata Papa Rhea sinis. " Seenaknya mengacak acak anak gadis orang tapi tidak mau bertanggung jawab?" Sindir beliau.


"Meski kamu memiliki bakat bisnis yang besar tapi dalam bisnis juga di butuhkan attitude ( perilaku) yang baik," sambung beliau mengingatkan. " Jika tidak, bisnis kamu akan hancur dalam sekejap!"


"Om jangan berprasangka jelek dulu," tutur Rakhan tenang. " Aku bukannya ingin lari dari tanggung jawab, tapi aku harus memastikan sesuatu lebih dulu sebelum memutuskan menikahi Rhea," sambungnya.


" Maksud kamu apa?" tukas Mama. Apa Rakhan mencurigai sesuatu? batin beliau. Tapi kata Efron, bubuk kristal putih itu tidak akan menimbulkan jejak.


Waduh, Rhea meringis dalam hati. Apa Rakhan curiga padanya?


"Apa yang ingin kamu buktikan?" tanya papa Rhea heran. " Sudah jelas jelas kamu pelakunya, mau berkelit apa lagi?"

__ADS_1


"Bukannya CEO tiba tiba meraih aku dan berkata Chayra? Aku berusaha melawan tapi tenaga CEO begitu kuat," desis Rhea.


"Ya betul," angguk Rakhan. " Tiba tiba saja aku melihat kamu seperti Chayra, aku tidak mabuk karena aku tidak minum alkohol, aku curiga kamu melakukan sesuatu padaku," lanjutnya curiga.


"Jangan mengada Ngada," tukas Mama Rhea kesal. " Apa kamu menuduh Rhea ? " sambung beliau marah.


"Baik, aku beri waktu kamu dua hari untuk membuktikan tuduhanmu itu. Tapi jika Rhea tidak terbukti melakukan sesuatu pada kamu, kamu harus menikahi Rhea!" putus Papa Rhea menengahi.


"Papa!" teriak Mama Rhea sewot. Kenapa bisa Farras setuju dengan ide Rakhan? Meski Efron mengatakan bubuk kristal itu tidak menimbulkan jejak ,tapi tetap saja beliau merasa was was.


"Pa?" Rhea merengek. " Apa papa percaya aku sejelek itu?"


"Diam!" tukas papa Rhea menahan marah. Beliau tidak tahu mesti marah pada siapa. Pada Rakhan yang telah mengacak acak anak kesayangannya atau pada anak kesayangannya yang tengah malam masuk ke rumah seorang laki laki?


"Sudah," kata mama Rhea menengahi. Akan bahaya jika Rakhan bisa menemukan sisa serbuk kristal putih itu. Aku harus menyingkirkan sisa serbuk itu, tapi di mana Rhea menempelkan bubuk kristal putih itu? beliau membatin.


"Baik ,Om, dalam waktu dua hari aku akan mendapatkan bukti itu," jawab Rakhan tegas. Aku akan mendapatkan bukti itu. Tak akan aku biarkan Rhea mendapatkan keinginannya.


"Dua hari," ulang papa Rhea menegaskan. " Lewat dua hari, kamu akan menjadi suami Rhea!"


"Tapi jika aku bisa menemukan bukti itu, aku bebas menikahi gadis yang aku cintai," timpal Rakhan.


"Deal," Papa Rhea mengulurkan tangan.


"Deal," Rakhan menjabat tangan papa Rhea. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, tekadnya dalam hati.


"Aku tidak akan mengizinkan kamu menikahi Chayra," suara tegas berwibawa terdengar seiring langkah kaki masuk ke dalam ruang tamu.


"Maaf ,CEO, kami tidak bisa menahan beliau," kata beberapa satpam yang mengiringi di belakang.


Hah, sial! Geram Rakhan dalam hati. Satpam ini akan aku pecat, tidak becus, batinnya lagi. Namun, dia tidak ingin mengumbar kemarahan di depan orang orang yang lebih tua dari nya. Terlebih lagi di depan Chayra. Dia tidak mau Chayra takut melihatnya.


"Ya, sudah tidak apa apa. Kalian kembali berjaga di depan," jawab Rakhan dengan tatapan suram.


"Baik, CEO, terimakasih," sahut para satpam dengan perasaan lega. Tanpa membuang waktu mereka berlari meninggalkan ruang tamu.

__ADS_1


*****


Maaf ya readers, otor telat up. di karenakan anak otor sedang ujian🙏


__ADS_2