CEO Melankolis

CEO Melankolis
Bab 134: Kekuatan Damon


__ADS_3

Ketukan pintu berhenti.


Chayra dan Arfan melihat ke arah pintu. Mereka melihat lobang pintu bergerak pelan. Sepertinya Damon mencoba membuka lobang pintu dari luar.


"Ayo cepat," bisik Arfan sambil membuka kunci jendela.


Chayra mengangguk. Dia mengikuti Arfan yang sudah duluan keluar.


Tak sampai semenit mereka sudah berada di luar jendela ,seiring dengan terbukanya pintu kamar Chayra.


Damn! teriak Damon begitu dia melihat kamar dalan keadaan kosong dan pintu jendela terbuka.


****


"Aku memang papamu. Papa kandung kamu!" tegas Efron.


"Apa kamu melakukannya di malam itu? Ketika aku fashion show di Paris?" tanya mama Rhea ingin tahu.


"Ya," angguk Efron dengan suara kuat. " Aku benci ketika mengetahui kamu sudah menikah. Aku mengikuti kamu sampai ke Paris. Dan di malam itu, aku meminta salah seorang staf untuk memberikan pil tidur pada kamu," beber nya.


"Damn! I hate you ( aku benci kamu!)" teriak Mama Rhea sembari berdiri dari kursi. Dia mendekati Efron lalu memukuli laki laki itu secara membabi buta.


"Mama..." lirih Rhea. Dia belum pernah melihat mama nya seemosional itu.


"Cukup," kata Efron sambil menahan tangan Mama Rhea yang sibuk memukulnya.


"Jika aku tidak melakukan nya malam itu, apa kamu akan mendapatkan anak yang begitu cantik seperti Rhea?" lanjutnya mengingatkan.


"Kamu kurang ajar, kamu...." suara mama terbata bata. Beliau masih ingin melampiaskan semua kekesalannya.


Namun begitu beliau sadar masih ada Rhea di sebelahnya, beliau terpaksa memendam semua kemarahannya.


Semua ini gara gara Efron sialan ini! Berani sekali dia mengaitkan kejadian brutal dua puluh dua tahun yang lalu itu dengan kehadiran Rhea dalam hidupnya.


Memang, jika tidak ada kejadian malam itu, Rhea memang tidak akan lahir tapi itu tidak bisa sebagai alasan untuk membenarkan semua perbuatan keji laki laki sampah ini, geram beliau dalam hati.


"Sekarang...sekarang apa mau kamu?" kata beliau sambil duduk kembali di kursinya.


"Tunggu sebentar lagi, kamu akan tahu," sahut Efron dengan senyum misterius.


****


"Mobil aku di sana," tunjuk Arfan ke sebuah mobil sedan yang di parkir di depan motel.


"Bagaimana dengan pembayaran motel?" tanya Chayra sambil terus berlari mengikuti Arfan.


"Aku sudah membayarnya tadi. Nanti pegawai bagian resepsionis aku telepon untuk memberitahu kamu sudah keluar hari ini," jawab Arfan menjelaskan.

__ADS_1


"Terimakasih," sahut Chayra. Dia mempercepat larinya karena mendengar ada langkah kaki berlari mengejarnya.


"Ada yang mengejar kita," ucap Arfan yang juga mendengar langkah kaki itu. " Itu pasti Damon," sambungnya yakin.


"Ayo, " lanjutnya sambil meraih tangan Chayra.


"Iya," angguk Chayra.


Tak berapa lama kemudian mereka sudah sampai di tempat mobil Arfan di parkir. Mereka segera masuk ke dalamnya. Saat Arfan hendak menyalakan mesin mobil, sebuah ketukan keras di jendela bagian pengemudi mengagetkan mereka.


Arfan dan Chayra serempak menoleh ke samping. Mereka melihat Damon berdiri di luar dengan wajah marah.


"Turun!" perintah Damon.


Arfan tidak menjawab. Dia menyalakan mesin mobilnya.


"Pegangan ,Ra, aku akan menjalankan mobil dengan kecepatan penuh," katanya pada Chayra.


"Iya," angguk Chayra sambil berpegangan pada kedua isi jok yang di duduki.


Brum...Brum....


Arfan menekan pedal gas dalam dalam agar mobilnya bisa melaju sekencang mungkin. Namun, entah kenapa mobilnya tidak bergerak. Seperti ada yang menahan mobilnya untuk tetap diam.


"Percuma saja!" teriak Damon dari luar. "Lo ga akan bisa pergi dari sini!"


"Tenang saja, Ra, kita pasti bisa pergi dari sini," balas Arfan yakin. Dia menekan pedal gas sekuat tenaga.


Namun mobilnya bukannya melaju ke depan, yang ada malah terangkat ke atas.


"Kenapa ini,Ar?" tanya Chayra panik. Tangannya makin erat memegang kedua sisi pinggiran jok.


"Aku tidak tahu," timpal Arfan heran. Dia berpegang erat pada stir mobil.


Mobil itu makin lama makin terangkat ke atas lalu kemudian di putar ke bawah dan di banting ke atas aspal.


Chayra dan Arfan beradu teriakan di dalam mobil.


Ini sangat mengerikan, batin Chayra ketakutan. Bahkan lebih mengerikan dari pada naik jet coaster.


Argh .... wajah Arfan pucat pasi. Bahkan lebih pucat dari pada sehelai kertas putih.


"Arfan kamu tidak apa apa?" bisik Chayra lirih karena tidak mendengar lagi teriakan Arfan.


"Arfan?" bisiknya tambah kuatir. Dia melihat kedua tangan Arfan tak lagi menggenggam setir mobil. Kedua tangannya terkulai jatuh di kedua sisinya.


"Arfan!" ujarnya berteriak sambil menggoyang-goyangkan tangan Arfan. Namun Arfan tak bereaksi.

__ADS_1


Apa Arfan meninggal? batinnya takut.


Bragh, mendadak mobil yang jatuh terbalik di aspal di angkat dan di letakkan kembali dengan posisi yang benar. Belum lepas dari perasaan kaget, pintu mobil Chayra di buka dari luar.


Chayra segera menoleh dengan perasaan takut. Siapa itu?


"Putri," sapa Damon dengan sebelah tangan masih memegang daun pintu. " Putri tidak apa apa?"


Fyuih, Chayra menarik nafas lega. Tentu saja ini semua Damon yang sanggup melakukannya.


"Iya," angguk nya. "Kamu sudah sembuh?" tanyanya.


"Sudah," jawab Damon. " Keluar dari mobil Putri," katanya.


"Tapi aku tidak ingin pergi dengan orang itu," tunjuk Chayra pada Damon Alterio yang berdiri di belakang robot humanoid itu.


"Percaya pada ku," ujar Damon. Sebuah senyum terukir di wajah nya.


"Baiklah," kata Chayra sambil keluar dari mobil. " Aku tak ingin ikut dengan kamu!" katanya sebal pada Damon.


"Kenapa?" tanya Damon.


"Perbuatan kamu itu sudah membuat teman ku tak bergerak. Entah dia masih hidup atau tidak," tukas Chayra.


"Dia masih hidup," timpal Damon sambil menunjuk dada Arfan. " Dia masih bernafas. Hanya pingsan," urainya. " Laki laki lemah seperti itu tidak pantas untuk kamu!"


"Aku lebih memilih dia di banding kamu," balas Chayra sengit. " Minggir, aku mau pergi," usir nya.


"Kamu tidak bisa pergi dari ku," kata Damon sambil menahan tangan Chayra. " Kamu adalah calon istri aku. "


"Aku tidak mau," sahut Chayra sambil mengibas ngibaskan tangannya yang masih di pegang Damon. " Lepas!"


"Tidak akan," jawab Damon tegas. Dia meraih kedua tangan Chayra , kemudian mengangkat tubuh Chayra dan menggendongnya.


"Lepas!" teriak Chayra.


"Lepaskan putri!" sentak Damon, si robot. Dia menghadang Damon.


"Minggir!" kata Damon sambil menendang Damon si robot.


Argh ..Damon si robot terpental.


Hah ? Chayra terperangah tak percaya. Damon yang sanggup mengangkat mobil terpental jatuh di tendang Damon si manusia?


Damon berusaha berdiri , tapi tak sanggup. Dia merasa lemah.


"Kamu tak akan sanggup melawan aku. Tenaga kamu sudah aku setting, kekuatan maksimal hanya bisa bertahan paling lama satu jam. Dan kekuatan itu tak akan mempan pada aku!" terang Damon sinis.

__ADS_1


Oh, My GoD! Chayra meringis.


__ADS_2